BENCI TAPI CINTA, CINTA TAPI BENCI

Najma Gita
Chapter #19

19

Jerit protes para cacing di dalam perut membuatku terbangun. Hampir tengah malam. Kenapa para penghuni perut ini melakukan demonstrasi di jam-jam tidak wajar seperti ini, sih? Setidaknya mereka bisa menunggu sampai waktunya bulan berganti shift dengan matahari.

Baiklah, tidak ada gunanya menggerutu. Kali ini aku akan membiarkan para cacing itu menang. Toh makan tengah malam begini tidak akan membuat berat badanku naik secara signifikan. Banyak yang iri dengan berat badanku yang tidak akan banyak berubah meskipun aku makan dengan porsi menurut mereka berlebih untuk ukuran perempuan. Tapi bukan berarti makanku banyak atau aku pemakan segala tanpa memedulikan jumlah kalori yang masuk ke perut, hanya saja aku tidak perlu melakukan diet ketat dengan hanya memakan sayuran dengan porsi banyak seperti mereka. Cacing-cacing itu akan melakukan tugasnya setelah makanan yang kutelan masuk ke perut. 

Kalau mereka iri dengan berat badanku yang menurut mereka ideal tanpa harus menghitung jumlah karbo dan kalori, aku iri dengan postur tubuh mereka. Meskipun harus sangat memperhatikan apa saja yang mereka makan, tapi hasilnya sepadan dengan hasil yang mereka peroleh. Postur tubuh yang menjulang diimbangi dengan berat badan yang ideal adalah impian setiap perempuan. Tidak terkecuali aku.

Pintu kamar Rakha tidak tertutup sempurna waktu aku lewat di depan kamarnya. Dia belum tidur atau belum pulang? Untuk menuntaskan rasa penasaran aku mengintip dari celah pintu yang terbuka. Gelap. Sepertinya dia belum pulang. Apa yang dia lakukan di luar sana sampai tengah malam begini belum pulang? Memang sih, dia bukan anak kecil lagi. Orang tua kami sudah tidak memberlakukan jam malam lagi setelah kami dewasa. Tapi aneh saja si curut itu keluar sampai hampir tengah malam di hari-hari seperti ini. Maksudku ini bukan weekend. Dan dia mesti bangun pagi untuk bekerja besok. 

Aku memutuskan mengabaikan Rakha. Memberi makan cacing di perutku lebih penting daripada memikirkan si curut itu. Toh dia sudah dewasa. Dia bisa menjaga dirinya sendiri. Rugi benar kalau aku sampai mengkhawatirkannya. 

Kopi masih tersisa setengah, roti yang aku makan belum seluruhnya dieksekusi lambung dengan sempurna waktu aku mendengar suara sedikit berisik dari pintu depan. Aku tidak perlu mengangkat bokongku untuk melihat siapa. Aku sudah bisa menebaknya dan tebakanku seratus persen benar. Suara langkahnya semakin mendekat. Rakha pasti langsung naik ke kamarnya, jadi aku tidak perlu bertemu dengannya. Dan aku akan kembali ke kamar setelah benar-benar yakin Rakha berada di dalam kamar dan mengunci pintunya. 

Aku mengangkat kepala waktu suara berisik kursi di depanku digeser. Perkiraanku ternyata salah. Aku kira dia akan langsung ke kamarnya mengingat ini sudah hampir lewat tengah malam. Tapi dia malah ikut-ikutan nongkrong di dapur.

Aku melongo melihat penampilannya yang sama sekali tidak sedap dipandang. Wajah masam dengan sebelah pipi memerah seperti bekas tamparan. Ya, memang itu bekas tamparan. Jari-jari lentik tercetak jelas disana. “Itu kenapa?” aku menunjuk pipi kirinya.

Rakha diam saja. Dia malah menarik cangkir kopi di depanku dan meminumnya tanpa permisi. Tumben banget dia sembarangan seperti ini, seharusnya dia melihat kalau isi cangkir itu tinggal separo.

“Berantem sama cewek mana sih, sampai babak belur gitu?” tanyaku lagi sambil menahan tawa. Lupakan sejenis rasa toleransi dan solidaritas. Kejadian ini terlalu menarik untuk dilewatkan.

Rakha berdecak. “Cerewet.” Tangannya meraih roti yang tinggal separo di piring. Sepertinya setelah mengalami insiden pemukulan, si curut ini kelaparan. Kasihan juga. Rahangnya pasti sakit untuk mengunyah.

Aku mencebik. “Nggak elit banget sih, Kha, pulang malam cuman gara-gara berantem.” 

Rakha menatapku kesal. “Bisa diam nggak?”

“Nggak,” aku nyengir lebar. Jelas terlihat rautnya yang semula sudah kesal bertambah kesal sekarang. “Aku boleh nebak nggak?” 

Rakha berdecak sebal. Tapi tidak mengatakan sepatah kata pun. 

“Kamu ketahuan selingkuh, ya?” Aku semakin menikmati raut kesalnya. Biar saja, hitung-hitung sebagai balasan atas sikapnya selama ini padaku. Memangnya dia saja yang bisa bikin kesal orang? Aku juga bisa. “Makanya cewek kamu ngamuk, dan...” Aku pura-pura menatapnya ngeri.

“Nggak usah sok tahu,” jawabnya judes.

Aku semakin bersemangat. “Makanya Kha, jadi cowok nggak usah kebanyakan gaya. Nggak usah sok-sokan jadi Don Juan. Kalau kena pukul gitu kan tetap aja rasanya sakit. Tapi lebih sakit cewek yang kamu bohongi, sih.”

Rakha kembali berdecak dan menatapku lebih sebal dari sebelumnya. “Cerewet.”

Aku mengedik tidak peduli. “Atau jangan-jangan...”

“Apa?” sambarnya cepat. “Tumben banget kamu mau tahu.”

Ya ampun, percaya diri banget, sih. Aku memutar bola mata. “Aku cuman tanya, kan?”

Rakha kembali berdecak. “Daripada terus-terusan kepo bikin tambah sakit aja, mendingan sekarang ambilin air es buat kompres. Aku tunggu di kamar.” Dia beranjak dan pergi tanpa menoleh lagi. Sialan.

Aku spontan mendelik. Enak saja nyuruh-nyuruh. Kalau begini akhirnya menyesal juga aku bertanya. Seharusnya aku tadi diam saja pura-pura tidak melihat. Lain kali aku akan belajar dari pengalaman. Menyebalkan. 

Baiklah, kali ini aku akan membantu mengompres pipinya yang sedikit bengkak itu. Anggap saja aku sedang melakukan kegiatan amal. 

Lihat selengkapnya