Nares berhenti berlari setelah puas memulas wajah polos Rora dengan pasir yang basah kena air laut. Ditinggalkannya Rora yang sibuk membersihkan wajahnya sementara ia berjalan menuju warung dan duduk di sebelah Tria.
“Ra! Mau, nggak?”
Rora yang jadinya asyik sendiri bermain pasir, menoleh. Ia tahu, Nares masih sangat peduli padanya dan sangat ingin Rora duduk bersamanya di warung. Tetapi Rora masih sungkan pada Tria. Dalam kepalanya berkelebat suasana di dapur ketika ia mendapati Tria di sana.
“Kamu belum makan siang, loh.” Nares kembali memanggil.
Ragu-ragu Rora berdiri seraya menatap hamparan pasir yang menampilkan gambar layangan yang ia buat. Air laut datang perlahan, menghapus gambar itu.
Rora terdiam. Menyadari bahwa sesuatu yang susah payah ia bangun bisa hilang dalam sekejap membuatnya akhirnya meninggalkan tempat itu. Ia melangkah perlahan mendekati warung. Kepalanya menunduk. Jari-jari tangannya bertaut di depan pahanya.
Begitu tiba di warung, ia langsung duduk di sebelah Nares. Kepalanya mendongak, tetapi matanya mengarah ke laut yang bergemuruh.
“Hai!” sapa Tria dari samping Nares.
Rora menoleh malu-malu, menyunggingkan bibirnya sedikit untuk menanggapi wajah Tria yang ramah. Ia tidak lagi takut perempuan itu merebut Nares darinya. Rora hanya sedang beradaptasi. Beralih dari rasa tidak nyaman menuju kerelaan untuk menerima.
Nares memesan dua gelas es degan, bercakap-cakap dengan Tria tentang rencana menyusun laporan riset mereka sambil mengunyah sate kerang.
“Sistematika penulisannya sama kayak makalah, ya?”
Nares mengangguk. “Iya. Nggak usah panjang-panjang. Kata Pak Farhan sepuluh halaman juga cukup.”
“Itu udah semua? Dari bab satu sampai kesimpulan?”
“Iya. Kelihatan simpel, ya. Padahal aku sampai kayak orang gila mikirin penelitian ini.”
Rora diam saja, menyimak pembicaraan kakaknya dengan Tria. Ia tahu mereka sedang meneliti pakan dan hasil ternak. Tetapi ia tidak paham detailnya. Namun hal itu memantik keinginannya untuk kuliah dengan baik seperti kakaknya.
Sambil pura-pura berpaling dari Tria, Rora mengamati perempuan itu diam-diam. Penampilannya, gaya bicaranya, bahasanya… semuanya biasa saja. Tapi kebersahajaan itu membuat Tria tampak menarik. Rora mungkin belum tahu, hatinya yang mulai terbukalah yang membuat Tria masuk tanpa ia sadari.
Ibu warung memberikan dua gelas degan pesanan Nares dan Rora. Mereka berdua kompak mengaduknya, menciptakan irama dari benturan es batu dengan dinding gelas.
“Kok, kayak musik, ya?” komentar Tria sambil menyimak suara dentingan itu. “Kompak banget.”
Nares berhenti mengaduk. “Kompak apaan? Kita berdua juga sering berantem, kok.”
“Oh, ya?” Tria melongo. “Siapa yang biasanya bikin perkara duluan? Pasti kakakmu, ya, Ra?”
Rora yang sedang menyedot air degan melepaskan sedotannya. “Iya,” jawabnya sambil melirik Nares dengan senyum usil.
Hati Rora belum sepenuhnya sejuk, bahkan setelah meminum es kelapa muda. Rasa panas itu masih membekas, tetapi kini terasa lebih ringan. Seperti balon udara yang perlahan terangkat setelah dipenuhi udara hangat.
Nares pura-pura tidak terima. “Apaan? Kamunya aja yang gampang tersinggung,” tuduhnya pada Rora.
Remaja itu meninju lengan Nares hingga kakaknya oleng.
Tria tertawa renyah.
Minuman Tria sudah habis duluan. Disusul Nares. Rora belakangan karena sambil makan sate kerang lama-lama.
Dan saat ini, meski Nares tampak lebih asyik berbicara dengan Tria daripada dengannya, Rora tidak merasa tersisihkan. Sebaliknya, ia merasa aman dan nyaman bersama mereka—perasaan yang dulu tak pernah benar-benar ia rasakan bersama Niko.
“Kenapa, ya, pantai itu rata-rata indah?” tanya Tria saat memandang hamparan pasir kelabu. “Saking indahnya, ombak sampai berlomba-lomba mendekati.”
Nares langsung nyengir. “Ciye… puitis banget. Biasanya juga ngomong blak-blakan.”
Tangan Tria juga spontan memukul lengan Nares.