Jessica merapikan riasan terakhir di wajahku. “Perfect,” ujarnya sambil tersenyum lebar. Dia mengawasiku sekali lagi dengan teliti sebelum menyapukan kuasnya merapikan apa yang menurutnya kurang rapi. Padahal menurutku tidak ada yang perlu dia perbaiki lagi. Seperti katanya, polesan tangannya layak diberi hadiah acungan jempol.
Aku mengikutinya tersenyum lebar menatap pantulan diriku di kaca besar di kamar Jessica. Memang benar, make up bisa mengubah segalanya. Ini yang dinamakan the power of make up seperti kata orang-orang. Aku yang terlihat di cermin seperti remaja berusia belasan akibat ketrampilan tangan Jessica.
“Luar biasa!” kataku ikut memuji.
Jessica berdecak. “Gue kira cewek jadi-jadian elo udah game over.”
“Gue kira juga gitu.” Aku memiringkan kepala melihat pantulan diriku sendiri di cermin. “Tiba-tiba aja si Curut itu ngajak ketemuan.”
“Seharusnya lo tolak kan, Zie,” Jessica menaruh tangannya di pinggang. “Dari awal gue nggak setuju sama ide gila lo ini. Cuman karena kita sobatan udah lama, makanya gue ikhlas bantuin lo.”
“Ikhlas kok ngomel,” sahutku yang langsung membuat Jessica mendelik.
“Coba deh lo pikir kalau ntar akhirnya Rakha tahu Jessie itu cewek jadi-jadiannya elo, gimana? Lo bakalan malu, Kenzie.”
Aku menarik napas. “Sebenarnya gue juga mikirnya ke arah situ, sih. Bisa malu tujuh turunan gue. Rakha bakalan ejek gue seumur hidup.”
Jessica memutar bola matanya. “Nah, itu lo tahu.”
“Parahnya lagi kalau Rakha sampai berasumsi kalau gue naksir dia. Ya ampun! Astaga!” Aku ngeri sendiri membayangkannya.
Jessica terbahak. “Itu yang paling masuk akal, Zie. Kalau gue ada di posisi Rakha, gue juga bakal mikir kayak gitu, kok. Secara hubungan personal kalian itu kayak tukang ngutang sama debt collector.”
“Sialan,” aku mengomel. Enak saja dia kasih ibarat seperti itu. Apa tidak ada perumpamaan yang lebih elit? Menyebalkan.
“Ada yang salah?” Jessica menaikkan alis.
Aku mendengus sebal. “Iya, siapapun tahu kalau secara finansial Rakha lebih mapan dari pada gue. Tapi nggak gitu juga kali, Jess.”
Tawa Jessica semakin keras. “Yaelah, gitu aja baper. Back to Rakha.” Dia tidak peduli padaku yang bersungut-sungut. “Kalau gue jadi adik tiri lo, gue juga bakalan mikir-mikir kalau lo naksir gue.”
“Eh...?"
Jessica mengangkat tangannya membuatku kembali menutup mulut. “Kalian nggak akur sebagai saudara.”
“Saudara tiri,” aku mengingatkan.
“Whatever, Zie. Apapun jenis persaudaraan kalian...” tangan Jessica mengibas. “Logikanya, sebagai Kenzie lo nggak bisa dekat-dekat Rakha. Saat lo bertransformasi sebagai Jessie baru lo dapat perhatian Rakha. Bahkan tanpa sungkan Rakha berusaha banget nempelin elo.”
Aku memutar kursi menghadap Jessica. “Jadi?”
“Jadi lo sayang kalau harus berhenti dari ide gila lo ini.”
Aku spontan mendelik. “Tunggu-tunggu! Ini maksudnya apa? Jangan sampai lo bilang kalau...”