BENCI TAPI CINTA, CINTA TAPI BENCI

Najma Gita
Chapter #21

21

“KHA, pokoknya lain kali kalau kita ketemu, entah itu di mana pun, pura-pura aja nggak kenal. Oke?” Aku menyamakan langkah panjangnya menaiki tangga. Lumayan bikin ngos-ngosan juga karena satu langkah kaki panjang Rakha sama dengan dua langkah kakiku yang panjangnya tidak seberapa. Tubuhku memang tergolong mungil, tinggiku hanya mencapai pertengahan dada Rakha yang berpostur jangkung. Itulah sebabnya Jessica ngotot mendandaniku ala anak SMA yang akhirnya berujung malapetaka. Andai aku lebih gigih menolak, aku tidak akan terjebak dalam keadaan rumit seperti ini. Ya, memang semua karena ulahku sendiri, sih. Tapi kalau aku tidak ada di Taman Asoka waktu itu aku tidak akan bertemu Rakha saat cosplay anak SMA. Dan kehidupanku yang aman, nyaman, damai dan sentosa akan tetap berjalan sebagaimana mestinya. Haah, aku jadi merindukan kehidupan normalku sebelum ini.

“Hmmmm.” Rakha tidak menoleh.

Aku melotot. Langkahku sempat berhenti sebelum mengejarnya kembali. Jawaban apa itu? Menyebalkan. Tapi tenang, aku tidak akan menyerah. Seratus kali pun Rakha menjawab dengan kata yang sama, seratus kali pula aku akan tetap memberikan pertanyaan. Gigih dan menyebalkan hanya beda tipis.

“Pokoknya kamu nggak usah say hello, pura-pura aja nggak lihat. Ntar aku juga bakalan gitu.”

“Hmmmm.”

Aku membuang napas. Tidak, aku tidak akan menyerah. “Tolong deh, Kha.”

“Hmmmm.” 

“Kha!” Si curut ini sepertinya sengaja menguji kesabaranku. “Bisa kan kita pura-pura nggak saling kenal? Nggak sulit, kan?”

Rakha urung membuka pintu kamarnya. Tangannya berhenti sejenak di handel pintu, lantas perlahan membalikkan badan menghadapku. Aku mengerjap sejenak setelah merasa ada sedikit perbedaan pada tatapan laki-laki di hadapanku ini. Aku menjadi... ya, sedikit gugup.

Dia berdecak. “Kamu malu kalau orang tahu kita saling kenal?” Nadanya pelan tapi mampu membuatku meremang. “Kenal denganku apa sememalukan itu buat kamu?”

Aku menganga. “Bu... bukan gitu, Kha.” Masalahnya adalah dia memperkenalkan aku sebagai pacarnya di depan perempuan yang aku tidak tahu mereka hanya sebatas teman atau perempuan itu yang mengejar-ngejar Rakha. Aku tidak mau dong dijadikan tameng untuk menolak setiap perempuan yang menyatakan cinta padanya. Reputasiku yang suci dan murni bisa ternodai.

“Kalau bukan kenapa harus pura-pura nggak saling kenal padahal faktanya kita kenal dan bahkan satu rumah.” Rakha bersedekap. Matanya tajam terus mengawasiku.

“Ng... mak... maksudku...”

“Lalu apa?”

“Be... begini, Kha,” aku memilin jari. “Alasannya karena...”

“Malu?” Sorot mata Rakha semakin terasa mengintimidasi dan sialnya dia berhasil. Berkali-kali aku menelan ludah berusaha menyembunyikan kegugupan. Raut serius dengan tatapan mata tajam dan suara rendah sedikit serak membuatku merasa berdebar-debar. Aku ini kenapa, sih? Jangan pura-pura lupa, Kenzie, dia ini Rakha. Ingat Rakha, laki-laki menyebalkan yang nggak akan membuat hidupmu tenang kalau kamu coba-coba mengusik kehidupannya.

“Ja... jangan sa...”

“Jadi?” Rakha kembali memotong seenaknya. Dia mengayunkan langkah pelan dengan tatapan tidak berubah. Jarak kami semakin dekat dan semakin dekat. 

Rakha tiba-tiba menunduk membuat jarak wajah kami hanya beberapa senti. Dadaku semakin tidak karuan saja rasanya. Jantungku memukul kuat, membuat gemuruh gaduh dari dalam. Dan sialnya pasokan oksigen ke otak mendadak berkurang karena aku tiba-tiba merasa sesak napas akibat jantungku yang semakin kencang berdetak. Ya Tuhan, apalagi ini? Jangan sampai wajahku memerah dan Rakha melihatnya. Malu!

Lihat selengkapnya