Benang yang Tak Putus

Rie Yanti
Chapter #24

Memungut Layangan Jatuh

Langit mulai redup. Di pantai, orang-orang mulai pulang satu per satu. Festival layangan telah berakhir dan panitia sedang membersihkan pantai.

“Kamu nggak cari layanganmu dulu?” tanya Nares ketika mereka bertiga memutuskan untuk pulang.

Rora menoleh ke arah layangannya jatuh tadi. “Biarin ajalah. Aku pengin cepat pulang.”

Namun, panitia yang tadi membantu Rora menerbangkan layangan, datang menghampiri dan membawa layangan kupu-kupu milik Rora. Gadis itu sempat tertegun. Menimbang-nimbang, haruskah ia membawa layangan naas itu pulang?

Nares menyikutnya. “Ambil!”

Ragu-ragu Rora menerima layangan itu. Seolah menerima sesuatu yang sudah ia relakan pergi. “Makasih, Mas.”

Panitia itu mengangguk lalu pergi.

Rora menatap layangan di tangannya. Wujudnya kalah menarik dengan layangan peserta lain. Seperti tidak niat dibuat. Ditambah, layangan itu robek cukup lebar. Tertarik sedikit saja bisa membuatnya menganga cukup besar. Namun bukan itu yang membuatnya pilu.

Gadis itu merasa, ia seperti baru keluar dari jurang—naiknya lebih sulit daripada jatuhnya. Bukan hanya karena ia harus menghadapi dindingnya yang terjal, tetapi juga karena ia tidak tahu apa yang akan ditemuinya di atas tebing. Orang-orangnya mungkin sama, tetapi mereka sudah berubah.

Rora merasa, ia bukan lagi orang yang sama seperti dulu. Ada luka yang menggores kulitnya. Seampuh apapun obat yang ia oleskan di atas luka itu, bekas sakitnya masih akan terasa.

Tria meminta layangan tersebut. “Kamu bikin sendiri?”

“Dibantu temen,” jawab Rora dengan suara pelan, seolah enggan mengatakannya.

“Tapi bagus, kok. Komposisi warnanya cakep.” Tria memperhatikan layangan itu. “Suka kupu-kupu, ya?”

Rora mengangguk dan membiarkan Tria menimang-nimang layangannya sampai dikembalikan padanya.

“Udah sore, Mas,” katanya pada Nares. Langit memang sudah meredup dan ia ingin sekali melupakan festival layangan hari ini.

“Pulang, yuk.”

Rora mengangguk.

“Tri, kamu mau kuantar pulang atau…”

“Aku naik ojol aja, Res.” Tria menjawab cepat.

“Tapi pasti susah, loh. Banyak saingan.” Nares mengedarkan pandangan ke sekeliling. Masih banyak orang di gerbang pantai. Seperti sedang menunggu ojol atau taksi online yang mereka pesan. Atau menunggu matahari terbenam.

“Nggak apa-apa. Aku bisa nunggu sambil bikin draft laporan.”

Nares ragu. “Emang bisa mikir di tempat kayak gini? Rame, loh.”

“Tinggal pakai headset, kan, bisa,” ujarnya dengan tenang seraya mengeluarkan headset dari dalam tas, lantas mencolokkannya ke ponsel. “Lagipula, mau foto-foto sunset dulu. Kalian yakin nggak mau lihat pemandangan yang bagus?”

Lihat selengkapnya