BENCI TAPI CINTA, CINTA TAPI BENCI

Najma Gita
Chapter #17

17

Aku mengerang lantas meletakkan kepala di atas meja. Jariku menyentuh gelas es kopiku yang tinggal separuh. Embun yang merembes di luar permukaan gelas menimbulkan sensasi dingin di ujung jari. Tapi sayangnya tidak sampai meresap ke dalam hati. Dinginnya tidak mampu meredakan hatiku yang terlanjur panas. Ini semua gara-gara Rakha. Si curut itu sangat menyebalkan dan semakin berani menekanku. Ini bencana.

Jessica memutar bola matanya dan menghela napas. Menyilangkan tangannya di dada, menatapku tanpa iba. “Apa gue bilang? Lo cari penyakit, sih.”

“Gue nggak nyangka bakalan kayak gini, Jess,” aku membela diri. “Ini jauh melenceng dari rencana awal. Gue nggak suka.”

Jessica kembali memutar bola matanya. “Gue sudah bilang dari awal. Rencana lo nggak bakalan berhasil. Sulit, Kenzie, sulit. Ini Rakha lho, yang otaknya setingkat lebih encer dari otak elo. Ralat, bukan setingkat. Tapi beberapa tingkat lebih encer dari otak lo."

Aku menegakkan badan lantas mendelik. Iya, aku tahu sejak dulu waktu kami masih sekolah, nilai Rakha memang selalu di atasku. Meskipun segala macam cara aku lakukan, entah itu mengikuti bimbingan belajar, rajin mengerjakan latihan soal, atau belajar semalam suntuk pun tidak bisa membuatku lebih unggul dari Rakha. “Nggak usah dijelasin kayak gitu juga kali,” omelku.

“Kenapa? Lo nggak terima?” Tanpa perasaan Jessica malah tertawa. Dasar perempuan sinting. Apa dia kira ini lucu? Bisa-bisanya tertawa di atas penderitaan sahabatnya. Menyebalkan. 

“Iya, gue terima. Memang kenyataannya begitu, kan?” sahutku sebal. 

“Makanya jangan sok pintar.”

“Maksud gue cerita sama elo supaya lo bantuin gue cari solusi. Bukannya malah nyalah-nyalahin gue,” omelku.

Jessica mengarahkan bola matanya ke atas, lantas mengarahkan telunjuknya tepat di depan hidungku. “Lo itu bebal, Zie. Sebuah omongan nggak akan bikin kamu berhenti, sebelum lo kena batunya sendiri.”

Meskipun sebal, aku tetap mengangguk membenarkan. “Iya, sih.”

“Coba lo ingat-ingat, berapa kali gue nyuruh berhenti? Nggak cuman sekali, kan?” Aku mengangguk lagi. “Jadi salah siapa, dong?”

“Iya, gue tahu semua salah gue,” sahutku cepat. “Tapi awalnya lo kasih gue dukungan kan, Jess?”

“Karena gue kira nggak bakalan sejauh ini, Kenzie.”

“Nanggung, Jess,” aku masih berusaha membela diri. “Gue kira ini bakalan berhasil dan...”

“Nyatanya apa?” sambarnya cepat memotong kata-kataku. “Lo sendiri yang makan umpan yang lo pasang sendiri. Lo yang mulai, lo juga yang menentukan alurnya tapi lo sendiri juga yang kebingungan nentuin ending-nya. Sutradara macam apa itu? Kalau kerjaan lo bikin film gue berani taruhan film lo nggak bakalan laku,” Jessica mencebik. 

Aku cemberut, tapi tidak membantah lagi. Yang dikatakannya memang benar, kok. Jadi apa lagi yang bisa aku gunakan untuk membela diri? Tidak ada.

Aku menceritakan pada Jessica yang terjadi antara aku dan Rakha hari itu. Semuanya tanpa terlewat, sedetail mungkin. Hanya yang terjadi di kafe Arimbi. Tentu saja yang terjadi di kamarku malam itu tidak lulus sensor untuk diceritakan. Aku memang terbiasa menceritakan apapun pada Jessica, begitu juga sebaliknya. Tapi untuk yang satu ini aku enggan menceritakannya pada siapapun, termasuk Jessica. Biarlah tetap menjadi rahasia yang aku dan Rakha sendiri yang tahu. Aku yakin kok si curut itu tidak akan mengatakannya pada siapapun. Mulut laki-laki kan tidak semudah perempuan dalam berbagi rahasia dengan sahabatnya. Mulut perempuan cenderung ember ya seperti mulutku ini.

Aku mendesah panjang. “Jadi, gue harus gimana, Jess?” 

“Gampang,” Jessica mengangkat gelasnya. “Nggak usah ketemu lagi.”

Dia kira segampang itu? Rakha beberapa kali mengirim pesan menanyakan jawabanku. Pernah menelepon juga, sih. Tapi aku tidak pernah mengangkat telepon darinya. Rakha meneleponku, maksudku Jessie, waktu aku berada di rumah. Bisa langsung ketahuan dong kalau aku menerima teleponnya, sedangkan ruangan kamarku tidak didesain kedap suara. Meskipun Rakha lebih pintar dariku, tapi aku tidak sebodoh itu.

“Gue terlanjur janji bakal kasih jawaban minggu depan.” Aku menyodorkan ponsel Jessie pemberian Rakha memperlihatkan isi chat dengan Rakha. 

Jessica mengambil ponsel yang aku sodorkan lantas membaca isi chat-ku dengan Rakha. “Lo emang nggak waras, Zie. Kayaknya lo perlu dirukyah. Kali aja jin usil yang nempel di badan lo langsung kabur.” Jessica meletakkan ponsel itu di meja. 

“Gue harus gimana, dong?” Aku mengerang.

“Kenapa nggak langsung lo tolak? Gue udah bilang itu terakhir kali lo jadi Jessie di depan Rakha, kan?”

“Itu...” Aku menggaruk kepala. “Dia nggak bisa ditolak, Jess.”

Jessica memutar bola matanya. “Itu bukan alasan, Kenzie. Kalau lo tetep keukeuh nolak, gue yakin Rakha nggak bakalan maksa juga. Lo aja yang nggak sepenuh hati nolaknya.”

“Jadi?”

“Nggak ada cara lain selain ketemu, kan? Lagian lo udah janji kasih jawaban,” Jessica mengedik.

“Gue tahu, kok.” Aku tidak mendebatnya lagi. 

“Jangan lupa lo tolak,” kata Jessica.

Aku mencebik. Tentu saja aku tolak. Aku tidak gila dengan menerima Rakha menjadi pacarku. Pacar Jessie maksudku. Cari penyakit saja. “Itu susah pasti, Jess.”

“Gue cuman ingetin. Siapa tahu otak lo korslet dan lo lupa.” Jawabannya spontan membuatku cemberut. 

“Sialan,” omelku sebal.

“Nggak usah ngomel-ngomel,” Jessica mengangkat gelasnya.

 Tiba-tiba pandanganku terfokus pada laki-laki yang duduk agak jauh membelakangi meja yang kutempati bersama Jessica. Aku jelas tahu siapa laki-laki itu. Rakha. Sedang menikmati makan malam bersama seorang perempuan yang baru pertama kali aku lihat jalan dengannya. Cantik, dengan dandanan up to date yang si berengsek itu sukai. Bagaimana tidak berengsek, dia baru saja menciumku dan sekarang dia duduk berdua dengan perempuan lain sedang makan malam romantis. Menyebalkan.

Lihat selengkapnya