BENCI TAPI CINTA, CINTA TAPI BENCI

Najma Gita
Chapter #15

15

Aku terbangun setelah mendapat pukulan bertubi-tubi di betis. Aku hanya menggeliat dalam selimut tanpa menyahut. Rasanya seperti ada yang menumpahkan sebotol lem di mataku. Aku tidak bisa tidur semalam. Mataku baru bisa terpejam menjelang subuh. Ini semua karena ulah Rakha. Bisa-bisanya dia bertingkah gila dengan menciumku. Ya Tuhan, pasti ada gangguan dicara kerja otaknya. Dia pasti sudah tidak waras. Baru siang tadi dia mengatakan cinta pada Jessie, malamnya dia malah memaksa menciumku.

Tunggu dulu. Apa benar dia memaksaku? Aku masih ingat jelas kalau aku juga membuka peluang Rakha untuk memperdalam ciumannya. Seharusnya aku mendorongnya menjauh, bukan malah balas merangkulnya dan membalas ciumannya. Aku pasti ikut-ikutan gila. Ya Tuhan, aku benar- benar gila sebentar lagi. Jadi, tidak ada yang dipaksa dan terpaksa, kan? 

“Kenzie.” Kali ini disusul suara. Dan pukulan pada betisku semakin keras. “Bangun, nggak?” Yeah, disusul dengan ancaman. Siapa lagi yang berani mengancamku di rumah ini selain mama.

Aku hanya menyahut dengan gumaman. Bergerak sedikit, menarik selimut menutupi kepala.

“Astaga, anak perawan malasnya minta ampun.” Mama menarik selimut yang menutupi kepalaku. “Kasihan banget yang punya mantu kamu nanti. Dia pasti ketiban sial.”

Aku membuka mata sedikit. “Aku lagi dapet, Ma. Nggak perlu bangun pagi-pagi. Lagian ini weekend. Aku nggak ngantor.”

Alasanku tidak membuat mama lantas pergi. “Lagi dapet, weekend dan nggak ngantor bukan alasan buat tidur seharian. Lihat ini jam berapa?”

Aku bergerak sedikit dan membuka mata. “Sebentar lagi, Ma,” aku mencoba bernegosiasi. Meskipun aku tidak yakin dengan hasilnya, tidak ada salahnya mencoba, kan?

Mama menggeleng. “Nggak ada tawar-menawar. Cepetan bangun, mandi, antar mama arisan.” Mama membalikkan badan sebelum aku sempat menjawab. Sebelum membuka pintu, dia melepaskan ancamannya sekali lagi.

Ini weekend tersial sepanjang sejarah hidupku. Kurang sial apalagi, setelah menerima pengakuan cinta Rakha, dan kejadian semalam, sekarang harus mengawal mama di acara arisan ibu-ibu yang cukup membosankan menurutku. Tidak ada yang bisa aku lakukan disana selain ikut mendengarkan celoteh sekelompok ibu-ibu yang aku tidak paham sama sekali. Aku tidak mengerti, apa sih yang dicari mama dengan mengikuti acara seperti itu. Memang sih, terkadang kelompok arisan mama mengadakan acara amal dan kegiatan yang berguna lainnya. Tapi lebih sering mereka hanya berkumpul sambil menggosip, atau saling pamer profesi anak dan suami masing-masing. Membosankan. 

“Mau keluar, Kha?” suara mama masih terdengar dari dalam kamarku. 

“Iya. Mama mau arisan, kan? Mau sekalian bareng?” 

Aku memutar bola mata mendengar suara Rakha. Dasar, menyebalkan. Di depan mama dia akan berubah menjadi anak manis. Lain lagi kalau di depanku. Semoga mama menerima tawaran Rakha, dan aku bisa kembali tidur. 

“Mama udah bangunin, Kenzie, kok.”

“Mbak Kenzie nggak bisa nyetir. Pak Maman kan ijin pulang kampung kemarin. Jatuhnya sama aja kalau naik taksi.”

“Ya udah,” jawab mama akhirnya membuatku tersenyum lebar. Aku bebas hari ini berkat Rakha. Meskipun begitu aku tidak akan berterima kasih. Dia juga tidak minta maaf tiba-tiba menciumku semalam. Jadi kita impas. “Tolong kamu bangunin Kenzie. Biar dia juga ikut. Kalau dibiarin di rumah, seharian dia nggak akan bangun dari kasurnya. Malasnya nggak ketulungan anak itu.”

Aku nyaris melompat dari atas tempat tidur. Apa-apaan sih mama? Sudah ada Rakha yang siap mengantarnya dengan selamat sampai tujuan, kenapa masih menyuruhku ikut juga? Ada-ada saja. Dan sialnya lagi, si Curut itu malah mengiyakan kata-kata mama. Seharusnya dia menolak, bukan malah iya-iya saja. Ya ampun, aku belum siap bertatap muka dengan Rakha.

Aku membungkus tubuhku dengan cepat setelah mendengar pintu kamarku terbuka. Pura-pura tidur adalah jurus terjitu saat otakku tidak mampu memikirkan hal apa yang harus aku lakukan. 

Suara langkah kaki mendekat. Aku yakin bukan mama. Kalau itu mama, pasti disertai omelan-omelan yang membuatku langsung terbangun. Kalau bukan mama, itu artinya? 

Astaga. Aku meletakkan ponsel dari Rakha di meja rias bersama ponselku sendiri. Kemungkinan besar dia akan melihatnya kalau dia mendekat padaku. Rasanya aku akan ketahuan sekarang. Mati aku. Kenapa bisa seceroboh ini, sih? Seharusnya aku tetap membiarkannya dalam tas, atau langsung menaruhnya dalam laci seperti biasanya. Ini gawat.

“Kenzie!” Rakha memanggil.

Aku tidak bergerak dari posisiku. Biar saja. Aku tidak akan menyahut meskipun dia memanggil ratusan kali. 

“Aku tahu kamu pura-pura tidur. Bangun atau kejadian semalam akan terjadi lagi.”

Aku mencebik. Aku tidak mudah diancam begitu saja. Rakha tidak akan berani bertindak sembrono, kan ada papanya di rumah. Sekali teriak, mereka pasti datang ke kamarku. Coba saja kalau berani. Dengan sedikit drama bertabur bumbu, aku yakin semua pasti menyalahkan Rakha. Ho... ho... ho... Kenzie kok dilawan.

“Kenzie...” panggilnya. Aku tidak menyahut. 

Biarkan saja. Kalau capek pasti pergi sendiri. Lagian mama ada-ada aja, sih. Sudah tahu kalau aku sudah bangun, bisa-bisanya menyuruh Rakha buat bangunin. Maksudnya apa coba?

“Kenzie!" Kali ini lebih keras seiring dengan nada sebal dalam suaranya. Memangnya aku bakalan bangun meskipun dia kesal? Yang benar saja. Aku tidak peduli. 

“Kenzie!” Rupanya si curut itu belum menyerah. Tanpa embel-embel ‘mbak’ seperti yang dia lakukan di depan mama tadi. Dasar menyebalkan. Sopan kalau di depan mama saja. Di belakangnya menyebalkan minta ampun.

Lihat selengkapnya