BENCI TAPI CINTA, CINTA TAPI BENCI

Najma Gita
Chapter #12

12

“Makanan nggak bakalan habis sendiri kalau cuman diaduk-aduk kayak gitu,” Rakha menunjuk piringku. Nadanya kalem saja, sih. Tapi tetap saja terdengar menyebalkan. “Makan, gih! Keburu jam makan siang habis. Aku ada meeting habis ini. Dan tempatnya lumayan jauh dari sini. Nggak enak sama klien kalau sampai telat, kan? Kesannya nggak profesional banget.”

Aku mengarahkan bola mata ke atas. Itu adalah kalimat terpanjang selama aku mengenal Rakha. “Kalau ada meeting habis makan siang dan lokasinya jauh dari kantorku, ngapain juga maksa ngajakin makan siang segala, sih? Seharusnya kamu makan siang di kantor sama asisten kamu, habis makan bisa langsung berangkat. Orang bijak itu bisa memanfaatkan waktu semaksimal dan seefisien mungkin. Nah ini, malah keluyuran nggak jelas.” Aku beruntung Pak Fendi tidak jadi bergabung makan siang denganku. Sampai di lobi dia bertemu Yudhistira yang memang sengaja datang mengajaknya makan siang. Rasanya aku ingin berlari menjabat tangan Yudhistira, kalau perlu mencium tangannya sebagai ungkapan terima kasih ratusan kali karena telah menyelamatkan aku hari ini. Yeah, mungkin berlebihan, tapi aku sangat bersyukur akhirnya Yudhistira datang dan menggagalkan rencana Pak Fendi. Dan keberuntunganku menjadi berlipat saat tidak kutemukan sosok Rakha di lobi. Bisa jadi dia bohong soal menunggu di lobi tadi, atau dia mengikuti instruksiku menunggu di mobil. Jadi, aku bebas dari pertanyaan-pertanyaan horor Pak Fendi yang sudah berputar-putar di kepalaku sejak tadi. Yeay...

“Aku udah janji ngajakin makan siang, kan,” sahutnya tenang. “Aku nggak suka dan nggak biasa bohong, sih. Jadi kalau aku udah bilang A, ya tetap A.”

Aku mendelik lantas melipat tangan di dada. “Kamu nyindir?” Ngomongnya memang kalem dan tenang, tapi entah kenapa rasanya langsung menghunjam di ulu hati. Seperti pukulan yang sangat tepat sasaran. 

Rakha mengangkat cangkir espresso-nya tenang, lantas menyesapnya. Dia menatap dari tepian cangkir. “Kalimat yang mana yang menunjukkan aku lagi nyindir kamu?”

Astaga, orang ini! Setiap bersama bisanya cuma bikin emosi saja. Tapi Rakha benar juga, sih. Dia memang mengatakan akan menjemputku makan siang, dan dia benar-benar melakukannya. Itu artinya dia konsisten. Lagi pula jaman sekarang sulit mencari laki-laki seperti itu. Kebanyakan apa yang mereka ucapkan dan mereka lakukan bertolak belakang. Laki-laki kalau omongannya tidak bisa dipegang, lalu apanya yang bisa dipercaya? Eh, tunggu! Kenapa aku jadi muji-muji Rakha, sih? Seharusnya aku sebal kan, karena kalimatnya itu secara langsung menyindirku kalau aku bohong padanya tentang Jessie-Jessie itu. Ya Tuhan, jangan sampai dia tahu. Sepertinya aku harus lebih berhati-hati lagi. Rakha tidak boleh curiga sedikitpun.

Dia kembali menunjuk piringku. “Nggak suka atau mau ganti menu?”

Aku melongo, kemudian buru-buru menutup mulutku yang terbuka dengan tangan. Makhluk berjenis kelamin laki-laki yang duduk di depanku ini benar-benar Rakha atau bukan, sih? Dari tampangnya sih jelas dia adik tiriku yang super menyebalkan itu. Tapi sikapnya jauh berbeda dengan Rakha yang biasanya. Alih-alih mengomentari dengan komentar pedas level akut, dia malah bersikap kalem dan perhatian. Ya ampun, ini pasti mimpi. Kalau kenyataan tidak mungkin seperti ini. Aku dan Rakha tidak pernah akur. Untuk lebih meyakinkan aku sengaja memberi cubitan kecil di lenganku. Dan hasilnya... sakit! Artinya ini bukan mimpi. 

Rakha mengernyit. “Kamu ngapain?”

Aku buru-buru menggeleng. Kemudian menunduk pura-pura menikmati isi piringku.

“Yakin nggak mau ganti menu?” tanya Rakha lagi.

Aku menggeleng. “Nggak usah. Ini enak, kok.”

“Oke. Habiskan!” Rakha tersenyum.

What? Mataku mengerjap beberapa kali. Aku tidak salah lihat, kan? Rakha baru saja tersenyum. Sebelumnya, sebelumnya dan sebelumnya lagi dia tidak pernah melakukan ini padaku. Alih-alih tersenyum, beradu pandang sebentar saja langsung pasang muka bete. Fix, sampai sini aku menyimpulkan kalau Rakha tidak dalam kondisi yang sehat. Khususnya otaknya. Mungkin kepala terbentur benda lumayan keras tadi pagi yang membuat fungsi otaknya sedikit terhambat. Ya, pasti begitu.

*** 


Aku melempar bantal sofa berharap mengenai wajah Jessica yang tidak berhenti tertawa sejak aku mulai bercerita. Entah bagian mana yang menurutnya lucu. Tapi rasanya menyebalkan saat sesuatu yang aku anggap sebagai sebuah kesialan malah dianggap lucu oleh teman sendiri. Aku menceritakan kejadian hari ini secara detail tanpa ada yang terlewat sedikitpun. 

Tangannya sigap menangkap bantal itu lantas melemparnya kembali padaku. “Jadi kenapa nggak sekalian adik tiri lo itu jemput lo pulang kantor? Nanggung banget, sih.”

Aku memutar bola mata sebal. “Pas anterin gue balik ke kantor selesai makan siang, dia memang bilang mau jemput gue lagi pulangnya. Tapi di last minutes dia telepon gue, katanya ada urusan mendadak.” Aku mengedik. “Ya, gue bersyukur banget, sih, acara jemput-menjemput itu batal. Gue nggak bisa bayangin kalau pertemuan gue sama dia durasinya diperpanjang. Di rumah masih lihat dia lagi. Astaga, bisa-bisa keriput di wajah gue datang lebih cepat. Lo tahu kan kalau krim anti aging yang bagus itu mahal.”

Ganti Jessica yang memutar bola matanya. “Lo ngerasa nggak kalau lo itu aneh?”

Pertanyaan Jessica membuatku spontan mendelik. “Hei, ini maksudnya gimana?” protesku tidak terima.

“Udah aneh, sumbunya pendek,” timpal Jessica tanpa peduli pada pertanyaanku. “Bisa jadi adik tiri lo pengen memperbaiki hubungan kalian. Jadi dia berusaha bersikap baik sama kakak tirinya yang level nyebelinnya udah ditingkat akut.”

“What?” Aku langsung melotot. Astaga, astaga! Kenapa orang-orang yang dekat denganku mendadak menjadi aneh semua? Dimulai dari Rakha, yang tiba-tiba bersikap sok baik memberiku tumpangan ke kantor, mentraktir makan siang, dan memberiku tumpangan pulang kantor. Untuk yang terakhir, memang tidak terlaksana, sih. Di kantor ada Andrew yang mendadak kepo dengan urusan orang lain. Seumur-umur kerja bareng dia, baru kali ini dia memiliki rasa ingin tahu seperti itu. Karena biasanya dia adalah makhluk tercuek di ruangan. Dan sekarang Jessica. Bisa-bisanya dia bilang kalau Rakha bersikap baik karena ingin memperbaiki hubungan kami. Yang benar saja! Dia salah makan atau kenapa, sih? Atau hari ini sudah diresmikan menjadi Hari Aneh Sedunia dan aku sendiri yang tidak tahu? 

“Nggak usah kaget gitu,” sebelah tangannya mengibas. 

Aku berdecak. “Ya Tuhan, Jess. Apa gue ketinggalan berita kalau hari ini sudah ditetapkan jadi Hari Aneh Sedunia oleh netizen? Heran, deh. Orang-orang pada kompak aneh semua hari ini.”

Lihat selengkapnya