BENCI TAPI CINTA, CINTA TAPI BENCI

Najma Gita
Chapter #18

18

Aku menatap makanan yang tersaji tanpa minat. Rasa tidak sabar ingin segera terlepas dari kekonyolan yang aku buat sendiri mampu mengalahkan rasa lapar dan haus yang aku tahan sejak pagi. Tahan sebentar saja. Setelah ini aku akan merayakan kebebesanku dengan makan sepuasnya dan minum soda sampai kembung. Pasti menyenangkan. Tidak sabar lagi rasanya.

“Nggak makan?” Rakha menunjuk isi piring yang belum aku sentuh. “Nggak lapar?”

Aku menggeleng. Aku sedang tidak ingin basa-basi. Apalagi duduk berlama-lama disini. Yang aku inginkan hanya cepat menyelesaikannya dan pergi. Setelah itu akan akan mengucapkan selamat tinggal pada Jessie. 

Rakha tertawa. “Sejak kapan sih kamu jadi sungkan gini, Jessie? Biasanya kamu nggak pernah jaga imej kalau di depanku.”

“Langsung ke intinya aja, Mas,” kataku tidak sabar.

Rakha mengernyit. “Inti apa?” tanyanya dengan raut pura-pura polos. 

Astaga, rasanya aku ingin memukul kepalanya dengan sendok supaya otaknya bisa berfungsi dengan baik. Aku yakin dia sengaja. Entah apa tujuannya, aku tidak tahu dan tidak ingin tahu.

Baiklah. Aku tidak akan mengulur-ulur waktu lagi. Aku akan mengatakan maksudku dengan jalan kemudian mengucapkan salam perpisahan. Aku akan membuatnya sedikit lebih dramatis. “Nggak usah pura-pura lupa deh, Mas,” aku menatapnya. “Aku ke sini bukan buat makan.”

Rakha balas menatapku lantas berkata dengan tenang,” Nggak ada salahnya makan dulu, Jessie. Adu argumen juga butuh energi. Kerja otak akan sedikit menurun kalau kita nggak kasih dia nutrisi. Apalagi dalam masa pertumbuhan kayak kamu gini. Asupan gizi dan nutrisi harus cukup supaya pertumbuhan kamu nggak terhambat.”

Aku memutar bola mata. Aku tidak membutuhkan konsultasi gizi sekarang. Mau dikasih makan apa pun dan sebanyak apa pun perawakanku tidak akan berubah. Dalam masa pertumbuhan aku tidak kekurangan gizi. Apa yang dia makan itu juga yang masuk ke perutku. Jadi sudah takdir Tuhan kalau aku tidak memiliki bentuk badan tinggi menjulang layaknya model.

“Makan dulu, gih!” katanya menunjuk piringku. “Habis ini kita bicara.”

Aku tidak menjawab lagi. Mendebatnya pun percuma. Aku tidak tahu ternyata Rakha banyak bicara, pintar mendebat pula. Meskipun tinggal satu rumah, kami jarang berinteraksi. Jadi kami tidak pernah bicara panjang lebar layaknya saudara yang akrab. Karena hubungan kami memang tidak pernah akrab.

Lezatnya menu yang dipilih Rakha untukku tidak bisa membuatku menikmatinya dengan sepenuh hati. Aku tidak sabar mengakhiri sandiwara konyol ini. Lagi pula aku sudah janji pada Jessica kalau aku akan berhenti berpura-pura dan mengatakan selamat tinggal pada Jessie. Tapi aku tidak menduga kalau akan sesulit ini. Padahal dalam pikiranku sebelumnya aku hanya tinggal bilang pada Rakha kalau aku, maksudku Jessie, tidak mau menemuinya lagi. Tapi lagi-lagi dia mempersulit usahaku. Atau jangan-jangan dia sudah tahu apa yang akan aku katakan? Makanya dia sengaja mengajakku berputar-putar lebih dulu. Menyebalkan.

Aku mendorong piring ke depan setelah aku menghabiskan setengahnya. Pikiranku yang tidak fokus membuat indera perasaku tumpul terhadap makanan yang disajikan. “Aku udah makan. Waktunya kita bicara sekarang,” kataku lagi. Aku tidak akan membiarkan Rakha mengendalikan situasi. Akulah peran utama di sini yang menentukan alur cerita. Bukan dia. Rasanya menyebalkan setelah rencana yang sudah kususun terpaksa berbelok arah karena aku terlalu meremehkan Rakha. 

“Belum habis, Jessie,” dia menunjuk piring di depannya yang masih berisi separuh. “Aku nggak terbiasa menyisakan makanan, Jess. Itu peraturan yang diberikan orang tuaku sejak kecil. Mereka bilang banyak di luar sana yang kurang beruntung. Mereka harus bekerja keras demi memperoleh sepiring nasi. Kenapa kita yang diberi kelebihan malah buang-buang makanan? Kesannya nggak bersyukur banget, kan?”

Aku mengarahkan bola mata ke atas. “Mas Rakha nyindir?” Aku tahu peraturan itu memang berlaku di rumah. Dan aku tidak lupa. Aku hanya ingin cepat-cepat menuntaskan kekonyolan ini dan mengatakan say goodbye padanya. Dengan senyum kemenangan tentunya. 

Dia menggeleng. “Cuman kasih tahu, Jess. Belajar peka sejak dini nggak ada salahnya, kan?”

Aku mendengus sebal lantas kembali menarik piringku mendekat. Piringku langsung kosong dengan beberapa suapan besar. Lebih baik mematuhinya dan pergi setelah perkara ini selesai. 


Aku menunggu sampai Rakha menaruh gelasnya kembali ke meja. Lantas berkata dengan tidak sabar. “Aku rasa sudah cukup jelas, aku nggak mau jadi pacar Mas Rakha.”

Rakha mengernyit. Di rautnya tidak tampak kekagetan sedikitpun. “Kenapa?”

Aku mendengus. “Bukankah udah jelas? Aku nggak mau punya pacar player.”

Rakha tersenyum lantas menjawab kalem. “Jangan suka cepat-cepat menarik kesimpulan. Yang terlihat kadang nggak sama dengan kenyataan.”

“Nggak sama gimana?” sambarku cepat. “Aku lihat sendiri kok Mas Rakha mesra-mesraan sama cewek cantik. Seksi lagi.”

Lihat selengkapnya