BENCI TAPI CINTA, CINTA TAPI BENCI

Najma Gita
Chapter #23

23

JAM dua dini hari. Mataku belum terpejam sedikit pun. Sepertinya dia menolak perintah otak untuk beristirahat. Obrolanku bersama Rakha terus berputar-putar di kepala. Kepalaku sesak dengan berbagai pertanyaan yang aku sendiri ragu dengan jawaban pastinya. Sebenarnya apa yang terjadi dengan Rakha sehingga dia tiba-tiba berubah seperti ini? Apa betul karena beberapa hari ini aku menghindarinya makanya dia merasa bersalah? Alasannya sih begitu. Tapi kalau dipikir-pikir lagi dengan sifat Rakha, dan juga kedekatan kami akhir-akhir ini rasanya ada yang tidak beres dengan sikapnya malam ini. Juga keputusan yang tiba-tiba diambilnya.

"Aku beneran minta maaf, Kenzie," katanya. "Seharusnya aku menghormati kamu sebagai saudara. Aku ngaku, kok, kalau aku keterlaluan. Aku maksa ci..."

Rakha berhenti setelah melihat aku mengangkat tangan. "Nggak usah diterusin." Aku menunduk menyembunyikan wajah yang aku yakin pasti sudah memerah. Sialan, kalimat Rakha tentu saja membuat otakku dengan otomatis memutar ulang adegan yang mati-matian ingin aku lupakan.

"Yeah, itu nggak benar. Aku keterlaluan." Gumamnya kemudian. "Aku paham kenapa kamu marah dan menghindar."

Sebagai laki-laki normal dan sudah berpengalaman, aku yakin dia pasti merasakan kalau aku tidak keberatan dengan adegan iya-iya itu. Bahasa tubuh memang lebih jujur dari pada kalimat-kalimat yang terucap. Makanya, aku menghindarinya belakangan ini. Aku yakin dia tahu itu. Aku tidak tahu apa yang membuatnya tiba- tiba membuat pengakuan bersalah dan meminta maaf. Entah dia sadar hal seperti itu seharusnya tidak terjadi diantara kami, atau dia sudah menemukan perempuan lain yang lebih menarik minatnya yang mendekatinya lebih memacu adrenalin dibandingkan denganku. Bukankah para laki-laki menyukai tantangan? Ya, pasti begitu. Apalagi dia Rakha, yang sudah kukenal hampir dua puluh tahun. Eh, tunggu! Bagaimana dengan Jessie kalau dugaanku benar Rakha menemukan perempuan lain yang lebih menantang untuk didekati. Apa itu artinya...

Terbersit semacam rasa kecewa yang aku sendiri kebingungan memahaminya. Pelan aku memberanikan diri menatap Rakha. Tatapan kami bertaut. "Kamu sadar nggak kalau kamu aneh malam ini?" Kataku pelan, hampir tidak terdengar.

Rakha hanya mengulum senyum. "Aku nggak enak sama kamu, Zie. Kamu jadi nggak nyaman di rumah kamu sendiri. Cuman gara-gara sikapku yang nggak seharusnya. Iya, sih. Aku keterlaluan ngerjain kamu. Makanya aku minta maaf."

Aku mengalihkan pandangan. Kulkas di pojok ruangan rasanya lebih menarik dari pada raut tampan Rakha di depanku. Aku kecewa, dobel. Pengakuan Rakha yang hanya mengerjaiku membuat segumpal rasa kecewa di dadaku menjadi berlipat. Ada apa ini? Kenapa begini? 

Aku berdiri, menatapnya sebentar. "Kita ngobrol lagi besok. Aku capek. Ngantuk."

Aku meninggalkannya menuju ruang tengah, menaiki tangga, lantas masuk dan menutup pintu kamar. Namun, pikiranku tetap tertinggal di meja makan bersama Rakha. Lagi dan lagi aku menarik napas panjang. Mengisi rongga dadaku dengan oksigen supaya sesaknya bisa sedikit berkurang. Sialnya, rasanya tetap saja tidak nyaman.

Rasa kecewa semakin berlipat. Padahal aku berharap Rakha menahanku dan bersikeras supaya kami mengobrol lebih lama. Nyatanya tidak. Dia hanya diam menurut sambil mengawasiku meninggalkan ruangan. Astaga, aku semakin tidak paham dengan jalan pikiranku sendiri. Seharusnya aku senang, dong, karena artinya hidupku ke depannya akan lebih menyenangkan. Tidak ada lagi makhluk menyebalkan bernama Rakha di sekitarku. Setidaknya tidak setiap hari kami bertemu. Paling-paling hanya akhir pekan saat si curut itu datang berkunjung. Ya, seharusnya ini menjadi berita yang menggembirakan. Tapi kenapa yang aku rasakan justru berbeda sekarang?

Tidak! Ini salah. Aku hanya terlalu lelah karena deadline pekerjaan yang mendesak. Ya, pasti begitu. Tidak mungkin, kan, kalau berita menggembirakan seperti ini malah membuatku merasa tidak nyaman dan kecewa? Bukannya sudah lama aku menunggu hari seperti ini akan tiba. Jadi, tidak ada alasan lagi aku kecewa. Sekarang, aku hanya perlu tidur nyenyak, dan besok pagi ketika bangun semua akan kembali seperti semula. Ya, pasti begitu.

Oke, Kenzie. Sekarang waktunya memejamkan mata. Kebahagiaanmu sudah menunggu esok hari. Aku menata ulang bantal, memposisikannya senyaman mungkin. Menarik selimut, dan memejamkan mata mencoba mengosongkan pikiran berusaha terlelap secepat mungkin. Tapi... Ya Tuhan! Sekeras apa pun mencoba aku tetap tidak bisa. Isi kepalaku terlalu riuh untuk dibawa mengarungi alam mimpi. Astaga, kenapa begini? Sebenarnya apa yang terjadi denganku?



Mataku perlahan terbuka seiring dengan ketukan pelan dari balik pintu kamar. Perasaan belum lama aku terlelap. Aku baru bisa tidur lelap menjelang subuh karena semalaman sibuk memikirkan si curut itu yang belum tentu dia juga memiliki pikiran yang sama denganku. Sialan.

Rasanya ada yang menaruh sebotol lem korea di kelopak mataku ketika aku berusaha membukanya. Aku ingin tidur sebentar lagi. Lima menit lagi. Ya, lima menit saja, tidak lebih.

"Kenzie..." Suara bariton lantas menyusul setelah aku tidak merespon. "Belum bangun? Kamu nggak ngantor hari ini?"

"Hmmm..." Aku menyahut dari dalam selimut. Entah dia mendengar atau tidak.

"Kenzie?" Dia mengulangi. "Cepetan bangun! Ntar kamu telat."

"Hmmm..." Responku masih sama.

Lihat selengkapnya