Astaga, sopan sekali mulut adik tiriku ini. Apa aku perlu memberi pukulan di kepalanya supaya otaknya kembali berfungsi? Enak saja bicara sembarangan. Apa dia pikir aku semurah itu sehingga menghalalkan segala cara untuk mengukuhkan posisiku di kantor? Memang sih, dari sekian orang di tim desain, Pak Fendi lebih mempercayaiku daripada yang lain. Kepercayaan itu aku dapatkan bukan karena kami berteman atau karena kami punya hubungan di belakang selain hubungan antara bos dan karyawan seperti dugaan Rakha. Huh, yang benar saja! Itu karena aku memang memiliki kemampuan. Hasil kerjaku yang membuat Pak Fendi puas, bukan yang lainnya. Sejak gabung di perusahaan itu, aku sudah berjanji pada diriku sendiri aku harus mengeluarkan kemampuanku semaksimal mungkin. Yudhistira yang merekomendasikanku, ya meskipun aku harus tetap mengikuti wawancara dan serangkaikan prosedur lainnya. Jadi aku harus bisa menjaga nama baiknya dengan bekerja sebaik mungkin.
“Hei... hei... waktu sarapan kamu nggak kebanyakan nelan cabai, kan? Pedas banget omongannya,” sambarku cepat dengan nada kesal yang sangat kentara. Sialan, pagi-pagi sudah bikin emosi saja. “Atas dasar apa kamu ngomong gitu?” Aku mendelik menatapnya.
Rakha menatapku sekilas, lantas melanjutkan kalimatnya yang semakin membuatku melongo. “Jangan kamu kira aku nggak tahu gimana reputasi bos kamu itu. Salah satu temanku sepupu Pak Fendi.”
“Jadi karena itu?” aku mengangguk-angguk, tapi masih menatapnya sebal. Bukan sebal lagi, ini mah hampir ditahap emosi.
Dia mengedik. “Lagian nggak ada bos merangkul mesra karyawannya. Hubungan normal antara bos dan karyawan nggak seperti itu. Kamu juga, kelihatan senang-senang aja dirangkul-rangkul kayak gitu. Murahan banget.”
Astaga, astaga! Aku mati-matian menahan supaya tas di pangkuanku tidak melayang ke kepalanya. Bisa terjadi hal yang tidak diinginkan kalau aku melakukannya. Rakha pasti kaget menerima gerakanku yang tiba-tiba. Dan hal itu bisa berakibat fatal. Aku masih sayang nyawaku. Rugi kan kalau aku sampai meninggal sebelum merasakan yang namanya surga dunia yang katanya kenikmatannya tiada tara itu.
Sabar, Zie. Sabar. Cantik itu kalau kamu tetap bisa tersenyum waktu marah. Dia Cuma Rakha, rugi banget kalau sampai otot lehermu menonjol keluar gara-gara cowok sinting ini. Cantikmu bakalan berkurang. Jadi tenang, jangan emosi! Aku menarik napas panjang, mengontrol emosi. Rasanya sebentar lagi kepalaku akan mengeluarkan asap saking panasnya. Bisa-bisanya dia mengataiku murahan. Sialan.
“Kamu lebih murahan dong,” jawabku santai yang spontan membuatnya mendelik.
“Apa kamu bilang?” nadanya sedikit meninggi.
“Iya,” aku memasang raut sepolos mungkin. “Pak Fendi cuman merangkul. Catat, ya. Cuman merangkul. Lah, kamu? Celup sana, celup sini. Main obral kayak barang diskonan di mall.” Aku mencibir.
Aku memutar bola mata waktu melihat wajah Rakha memerah dan menjalar sampai ke leher. Biar saja aku tidak peduli. Memangnya cuma dia yang bisa bikin emosi? Aku juga bisa.
Rakha terlihat menarik napas panjang, lantas membuangnya perlahan. Sebentar kemudian raut wajahnya sudah kembali normal. “Jangan sok tahu!” cibirnya.
“Hei!” aku sedikit berteriak. Rasa kesal yang sejak tadi aku tahan-tahan keluar juga. Siapa yang tidak kesal coba menghadapi sikapnya yang sok polos dan sok suci itu. “Lupa berapa banyak cewek yang kamu pacari sejak kamu udah pintar memilih celana dalam kamu sendiri? Jari orang satu RW nggak bakalan cukup buat ngitung. Sadar diri dong!” aku mencibir.
“Itu lain kasus, Kenzie,” sahutnya ringan. “Kami nggak terlibat hubungan kerja. Aku kasih tahu ya, dalam hubungan selibat kayak gitu, selalu cewek yang dirugikan. Bos kamu..."
“Hei, dengar ya!” aku mengacungkan telunjuk ke arahnya. “Apa atau bagaimana hubunganku dengan Pak Fendi itu bukan urusan kamu. Mau aku jalan sama dia kek, rangkul-rangkulan kek, nggak ada urusannya sama kamu. Lebih baik kamu diam dan urus urusan kita masing-masing.”
“Aku bilang gini karena peduli, Kenzie,” katanya yang spontan membuatku melongo. Dia bilang peduli? Aku nggak salah dengar, kan? Sejak kapan?
Aku lantas mengarahkan bola mata ke atas. “Astaga, Rakha! Aku makin yakin kamu salah makan pas sarapan tadi. Atau kamu makan sesuatu yang bikin kamu alergi sampai berhalusinasi parah kayak gini? Ya ampun, kasihan banget. Mungkin kamu perlu mampir ke IGD rumah sakit terdekat sebelum alergi kamu makin parah. Kan gawat, Kha, kalau kamu berhalusinasi terus-terusan. Astaga!” kataku dengan nada yang sengaja aku buat sedramatis mungkin. Rakha menarik napas panjang. Aku yakin dia sedang menahan diri. Biar saja, siapa suruh membuatku kesal pagi-pagi.
“Kenzie, dengar...”
“Kamu yang harus dengar,” potongku cepat. “Tetap bersikap seperti biasanya. Jangan sok peduli! Satu lagi, jangan merubah apapun, kita sama-sama nyaman dengan hubungan seperti itu.”
Aku memiringkan kepala menatapnya lantas melanjutkan, “Lagian sejak kapan kamu peduli? Padahal selama ini kamu nggak pernah anggap aku ada, kan? Kenapa sekarang tiba-tiba peduli?” Rakha menatapku sebentar tanpa menjawab. “Oh, jangan-jangan kamu cemburu? Astaga, Rakha...” Aku menutup mulut dengan tangan, menampakkan raut kaget yang dibuat-buat. “Aku ini kakak kamu, lho. Ya, meskipun cuman saudara tiri, sih.”
Wajah Rakha berubah sebentar, lantas kembali lagi ke rona biasa. “Dasar cewek sinting,” omelnya kemudian.
Aku mencebik lantas mengedik. Sukurin. Pagi-pagi sudah bikin kesal. Bikin mood jatuh saja. Huh! Sudah aku bilang Rakha tidak akan bisa mengintimidasiku. Dia bisa bersikap menyebalkan, tapi aku bisa jauh lebih menyebalkan. Kenzie kok dilawan. Satu lagi, dia tidak akan pernah menang debat melawanku. Jadi lebih baik dia diam dan tidak banyak bicara seperti biasanya.
Kami tidak berdebat lagi setelah itu. Baguslah. Sisa perjalanan ke kantor bisa aku lalu dengan tenang dan damai. Lebih dari sekali aku mendapati Rakha melirik dari belakang kemudi. Masa bodoh, yang penting dia sudah kembali ke stelan awalnya, tidak banyak bicara.
Namun yang terjadi kemudian membuatku panik. Tiba-tiba sebuah motor patroli polisi menjajari laju mobil Rakha dan memberi tanda supaya Rakha menepikan mobilnya. Ada apa lagi ini?
“Kha, kamu melanggar lalu lintas, ya?” bisikku panik padanya setelah melihat polisi itu mengetuk kaca jendela mobil Rakha. “Jangan bilang kalau kamu nggak punya SIM? Atau kamu ketahuan bawa barang haram? Ya ampun!"
Rakha menoleh. “Diam. Jangan ngomong apapun!” Lantas dia bersiap menurunkan kaca mobilnya. Tapi sebelum itu dia kembali menoleh memberi peringatan sekali lagi. “Paham, kan? Jangan ngomong apapun.”
Aku memutar bola mata. Ya ampun, memangnya aku anak kecil yang harus diberi peringatan lebih dari sekali. Lagipula aku tidak berniat ikut-ikutan bicara, kok. Kecakapanku bernegosiasi tidak perlu diragukan, sih. Tapi aku tidak berniat membantu Rakha mengatasi polisi itu. Biar dia selesaikan sendiri. Paling juga pelanggaran ringan, melanggar marka. Yang mengemudi kan Rakha, jadi dia dong yang harus bertanggung jawab. Lagi pula dia sudah mewanti-wanti supaya aku tidak ikut campur.