BENCI TAPI CINTA, CINTA TAPI BENCI

Najma Gita
Chapter #8

8

“Pagi, Pak,” sapaku waktu melihat Pak Fendi duduk di kubikelku. Entah apa yang dilaukannya disana. Lagi pula tumben sepagi ini dia sudah datang. 

“Pagi, Kenzie,” balasnya tanpa mau repot-repot menoleh. Dia sibuk memeriksa map yang sedang dibukanya di meja. 

“Tumben pagi-pagi sudah datang” kataku lagi. “Kalau Bapak butuh sesuatu tinggal hubungi saya nanti saya antar ke ruangan Bapak.” Ya, meskipun kami berteman di luar kantor, tapi kalau masalah pekerjaan posisi kami jelas berbeda. Dia bosnya dan aku karyawannya. Jadi panggilan dan sapaan resmi digunakan saat kami berada di lingkungan kantor. 

“Saya nggak butuh apa-apa, sih,” dia mengedik. “Memang sengaja nungguin kamu.”

Aku mengernyit. Aku mencium ada hal yang tidak beres. Apa lagi? Pagi-pagi sudah bersikap manis begini. “Ada apa, Pak?”

“Kamu tahu kan kalau kita sedang kerja sama dengan perusahaan papa kamu?” 

Aku mengangguk. Beruntung di ruangan ini hanya ada aku dan Pak Fendi saja. Kata-katanya yang menyebut sedang bekerja sama dengan perusahaan papa bisa menimbulkan salah paham. Mereka yang tidak terlalu mengenal kami bisa-bisa mengira kalau aku masuk ke sini karena koneksi, bukan karena aku memang kompeten. Ya, aku memang masuk kesini melalui Yudhistira, sih. Dia kakak Arimbi. Karena kantor tempatku bekerja saat ini adalah milik keluarga teman akrabnya Yudhistira. Tapi aku tidak masuk begitu saja. Aku tetap melalui serangkaian seleksi dan wawancara, sama seperti pelamar kerja pada umumnya. Bahkan Yudhistira bilang kalau aku tidak akan diterima kalau kemampuanku tidak memenuhi kriteria yang diharapkan meskipun bos di kantor ini adalah teman akrabnya dan juga seniorku waktu kuliah. Jadi intinya, aku bisa bekerja disini karena aku memang memiliki kemampuan. “Jadi?”

“Salis yang mengurus proyek ini sebelumnya.” Pak Fendi mengangkat wajah menatapku. Jangan-jangan...

“Karena dia sedang cuti melahirkan, saya mau kamu yang gantiin dia,” lanjutnya.

Nah, benar, kan? Aku sudah menduga akan begini. Kalau tidak ada maunya, mana mungkin Pak Fendi mau repot-repot menungguku pagi-pagi begini. Dia selalu bersikap manis kalau ada maunya. Dan tentunya ini hanya berlaku padaku. Menyebalkan.

“Nggak usah ngomel-ngomel, Zie,” katanya seraya bangkit dari kursiku. Dasar orang ini! Tebakannya selalu tepat. "Meski kamu ngomel-ngomel dalam hati, telingaku bisa dengar."

“Tapi, Pak. Saya sedang mengerjakan proyek lain,” tolakku. Aku tidak sedang mencari-cari alasan, kok. Memang kenyataannya begitu. Proyek yang aku kerjakan masih 50%. Aku pasti kerepotan, bahkan tidak sanggup kalau memegang dua proyrek sekaligus. “Cari yang lain aja deh, Pak. Ada Dian. Dia nggak sedang ngerjain proyek.”

“Yang kamu kerjakan sekarang, berikan pada Andrew. Biar nanti dia dibantu sama Dian. Nanti saya yang bicara langsung sama dia. Kebetulan dia juga nggak mengerjakan proyek apapun. Saya sudah kasih tahu Andrew kemarin. Jadi nggak ada masalah lagi, kan?”

Bukan itu masalahnya. Memang diantara yang lainnya Andrew yang paling sering bekerja sama denganku. Dia sudah hafal bagaimana cara kerjaku. Jadi aku tidak perlu lagi menjelaskan dari awal. Masalahnya, wakil dari kantor papa yang menangani proyek kerja sama dengan kami adalah Rakha. Aku tahu karena Salis sering menceritakan bagaimana menariknya adik tiriku itu. Dan itu yang membuatku enggan menerima peralihan tugas yang diberikan Pak Fendi. Kami cukup bertemu di rumah saja, tidak perlu ditambah lagi bertemu di luar rumah. Apalagi bertemu karena urusan pekerjaan. Ya, meskipun aku tidak yakin Pak Fendi tahu siapa Rakha sebenarnya. Karena papa sendiri tidak pernah mempublikasikan Rakha sebagai keluarganya di lingkungan kantor. Jadi tidak semua rekan kerja papa tahu identitas Rakha. Aku mengetahuinya dari cerita mama. Katanya Rakha sendiri yang minta. Apa tujuannya, aku tidak tahu dan tidak ingin tahu.

Bukan apa-apa. Emosiku sering tidak stabil kalau berhadapan dengan Rakha. Tindakannya sekecil apapun bisa langsung menyulut emosiku. Aku takut mengecewakan Pak Fendi kalau akhirnya kerja sama ini gagal hanya karena aku tidak bisa mengontrol diri. Ya, memang kesannya tidak profesional dengan bilang begini, tapi mengingat buruknya hubunganku dengan Rakha hal ini bisa saja terjadi. Aku hanya mengantisipasi hal-hal yang mungkin akan terjadi. Sedia payung sebelum hujan, kira-kira begitu.

“Kenapa nggak Andrew aja yang gantiin Salis, Pak. Dia kan...”

“Kenzie,” potongnya cepat. Aku sangat hafal arti tatapan mata Pak Fendi yang dilayangkan padaku. Tidak menerima penolakan. Menyebalkan. “Awalnya kamu yang bantuin Salis, kan?”

Aku mengangguk. “Iya, sih. Tapi...” Aku masih berusaha mencari alasan supaya Pak Fendi mau membatalkan niatnya. 

“Oke, siapkan berkasnya. Satu jam lagi kita meeting dengan Pak Rakha,” katanya sambil berlalu.

Aku belum mengalihkan pandangan sampai Pak Fendi menghilang dia balik pintu ruangannya. Astaga, mimpi apa aku semalam. Seharusnya Pak Fendi tidak asal mengarahkan telunjuknya meskipun dia bos disini. Seharusnya dia lebih bijak dengan memilih karyawan yang sedang tidak menangani pekerjaan lain. Lagi pula atas dasar apa tiba-tiba dia menunjukku menggantikan Salis? Dia belum tahu sih gimana menyebalkannya Rakha. Dia bisa saja membatalkan kerja sama ini karena aku ikut terlibat di dalamnya. Ya, kesannya memang tidak profesional dan kekanak-kanakan. Tapi bisa jadi, kan? Dia kan Rakha, si paling menyebalkan.

“Pagi-pagi udah bengong.” Aku spontan menoleh. Vicha datang dengan dua gelas kertas di tangannya. Dia lantas menyodorkan satu padaku.

Aku mengucapkan terima kasih setelah menerimanya. Lumayan juga segelas kopi saat perasaan tiba-tiba berubah buruk. Pahit rasa kopi perlahan mengaliri tenggorokan, sepahit perintah Pak Fendi pagi ini. 

“Gue ada meeting sejam lagi,” kataku sambil mempersiapkan berkas yang diminta Pak Fendi untuk dibawa meeting.

Vicha mengernyit. “Lo lagi ngerjain proyek baru? Yang itu udah kelar? Buset, cepat banget, sih.”

Aku mendesah sebal. “Proyek yang dikerjain Salis ganti gue yang kerjain sekarang. Proyek yang gue tangani dipegang Andrew.”

Vicha mengangguk-angguk. 

“Lagian, kenapa Salis harus cuti sekarang, sih,” omelku sebal. “Seharusnya dia kelarin dulu, habis gitu baru ambil cuti.”

Vicha memukul lenganku. “Lo mau dia melahirkan disini?”

Lihat selengkapnya