BENCI TAPI CINTA, CINTA TAPI BENCI

Najma Gita
Chapter #22

22

SEJAK kejadian malam itu di kamar Rakha, aku selalu berusaha menghindar. Aku berangkat pagi-pagi sebelum dia keluar kamar. Beberapa hari ini aku melewatkan sarapan. Akibatnya aku harus menyiapkan seribu satu alasan jika mama bertanya. Merepotkan memang, tapi mau bagaimana lagi? Pernah aku bangun agak kesiangan sehingga aku harus menunggu Rakha berangkat lebih dulu. Mengendap-endap seperti gerombolan si berat dalam cerita Paman Gober, berusaha melangkah tanpa suara, aku keluar melalui pintu samping yang tembus ke garasi lantas secepat kilat keluar halaman. Meskipun sedikit lelah harus berjalan agak jauh dari rumah, tapi lega rasanya.

"Gue nggak bisa temenin lo sekarang. Sebentar lagi gue berangkat ke Wakatobi."

"Lagi?" Aku mengernyit. Bukannya Jessica beberapa waktu lalu berangkat ke sana meliput sebuah perayaan sail internasional di sana. Dan sekarang dia akan berangkat lagi? Atau jangan-jangan ada sesuatu yang membuat anak ini rela menghabiskan beberapa jam di pesawat. Apa dia kepincut warga lokal waktu meliput perayaan waktu itu? Dan Jessica berniat menyembunyikannya dariku. 

Jessica mengangguk. "Kali ini bukan gue kameramennya. Gue bantu-bantu doang." Tangannya sibuk memasukkan beberapa barang ke dalam tas ransel.

Aku memiringkan kepala. "Hmmm, sepertinya ada hal yang nggak biasa."

"Nggak biasa apanya?" Jawabnya tanpa menoleh.

"Ada yang lo sembunyiin dari gue?" Todongku langsung.

Jessica menggeleng. Tangannya sibuk menjejalkan beberapa benda ke dalam tas ranselnya yang terlihat mulai penuh.

"Yakin?" Aku tidak percaya begitu saja. Aku paham betul bagaimana Jessica. Dia mudah sekali terpesona dengan hal-hal baru. Tidak terkecuali dengan makhluk Tuhan yang bernama laki-laki. Melihat dari sifatnya itu, bukan tidak mungkin kalau tebakanku benar. Iya, soal dia terpesona dengan warga lokal Wakatobi.

Jessica beralih menatapku. "Yakin. Emang kenapa?"

"Lo punya gebetan di sana?"

Jessica tidak bisa menahan tawanya. "Lo kira gue sanggup pacaran jarak jauh? No... no... ya. Gue bukan tipe cewek yang mudah percaya yang namanya long distance relationship. Yang ketemu tiap hari aja selingkuh, apalagi yang ketemu sebulan atau dua bulan sekali doang. Nggak!"

"Jadi?"

"Jadi apa?"

"Apa yang bikin lo berangkat ke sana kalau ini bukan kerjaan lo?" 

"Mas Rommi nawarin gue buat jadi asistennya," jawabnya otomatis membuatku spontan melebarkan mata.

"Rommi?" Aku mengulang nama yang tadi disebutnya. "Gue nggak salah dengar, kan?"

Jessica mengangkat bahu lantas menggeleng. "Beneran, Zie."

"Bukan lo yang nawarin diri, kan Jess?" Alisku berkerut menatapnya. Aku tahu betul sahabat dekatku ini memiliki perasaan spesial terhadap laki-laki bernama Rommi ini. Aku tidak kenal dekat dengan Rommi, hanya beberapa kali bertemu karena mengikuti Jessica. Dan menurut penilaianku Rommi-Rommi ini laki-laki yang baik. Tapi masalahnya dia sudah memiliki kekasih dan Jessica tahu itu.

"Terus kenapa?"

"Ya kenapa-napa dong, Jess," sahutku cepat. "Lo tahu kalau Rommi..."

"Tahu, kok," potongnya. "Dan lo pikir kalau gue mau jadi orang ketiga di antara mereka?"

"Siapa tahu lo lagi khilaf, Jess," aku mengedik.

Jessica memutar bola matanya ke atas, "Gue bukan lo kali yang bisa khilaf berkali-kali, Kenzie."

"Kok larinya jadi ke gue?" Sambarku tidak terima.

"Buktinya lo berkali-kali bikin masalah tapi nggak kapok-kapok juga." Jessica memperbaiki duduknya, lantas mengarahkan badannya menatapku. "Lo buat masalah apa lagi? Jujur sama gue?"

Lihat selengkapnya