“Makan siang dimana?” Vicha menggeser kursinya mendekat.
Aku menopang tangan di dagu, berpikir. Cuaca panas seperti ini enaknya makan yang berkuah dan pedas. Bakso mungkin bisa jadi pilihan. Ya, kelihatannya ide bagus.
Mulutku membuka siap menjawab pertanyaan Vicha, tapi suara Andrew lebih dulu terdengar. “Serius lo mau makan siang bareng Vicha?” Andrew mengarahkan pulpen yang dipegangnya padaku.
Aku mengernyit. “Memang kenapa?”
“Iya, nih,” timpal Vicha sewot. “Nggak ada alasan dong Kenzie nolak gue. Gue nggak punya penyakit menular yang bikin Kenzie harus jauh-jauh dari gue.” Dia melayangkan pandangan protes pada Andrew.
Tawa Andrew terdengar. “Emang gue pernah ngatain elo selain lo cantik?” katanya kemudian yang membuat Vicha lantas tersipu. Tampak semburat merah di pipinya yang membuatnya terlihat menggemaskan. Vicha memang cantik, kok. Dia imut dan manis. Pipinya yang agak bulat terlihat lebih menggemaskan dengan semburat merah seperti itu bagaikan tomat mengkal yang baru dipetik dari kebun. Seandainya aku laki-laki, tidak butuh perjuangan berlebih untuk menyukai tipe perempuan seperti Vicha. Cuma sayangnya kesan imut yang melekat padanya akan berubah menjadi sangat menjengkelkan kalau sedang dalam mode lemot.
Vicha tersenyum malu-malu, lantas mengibaskan tangannya. “Aduh, Andrew. Bikin gue malu aja. Tapi sayang deh, recehan gue udah gue kasih ke pengamen di lampu merah tadi. Maaf, ya?” Vicha menangkupkan tangannya dan menatap polos tanpa dosa kepada Andrew.
Andrew berdecak. Dia lantas mengalihkan perhatian padaku. “Lo semalam mandi kembang tujuh rupa atau gimana, sih? Aura lo terang benderang banget hari ini.”
“Ish, Andrew,” Vicha menyahut. “Mandi kembang tengah malam kan dingin, Drew. Gue aja ogah, kok. Apalagi ntar ada ulat di kembangnya. Kan bisa gatel-gatel.” Vicha bergidik dengan ekspresi geli.
Tangan Andrew mengibas, kemudian berkata lagi tanpa memedulikan komentar Vicha, “Rasanya gue pernah lihat cowok yang tadi anterin lo deh, Zie. Tapi dimana, ya?”
“Mirip doang kali,” jawabku langsung tanpa memberi waktu Andrew untuk mengingat-ingat. Dia tidak boleh diberi kesempatan berpikir dan menggali ingatannya. Dia tidak boleh mengenali kalau Rakha, klien Pak Fendi, yang bersamaku tadi pagi. Pokoknya tidak boleh.
“Masa, sih? Kok gue nggak lihat, ya?” Vicha mengetuk-ngetuk dagu dengan ibu jarinya.
“Lo kan stay disini dari subuh, Cha,” Andrew berdecak. “Lo nginep disini, sepagi itu udah nongkrong cantik di sini?”
Vicha cemberut. “Daripada elo telat melulu, masih mending gue datang paling awal.”
“Terserah elo deh, Cha,” Andrew mengibaskan tangan. “Terus cowok yang satunya lagi siapa? Jangan bilang dia selingkuhan elo, Zie. Wah, parah, sih. Padahal mobil cowok lo belum bergerak, dan lo terang-terangan jalan sama cowok lain di depan matanya langsung? Astaga. Elo lebih seram dari bayangan gue, Zie.”
Ini anak kenapa, sih? Tanya sendiri, dijawab sendiri. Mana kesimpulannya ngawur lagi. Menyebalkan. Enak saja bikin kesimpulan. Iya kalau hanya kami bertiga yang dengar, bagaimana kalau sampai anak-anak yang lain ikut dengar juga. Bisa jadi bahan gosip tujuh hari tujuh malam, kan? Imej Kenzie yang bersih dan selembut kapas akan tercoreng dengan berita tidak berdasar seperti ini.
“Beneran, Zie?” mata Vicha melebar. “Yang Andrew bilang nggak benar, kan?”
Baru saja mau menjawab, Vicha berkata lagi dengan nada mengggurui, “Seharusnya lo nggak boleh gitu, Zie. Jadi cewek itu nggak boleh maruk. Kasihan para jomlo-jomlo di luar sana. Gimana mereka mau cepat-cepat dapat pacar kalau yang udah punya sampai dobel-dobel. Kasihanilah kami para jomlo ini, Zie. Lo tahu kan kalau setiap hari populasi jomlo di muka bumi ini terus bertambah. Gue juga mau dong ganti status di media sosial gue dari jomlo menjadi dating.” Vicha terkikik di akhir kalimatnya. Dasar bocah sableng.
Mereka ini kenapa, sih? Nuduh-nuduh orang sembarangan. Kalau Vicha yang bilang begitu, okelah. Masih bisa dimaklumi. Dia kan lebih sering korsletnya dari pada benarnya. Tapi Andrew? Dia adalah laki-laki paling realistis yang aku kenal. Dia selalu menggunakan otaknya untuk berpikir. Hari ini entah dia salah makan atau ada yang tidak beres dengan otaknya, makanya dia bicara sedikit kacau hari ini.
Aku mendelik. “Enak saja. Gini-gini gue masih jomlo.”
Vicha mencebik. “Jomlo kok bangga.” Tapi sedetik kemudian matanya melebar seperti mengingat sesuatu. “Tunggu, deh. Lo jomlo?” Telunjuknya terarah tepat di depan hidungku. Sialan.
Aku sengaja mengangguk kuat-kuat supaya memberi kesan dramatis dan meyakinkan. “Beneran, kok. Nggak percaya? Lo boleh periksa KTP gue.” Aku menggeser tas mendekat, bersiap mengambil dompet dari dalamnya.
“Nggak usah,” sambar Vicha cepat. Dia lantas mengarahkan bola matanya ke atas. “Status belum kawin di KTP lo nggak bakalan berubah sampai ada cowok yang ikhlas menjabat tangan wali nikah lo di depan penghulu. Itu pun lo masih harus kasih laporan ke Dinas Kependudukan.”
Nah, itu tahu. Pakai acara tidak percaya segala, sih. Aku lantas mengalihkan perhatian pada Andrew. Aku berbaik hati akan menjawab pertanyaannya. Ya, daripada nanti dia tidak bisa tidur karena penasaran, kan? Aku tidak mau dosaku yang sudah menumpuk bertambah lagi. Apalagi karena hal sepele seperti ini. Dan tentu saja dengan sedikit kebohongan. Ya kali aku jujur siapa yang mengantarku tadi pagi. Dalam keadaan terdesak aku tetap menolak mengatakan kalau laki-laki itu adalah Rakha, klien kantor kami sekaligus adik tiriku yang tiba-tiba baik hati. Ya, mendadak baik hati karena memaksa mengantarku ke kantor pagi tadi. Astaga, padahal aku baru saja bilang kalau dosaku sudah menumpuk, sekarang malah mikir cara membohongi Andrew. Tidak apa-apa, kan? Sedikit doang ini. “Cowok mana yang lo maksud?”
Andrew mengerutkan bibir. “Yang anterin lo pagi tadi. Gue merasa nggak asing. Tapi siapa? Ketemu dimana, ya?” Dia meletakkan ibu jarinya di dagu, berpikir.