BENCI TAPI CINTA, CINTA TAPI BENCI

Najma Gita
Chapter #16

16

“Kamu beli ponsel baru?” Rakha mengernyit menatapku. Tangan kanannya menunjuk ponsel yang kuletakkan di meja rias. Sialan. Seharusnya dia tidak boleh melihatnya. Ceroboh banget, sih. Kenapa aku tidak langsung menyimpannya ke dalam laci atau tetap membiarkannya di dalam tas seperti biasanya? Kalau ketahuan Rakha seperti ini kan gawat. Bisa-bisa dia curiga. Bisa malu tujuh turunan kalau penyamaranku terbongkar. Padahal baru saja dimulai, masa terbongkar secepat ini, sih. Kapan sih aku mendapat giliran disapa dewi keberuntungan? Perasaan aku kena sial terus beberapa hari ini.

Tenang, Kenzie. Terlihat gugup akan membuat Rakha menjadi curiga. Jadi aku harus tenang dan meyakinkan. Jangan sampai membuat hal-hal tidak penting yang menimbulkan kecurigaan Rakha. Aku harus berhati-hati menjawab pertanyaan. Hati-hati, pelan-pelan dan tenang. Mari kita mulai sandiwara ini!

Aku mengarahkan bola mata ke atas sebelum menjawab. “Memangnya kenapa? Apa punya dua ponsel itu aneh?”

Rakha menatapku, lantas beralih pada ponsel di meja. “Nggak, sih. Tapi kenapa kamu beli dua ponsel yang sama?”

Aku melotot. Ya ampun, aku tidak memikirkan itu. Tapi tenang, Kenzie tidak akan kehabisan jawaban. “Memangnya kenapa? Nggak salah, kan?”

Rakha mengedik. “Kebanyakan orang kalau punya dua ponsel pasti dia beli type atau merk yang berbeda. Untuk apa punya dua barang yang sama, fungsinya pun juga sama.”

Sialan. Kenapa dia tidak cepat pergi saja, sih? Bikin mood turun saja. Masih pagi lho ini. “Aku bukan termasuk dari yang kebanyakan itu,” jawabku dengan nada sebal yang kental.

“Pantas, sih,” Rakha mengangguk-angguk.

“Pantas apa?”

“Kamu memang lain dari yang lain,” jawabnya ringan seringan balon berisi nitrogen yang melayang-layang di udara. Menyebalkan.

Aku spontan mendelik. “Maksudmu aku ini aneh?” spontan nada suaraku meninggi. Sialan.

“Mana ada aku bilang gitu,” Rakha tertawa tertahan. “Eh, kayaknya ponsel itu nggak asing, ya?”

Rakha bergerak mendekati meja. Aku langsung melompat mendahului Rakha bergerak mendekati meja. Aku langsung melompat mendahului sebelum Rakha berhasil mencapai meja. Akibat terlalu terburu-buru, jempol kakiku menghantam meja dengan cukup keras. Aku meringis menahan sakit. Tapi aku mengabaikannya karena menyelamatkan ponselku lebih penting dari pada menjerit mengekspresikan rasa sakit pada jempol kakiku. 

“Kamu kenapa, sih?” Rakha menatapku bingung. “Itu cuman ponsel, Kenzie. Kenapa sampai segitunya, sih?”

Abaikan jempol kaki yang berdenyut-denyut. Aku harus bisa meyakinkan Rakha kalau ponsel ini bukan ponsel yang diberikannya pada Jessie. Aku juga harus bisa membuatnya keluar dari kamarku secepat mungkin sebelum saringan di mulutku bocor. Bisa-bisa rahasiaku terbongkar. Gawat, kan?

“Aku nggak suka barangku di pegang orang lain,” jawabku sambil meringis menahan sakit.

Rakha mengernyit. “ Sejak kapan?” Dia memiringkan kepala menatapku. “Kamu nggak sedang menyembunyikan sesuatu, kan?”

“Sesuatu apa?” aku spontan menjawab. Aku harus menutup rapat-rapat mulutku. Aku tidak boleh kelepasan bicara. Itu haram.

“Kalau nggak ada yang kamu sembunyikan kenapa begitu? Itu cuman ponsel, Kenzie. Nggak perlu sekhawatir itu, kan?”

“Aku udah bilang aku nggak suka kamu menyentuh barangku sembarangan.” 

“Aku cuman mau lihat sebentar karena ponsel itu...”

“Ponsel kayak gini nggak cuman diproduksi satu unit, Rakha,” sambarku cepat. Ini orang kenapa sih masih ngeyel juga. “Yang beli bukan cuman kamu.”

“Iya aku tahu,” jawabnya kalem saja. Dia tidak terpancing nada suaraku yang terdengar sedikit emosi. “Tapi ponsel itu ada sedikit goresan di tepinya. Aku nggak sengaja menjatuhkannya. Sama kayak ponsel yang aku kasih sama...” Rakha berhenti.

Aku mengangkat wajah. “Sama siapa?”

Rakha menggeleng, lantas bergerak menjauhi meja. “Bukan siapa-siapa. Nggak ada hubungannya sama kamu.”

Aku mencebik. Tiba-tiba lampu di kepalaku menyala terang. Sedikit ide melintas. Tidak ada salahnya aku sedikit bersenang-senang pagi ini. “Jangan-jangan yang kamu kasih ponsel cewek itu?”

Rakha yang hampir mencapai pintu spontan berbalik. “Cewek yang mana? Jangan sembarangan.”

Aku tersenyum lebar. “Aku pernah lihat kamu makan berdua sama anak kecil di kafe Arimbi. Dia pacar kamu, Kha?”

Rakha menatapku sebal. “Jangan asal ngomong.”

Lihat selengkapnya