BENCI TAPI CINTA, CINTA TAPI BENCI

Najma Gita
Chapter #9

9

Rumah sudah sepi waktu aku pulang. Kelihatannya lampu dalam sudah dimatikan. Tinggal lampu teras yang masih menyala. Iya sih, ini sudah larut. Sudah hampir tengah malam. Jam segini kebanyakan orang memilih bergelung dalam selimut hangat di tempat tidur mereka yang nyaman. Apalagi mama. Dia tidak pernah membuang waktunya untuk hal-hal yang tidak penting termasuk begadang. Tidur lewat jam sepuluh malam tidak pernah ada dalam kamus hidupnya. Kecuali sedang menghadiri suatu acara yang mengharuskannya tetap terjaga sampai lewat tengah malam. Mama sangat peduli pada kesehatan. Makanya dia jauh kelihatan lebih muda dari umur sebenarnya. Terlebih lagi mama juga memiliki postur yang mungil sepertiku, yang banyak orang bilang postur tubuh bisa menyamarkan usia yang sebenarnya. Alias terlihat lebih muda. Setuju sih, buktinya si bodoh Rakha percaya-percaya saja waktu aku menyamar menggunakan identitas anak SMA.

Aku sudah memberitahu mama sebelumnya kalau malam ini aku pulang sedikit terlambat dari biasanya. Jessica tiba-tiba menelepon dan mengajak nongkrong di kafe Arimbi setelah jam kantor selesai. Tanpa banyak pertimbangan aku langsung mengiyakan karena aku juga tidak punya kegiatan selain mengunci diri di kamar setelah makan malam. Paling-paling di rumah yang aku lihat Rakha lagi, Rakha lagi. Bosan juga, kan? Makanya aku tidak beralasan dan spontan bilang iya waktu Jessica ngajakin nongkrong. Hitung-hitung me-refresh otak setelah seharian berkutat dengan tumpukan-tumpukan dokumen yang belum sempat di selesaikan Salis sebelum mengambil cuti melahirkan. Jadi pekerjaanku bertambah dua kali lipat, capeknya pun berlipat ditambah si Bos yang cerewet yang menuntut hasil sempurna dengan rentang waktu terbatas yang dia berikan. Beruntung aku menyukai jumlah gaji yang ditransfer ke rekeningku setiap bulan. Jumlahnya memang sepadan dengan kerja keras yang aku lakukan.

Pintu kututup pelan supaya tidak mengeluarkan suara yang bisa membangunkan mama dari tidur nyenyaknya. Aku sudah tidak punya tenaga untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan mama melihat aku pulang selarut ini. Ini memang bukan pertama kali aku mampir ke suatu tempat setelah jam kantor, tapi tidak pernah sampai lewat tengah malam seperti ini. Mama itu terkadang sikapnya berlebihan menurutku. Mungkin dia lupa kalau anak gadisnya ini sudah berumur dua puluh lima tahun. Sudah cukup dewasa dan bisa menjaga diri. Tidak perlu diawasi dengan CCTV selama dua puluh empat jam. Tapi bukan mama namanya kalau langsung menuruti keinginanku. Pasti ada prolog yang berisi dalil-dalil pembenaran ala mama meskipun akhirnya dia memberi kelonggaran selama beberapa hari. Catat, beberapa hari saja. Setelah itu kembali ke stelan awal. Kesal juga sih, tapi aku tidak berani mengatai mama menyebalkan. Bisa-bisa aku dikutuknya jadi batu seperti cerita legenda Malin Kundang. 

Penerangan remang-remang tidak memperlambat langkahku menuju lantai dua dimana kamarku berada. Seluk beluk rumah ini sudah aku hafal di luar kepala, berjalan dengan mata tertutup pun tidak akan membuatku salah kamar. Aku ingin cepat mengguyur badanku dengan air hangat lantas bergelung dalam selimut di kasurku yang nyaman. Membayangkan saja sudah membuatku menguap. 

“Dari mana?”

Astaga! Aku melompat mundur dari depan pintu kamar. Jantungku seperti mau melompat keluar dari rongganya. Tanganku yang sudah meraih knop pintu spontan melepasnya yang lantas aku gunakan untuk mengelus dada. Sialan, bikin kaget saja. Dia ngapain sih tengah malam begini ada di luar kamar? Bukannya tidur nyenyak di dalam. Kayak orang kurang kerjaan aja. Huh!

“Kerja,” jawabku singkat tanpa menatapnya.

Dia berdecak. “Mana ada kantor baru tutup tengah malam gini?” 

Dia kenapa sih? Sempat-sempatnya tengah malam begini malah bikin aku jengkel. “Mampir nongkrong dulu di kafe.” Iya sih, seharusnya aku tidak perlu menjelaskan kemana aku pergi sepulang kantor. Tapi tatapan menuduhnya membuatku tidak nyaman.

“Sama siapa?”

Aku mendelik. “Kamu lagi menginterogasi?” Apa-apaan sih. Nggak ada hubungan dengannya kan? Jadi dia tidak perlu ikut campur. 

“Nggak. Cuman nanya,” sahutnya kalem.

Aku menghembuskan napas sebal. “Udah, deh. Udah tengah malam. Jangan ngajakin ribut.”

“Kan aku bilang cuman nanya, Zie,” Rakha melangkah mendekat. “Tinggal jawab aja, nggak susah, kan?”

Aku mengarahkan bola mata ke atas. Kenapa dia tiba-tiba mendadak peduli begini, sih? Jangan-jangan dia kesurupan setan waktu jalan pulang. “Ngobrolnya besok aja. Aku ngantuk.” Tanganku bergerak mendorong pintu, tapi tertahan tangan Rakha.

“Sama siapa?” tanyanya mengulang. Tatapannya lekat membuatku spontan berdebar. Ini juga kenapa pakai berdebar segala, sih? Ini Rakha lho. Rakha. Bukan orang lain.

Aku menyipit tanpa menjawab.

“Sama siapa, Kenzie?” Ulangnya lagi dengan menekan setiap kata yang keluar. Matanya menatap tajam membuat jantungku berdetak semakin tidak sopan. Jangan sampai dia mendengar atau akan malu sampai tujuh turunan.

“Jessica,” aku spontan menjawab lantas menelan ludah dengan susah. Sialan, dia berhasil mengintimidasiku. Jantungku memompa darah lebih cepat yang membuat dadaku berdebar semakin kencang. Rakha sialan. Awas, lain kali akan kubalas. Menyebalkan.

Rakha menarik tangannya dari knop pintu. “Sekarang istirahatlah. Aku ingin ngomong sesuatu besok.”

Aku menyipit. Tumben dia ingin ngobrol sesuatu denganku. Tidak biasanya. Meskipun kami tinggal satu rumah, kami jarang berinteraksi sehingga kami tidak punya hal yang perlu dibicarakan. Rakha yang awalnya mulai menghindariku, sehingga akupun ikut-ikutan menghindar. Itu sebabnya mengapa kami tidak pernah akrab layaknya saudara pada umumnya.

“Ngomong apa?” Aku tidak dapat menahan rasa penasaran. Jarang-jarang Rakha begini, kan? Makanya waktu mendengar dia bilang begitu, jiwa kepoku langsung meronta-ronta minta dikeluarkan. “Kenapa nggak sekarang aja?”

“Udah malam,” tolaknya. “Besok saja.”

“Ada apa, sih?” Bukan Kenzie namanya kalau tidak keras kepala. Biasanya mama akan mengalah kalau sifat kepala batuku keluar. Tapi hal itu tidak berlaku untuk si menyebalkan Rakha.

Dia memutar badan lantas menjawab, “Besok aja. Aku ngantuk.”

Nah, kan. Kurang menyebalkan bagaimana lagi coba? Lebih baik tidak usah bicara kalau ujung-ujungnya malah bikin penasaran. Sialan.

Rakha menoleh sebelum membuka pintu kamarnya sendiri. “Lain kali kalau mau nongkrong jangan lupa lihat jam. Ponsel kamu ada jamnya, kan? Masa gitu aja harus diingetin, sih? Katanya udah dewasa.”

Lihat selengkapnya