Beneath The Ivy Mirror

Penulis N
Chapter #2

2

Jude tidak bisa menepis perasaan gelisah yang menggerogoti hatinya. Semakin dalam ia terperangkap dalam misteri Ivybridge, semakin besar kekuatan yang menariknya. Sebastian benar—ada sesuatu yang mengerikan yang tersembunyi di balik semua ini, dan Jude merasa bahwa ia tidak bisa mundur lagi. Bagaimanapun, tidak ada jalan kembali setelah membuka pintu ini.

Hari berikutnya, Jude memutuskan untuk pergi ke tempat yang selama ini ia hindari—ruang bawah tanah yang terletak di sisi barat kampus, tempat yang katanya menyimpan lebih banyak rahasia daripada yang bisa dibayangkan oleh siapa pun. Evelyn pernah mengatakan bahwa banyak siswa yang menghilang setelah menyentuh benda-benda di sana. Beberapa dari mereka bahkan dipercaya telah terjebak dalam cermin yang pernah dibicarakan oleh Sebastian.

Namun, rasa ingin tahunya lebih besar daripada rasa takut yang menyelimuti dirinya.

Langkahnya semakin berat saat ia turun ke tangga kayu yang usang menuju ruang bawah tanah. Bau lembap dan berdebu menyambutnya begitu ia memasuki ruangan itu. Dengan hanya sedikit cahaya dari lampu senter yang ia bawa, suasana itu terasa lebih gelap dan menakutkan daripada yang pernah ia bayangkan.

Di tengah ruangan, sebuah rak tua dengan berbagai artefak terletak di sana. Di antara benda-benda tersebut, sebuah cermin besar, terbalut kain hitam, berdiri tegak di sudut. Cermin itu tampak lebih besar dan lebih menakutkan dari apa pun yang pernah dilihat Jude. Ada sesuatu yang ganjil tentang cermin itu, sesuatu yang membuat darahnya berdesir dingin.

Tangan Jude gemetar saat ia mendekatkan diri ke cermin. Setiap langkah yang ia ambil membuat jantungnya berdegup lebih cepat, seperti mendekati sesuatu yang berbahaya namun tak bisa ia hindari.

Dengan hati yang berdebar, Jude menarik kain penutup itu.

Seketika, sebuah kilatan cahaya menyinari ruangan, dan seolah dunia sekitar Jude terhenti. Cermin itu memantulkan gambar yang tak bisa ia pahami—bayangan wajahnya, namun ada sesuatu yang berbeda tentangnya. Seakan-akan cermin itu menampilkan dirinya dalam dunia yang terbalik, sebuah dunia yang asing, gelap, dan penuh bayang-bayang mengerikan.

Jude merasa seperti ia jatuh ke dalamnya, meski ia tahu itu mustahil.

Tiba-tiba, sebuah suara lembut namun mengancam terdengar dari dalam cermin, seperti bisikan yang hanya bisa ia dengar.

"Jude... kau sudah terjebak. Tidak ada jalan kembali."

Jude mundur dengan cepat, namun cermin itu tampaknya menariknya lebih kuat. Tangan Jude menyentuh bingkai cermin itu, dan dalam sekejap, ia merasakan sensasi aneh yang membuat tubuhnya melayang, seolah ia terhubung dengan dimensi lain.

Mata Jude terbuka lebar, namun ia mendapati dirinya sudah berada di tempat yang tidak ia kenali. Dunia itu gelap, kabut tebal menyelimuti tanah yang keras. Tak ada suara selain desahan angin yang dingin. Di kejauhan, bayang-bayang bergerak, melayang seperti roh-roh yang tidak memiliki bentuk.

Di hadapannya, sebuah pintu besar terbuka, seolah menanti untuk ia lewati.

Jude merasa jantungnya berdetak semakin cepat. Ia tahu, ia harus melalui pintu itu. Tidak ada pilihan lain.

Namun, saat ia melangkah maju, sebuah suara terdengar lagi, kali ini lebih jelas, lebih keras.

"Jude... ini bukan dunia yang kau kenal."

Suara itu bukan lagi dari cermin. Itu adalah suara yang datang dari dalam dirinya—dari pikirannya sendiri. Ia berhenti sejenak, berusaha untuk memahami suara itu, namun tak ada jawaban yang muncul. Hanya ada kesunyian yang menekan.

Tanpa pikir panjang, ia melangkah ke depan, menembus kabut yang semakin pekat.

Kegelapan yang Mengancam

Jude terus melangkah, meskipun kesadaran akan ketakutan yang semakin mendalam mencekamnya. Ia tahu bahwa ia tidak bisa mundur. Tidak ada jalan kembali. Setiap langkah yang ia ambil membawa dirinya lebih jauh ke dalam dunia yang belum pernah ia pahami.

Kabut yang pekat itu perlahan mulai terbelah, dan di kejauhan, ia melihat sebuah cahaya—sebuah cahaya yang sangat menyilaukan. Namun, saat ia mendekat, cahaya itu tidak memberikan kehangatan. Justru, ada rasa dingin yang menular ke dalam tulang-tulangnya, dan setiap detik yang berlalu, semakin banyak bayang-bayang yang mengintai di sekelilingnya.

"Jude..." suara itu terdengar lagi, semakin jelas. "Kau seharusnya tidak berada di sini."

Jude berhenti, dan tiba-tiba, sosok seseorang muncul di hadapannya. Sosok itu tampak familiar, namun wajahnya kabur dan kabut menyelimutinya.

"Siapa kamu?" tanya Jude dengan suara serak.

Sosok itu tidak menjawab. Sebaliknya, ia melangkah lebih dekat, dan akhirnya, wajahnya menjadi jelas—wajah Evelyn.

"Evelyn?" Jude berbisik, tak percaya. "Kau... kau ada di sini?"

Evelyn tersenyum, meski senyum itu terasa kosong, seperti senyum yang telah kehilangan makna. "Jude, kau sudah jauh melangkah. Tapi dunia ini bukan tempat untukmu. Kau sudah terlalu jauh terperangkap dalam cermin itu."

Jude merasa tubuhnya gemetar. "Apa yang sedang terjadi, Evelyn? Kenapa semua ini terjadi?"

Evelyn menatapnya dengan mata yang dalam, penuh dengan keputusasaan. "Cermin ini adalah penghubung antara dunia nyata dan dunia yang lebih gelap. Setiap orang yang mencoba mengungkap kebenarannya akan kehilangan dirinya sendiri."

"Lalu, apa yang harus aku lakukan? Apa yang harus aku temukan?" tanya Jude, suaranya terputus-putus.

Evelyn menghela napas panjang. "Kau harus kembali, Jude. Kembali ke dunia nyata, atau semuanya akan hilang. Kau tidak bisa terus berada di sini."

Namun, saat ia melangkah mundur, Evelyn tiba-tiba menghilang, dan Jude kembali terjebak dalam kesendirian.

Jude merasa seolah ia terjebak dalam dimensi yang tak berujung. Dunia di sekitar semakin kabur, dan ia hanya bisa berharap bahwa ada jalan keluar. Namun, setiap langkahnya sepertinya semakin membawa ia lebih dalam ke dalam kegelapan.

Jude tahu satu hal pasti—cermin itu bukan hanya sebuah objek. Ia adalah jebakan. Dan untuk keluar, ia harus mencari tahu apa yang telah terjadi pada Evelyn, pada Ivybridge, dan pada dirinya sendiri.

Jude terbangun dengan napas terengah-engah. Matanya terbelalak, seolah-olah ia baru saja keluar dari mimpi buruk yang tak berujung. Namun, saat melihat sekelilingnya, ia menyadari bahwa ia masih berada di dunia yang asing dan gelap itu. Ia duduk di atas tanah keras yang dingin, merasakan kesunyian yang menekan setiap indra tubuhnya.

Pandangannya beralih ke sekeliling, hanya ada kabut tebal yang menutupi hampir segala sesuatu. Meskipun ia tahu ini bukan dunia yang ia kenal, ada sesuatu yang menariknya untuk terus melangkah. Sebuah dorongan yang sulit untuk dipahami. Ia merasa terperangkap, namun sekaligus ada rasa penasaran yang tak bisa dibendung.

Tidak lama setelah ia mengumpulkan keberanian, langkahnya terhenti. Di kejauhan, ada sebuah pintu besar yang menjulang tinggi. Pintu itu tampak seperti satu-satunya jalan yang bisa ia tuju. Setiap langkahnya semakin mendekat, namun ada rasa aneh yang meliputi dirinya, seolah-olah pintu itu bukan sekadar pintu biasa.

Saat ia semakin dekat, sebuah suara lembut namun tegas terdengar dari belakangnya.

"Kau datang terlalu jauh."

Lihat selengkapnya