Di lorong bawah tanah Ivybridge University, jauh di balik pintu yang tak bertanda dan berkarat, sebuah cermin berdiri sendirian. Ukurannya hampir setinggi langit-langit, bingkainya dihiasi sulur-sulur ivy yang sudah mengering, seolah tumbuh dari batu itu sendiri. Debu menempel tebal, dan udara di sekitarnya terasa lebih dingin dibandingkan ruang lainnya—seperti ruangan itu tidak pernah disentuh waktu.
Namun, tidak ada yang benar-benar kosong di tempat itu. Jika seseorang cukup berani untuk mendekat, dan cukup bodoh untuk menatap terlalu lama, ia akan melihat sesuatu yang berbeda. Sesuatu yang... tidak sepenuhnya miliknya.
Refleksi dalam cermin itu tidak selalu meniru. Kadang ia tersenyum ketika kau tidak. Kadang ia menatap balik dengan kebencian yang belum kau pahami. Dan kadang, hanya kadang, ia memanggilmu diam-diam dalam mimpi.
Pada malam-malam tertentu, saat kabut menggulung di halaman Ivybridge dan lonceng menara berdentang dua kali, cermin itu berbisik. Tentang mereka yang dulu datang. Tentang mereka yang tak pernah kembali.
Dan tentang satu orang lagi yang akan segera tiba.
Seseorang bernama Jude Thorne.
Kereta terakhir berhenti dengan decitan panjang di stasiun Wexley. Embusan angin musim gugur menyambut para penumpang yang turun, membawa serta aroma tanah basah dan daun kering yang terinjak. Di antara kerumunan, seorang pemuda berjaket hitam panjang turun perlahan dengan koper di tangannya.
Jude Thorne menatap papan nama stasiun yang mulai pudar. "Wexley Station," tulisannya nyaris terhapus, namun cukup jelas untuk menegaskan bahwa ia sudah tiba di tempat yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya.
Ia menghela napas, menahan sesak yang tak ia mengerti sepenuhnya.
Taksi tua yang ia pesan sebelumnya sudah menunggunya di luar stasiun. Supirnya, pria paruh baya dengan topi kusam, hanya mengangguk tanpa banyak bicara. Jude meletakkan kopernya di bagasi dan masuk ke dalam mobil.
Sepanjang perjalanan menuju kampus, hujan gerimis mulai turun. Pepohonan tinggi di sepanjang jalan menggoyangkan cabangnya, seolah menunduk menyambut atau mungkin memperingatkan. Jude memandangi tetes air di jendela, pikirannya melayang pada hidup lamanya di Boston—kamar kecilnya, catatan musik yang belum selesai, dan orang-orang yang perlahan ia tinggalkan.
"Pertama kali ke Ivybridge?" tanya sang sopir, memecah keheningan.
"Iya," jawab Jude singkat.
"Sekali masuk, biasanya tak ingin keluar. Atau tak bisa," pria itu tertawa kecil, tapi nadanya terasa ganjil. Seperti ada maksud lain di baliknya.
Jude hanya tersenyum samar, tak ingin melanjutkan obrolan. Ia kembali menatap jendela, dan dalam bayangannya sendiri, ia merasa seolah tempat ini—yang belum benar-benar ia kenal—sudah menunggunya sejak lama.
Ivybridge University berdiri angkuh di ujung bukit. Bangunannya menjulang, dengan menara-menara batu bermahkota gargoyle yang mengawasi dari atas. Sulur-sulur ivy menutupi sebagian besar dindingnya, seperti tangan hijau yang mencengkeram batu.
Jude menatap kampus itu begitu keluar dari taksi. Ada sesuatu dalam udara di sekitarnya—dingin yang bukan sekadar cuaca. Kampus itu seperti hidup. Diam, tetapi sadar.
Ia menarik koper dan berjalan menuju gerbang utama. Di sana, seorang wanita muda dengan clipboard menyambutnya.
"Jude Thorne?" tanyanya dengan nada formal namun ramah.
"Ya."
"Saya Harper, asisten dari bagian orientasi. Selamat datang di Ivybridge." Ia mengulurkan tangan, yang disambut Jude dengan canggung. "Kamar Anda sudah disiapkan di asrama Galloway. Kita akan berjalan kaki ke sana."
Mereka melintasi halaman luas yang dipenuhi dedaunan gugur. Di kejauhan, terlihat perpustakaan utama—bangunan besar dengan jendela kaca patri dan atap melengkung.
"Itu perpustakaan?" tanya Jude.
"Ya. Tempat favorit sebagian besar mahasiswa... atau setidaknya, bagi mereka yang tidak takut tersesat di dalam," ujar Harper sambil tersenyum aneh.
Jude menoleh padanya, mencoba membaca maksud kalimat itu, namun Harper sudah melangkah lebih cepat.
Sesampainya di asrama, ia diberi kunci kamar dan brosur panduan kampus. Jude mengangguk singkat, lalu menaiki tangga menuju lantai dua. Kamar 207. Bau kayu tua dan debu menyambutnya saat ia membuka pintu. Tidak besar, namun cukup nyaman. Sebuah ranjang, meja belajar, dan jendela kecil yang menghadap ke taman belakang.
Ia meletakkan koper di samping ranjang dan duduk. Hening.
Sambil menatap langit kelabu di luar jendela, Jude merasakan detakan jantungnya melambat. Di balik ketenangan kamar itu, pikirannya justru bergejolak.
Sesuatu akan terjadi di tempat ini.
Ia tidak tahu dari mana perasaan itu berasal. Tapi ia merasakannya, jelas. Seperti bisikan yang belum terdengar, namun sudah membentuk gema dalam pikirannya.
Dan di luar sana, cermin itu...
...sudah menunggu.
Keesokan harinya, udara kampus terasa semakin asing. Walaupun suasana Ivybridge University penuh dengan mahasiswa yang berlalu-lalang, Jude merasa seperti ia terjebak dalam dunia yang berbeda. Kampus ini, meski indah, memiliki aura misterius yang tidak bisa ia singkirkan. Bayang-bayang gedung-gedung tua dan lorong-lorong sempit membuatnya merasa terisolasi.
Setelah sarapan pagi yang disiapkan di ruang makan asrama, Jude memutuskan untuk mengeksplorasi kampus lebih jauh. Ia mendengar dari Harper bahwa perpustakaan utama adalah tempat yang wajib dikunjungi—meskipun Harper juga sempat menyebutkan dengan nada yang sedikit mencurigakan bahwa banyak orang sering tersesat di sana.
Perpustakaan itu, seperti bangunan kampus lainnya, penuh dengan nuansa gotik. Dinding-dindingnya terbuat dari batu tua yang berlumut, dengan jendela-jendela besar yang memancarkan cahaya temaram. Saat memasuki ruang utama, Jude terpesona oleh ribuan buku yang terjejer rapi di rak-rak kayu yang menjulang tinggi, hampir menyentuh langit-langit.