Benang yang Tak Putus

Rie Yanti
Chapter #25

Langit yang Lapang

 Kemarin agaknya jadi hari terakhir musim kemarau di Desa Wufi. Sebab pagi ini, mendung menggelayut. Awan mungkin masih ragu, harus menurunkan hujan saat ini atau tidak, juga harus menentukan lokasi di mana ia harus menjatuhkan hujannya. Tidak ada satu pun manusia yang tahu, bahwa untuk menurunkan hujan, awan punya banyak pertimbangan.

Rora merasakan hawa sejuk saat masuk ruang makan. Padahal Asti baru saja memasak. Kompornya masih hangat dan bau masakan di meja makan menusuk hidungnya.

Rora membaui aroma mi rebus komplit dengan telur rebus setengah matang kesukaannya, beberapa butir bakso kecil, irisan sawi dan taburan bawang goreng. Bukan aroma mi instan. Cuma perpaduan bawang putih, merica, dan garam, serta beberapa iris cabai rawit. Namun aroma itu begitu menggugah seleranya. Dengan cekatan Rora menyendok mi beserta kuah dan bahan pelengkap lainnya. Lidahnya seakan sudah kebal dengan panas. Terbukti, dalam hitungan kurang dari lima menit, mi rebus di mangkoknya sudah tandas.

“Masih ada lagi, nggak, Ma?” tanya Rora.

Bersamaan dengan itu, Nares masuk ruang makan dan melohok saat mendapati mangkok Rora sudah kosong. Minta tambah pula.

“Tadi porsimu sama kayak porsiku?”

Rora mengangguk dengan kuah mi masih menetes di dagunya.

Kakaknya itu geleng-geleng. Bener-bener, nih, bocah. Kalau mood-nya lagi beres, nafsu makannya kayak orang kesurupan.

Asti menyodorkan semangkok mi lagi buat Rora. “Tapi nggak pakai telor,” katanya, memberi catatan.

“Nggak apa-apa,” kata Rora sambil menatap minya. “Yang penting mi dan kuahnya.”

“Hei, makan tuh pakai protein. Bukan cuma karbo,” tegur Nares. “Itu bisa ngaruh ke sikap kamu, loh.”

Rora kembali menyuapkan mi. “Halah! Nggak perlu,” katanya dengan mulut penuh makanan. “Apa gunanya makanan bernutrisi kalau nggak bikin happy? Yang penting happy dulu.”

Nares menelan ludah. Ia tidak meneruskan ceramahnya. Percuma.

Dua mangkok mi sudah masuk perut Rora. Pagi-pagi perutnya sudah buncit. Setelah minum secangkir teh manis hangat, ia ke kamar mandi.

Rora menekan pompa botol sabun cair dengan lembut. Tekanan sehalus itu saja sudah membuat sabun cair keluar cukup banyak ke atas shower puff basah. Gadis itu meremas dan menekannya hingga buih melampaui shower puff itu sendiri.

Dengan buih itu, berulang-ulang Rora menggosok setiap bagian dan lekuk tubuhnya. Kuat sekali. Ini adalah mandi kedua Rora setelah pulang dari festival layangan kemarin. Petang itu, setelah sampai rumah, Rora mandi cukup lama. Ia merasa kulitnya menebal beberapa milimeter dan mandi adalah cara terbaik untuk mengembalikan ketebalan asli kulitnya. Apa lagi, guyuran air dingin membuatnya merasa bertambah segar.

Namun, meski sudah menggosok kulitnya kuat-kuat dengan busa sabun yang melimpah hingga wangi, juga menggosok kulit kepalanya dengan sampo beraroma mint, Rora merasa tubuhnya belum bersih sepenuhnya. Petang kemarin, ia sampai menyabuni tubuhnya dua kali, membuat Nares bolak-balik menggedor-gedor pintu sambil berteriak meminta sang adik untuk lekas menyelesaikan mandinya. Saking inginnya semua kotoran hengkang dari sekujur tubuhnya, Rora sampai tidak peduli waktu. Keluar kamar mandi, ia merasa segar. Tetapi saat hendak tidur, Rora merasa ada yang terlewat saat mandi tadi.

Pagi ini, Rora mengulang mandinya. Saat membilas tubuhnya, ia melihat air yang keruh mengalir menuju lubang pembuangan air kamar mandi. Ia merasakan kulitnya kesat. Sama sekali tidak lengket akibat debu, keringat, ataupun sabun.

Namun, entah kenapa Rora merasa tubuhnya masih kotor. Padahal tangannya sudah menjangkau area tersembunyi di tubuhnya. Semua daki sudah hanyut ke dalam selokan. Rora merasa masih ada yang tertinggal di tubuhnya, seolah-olah ada yang enggan ikut mengalir bersama air.

Gadis itu lekas-lekas menyambar handuk, berpakaian dan menyisir rambutnya. Ia meraih kotak bedak di atas meja rias dan membukanya. Butir-butir bedak mengingatkannya pada pasir di pantai. Rora bergeming mengamati hamparan pasir bedak di wadah bundar itu sebelum mengembalikannya ke atas meja. Sekali lagi, ia berkaca. Ia merasa akan lebih baik jika membiarkan wajahnya polos. Setebal apa pun bedak yang ia taburkan di wajahnya, selalu ada yang memilih untuk terlihat.

Di meja makan, Nares masih menyantap mi. Dikunyahnya pelan-pelan setiap makanan dan diseruputnya dengan nikmat kuah mi buatan Asti.

“Mau tambah?” Asti menawarkan.

“Nggak. Telurnya cuma satu, kok. Masih mahal, ya?”

“Cuma turun lima ratus per kilo. Tapi, gimana lagi? Nggak mungkin mama berhenti beli telur. Butuh, kok.”

“Jangan, Ma. Jangan kapok. Telur itu harus ada tiap hari.”

Asti mengiyakan.

“Mama nggak kerja?”

“Nggak. Istirahat dulu barang sehari. Banyak kerjaan rumah. Masih stres juga soal kemarin. Khawatir sama Rora.”

Lihat selengkapnya