Beneath The Ivy Mirror

Penulis N
Chapter #3

3

Jude terpaku di tempatnya. Sosok di depan mata adalah seseorang yang sangat dikenalnya, tetapi tidak seharusnya ia berada di sini, di dunia yang asing dan penuh teka-teki ini.

"Jude," suara itu terdengar begitu tenang, meskipun ada kegelisahan yang tidak bisa disembunyikan. "Kau akhirnya sampai juga."

Jude merasakan jantungnya berdegup keras. Suara itu... suara yang begitu mirip dengan suaranya sendiri. Tatapan pria di hadapannya juga tidak asing. Sebuah cermin, yang memantulkan dirinya, tetapi bukan dirinya yang ia kenal. Sosok ini lebih tua, lebih gelap, dan ada bayang-bayang di matanya yang mencurigakan.

"Kau... siapa?" Jude berusaha untuk berbicara meskipun suara itu terasa tersendat di tenggorokannya. Suasana di sekitar mereka terasa semakin menekan, seolah dunia ini ingin menelan mereka berdua.

Sosok itu tersenyum tipis, senyum yang sangat mirip dengan senyum Jude sendiri. "Aku adalah bayangan dari dirimu yang hilang. Apa yang telah kau lakukan untuk sampai ke sini, Jude?"

Jude merasa bingung, tubuhnya kaku di tempatnya. "Aku tidak mengerti. Aku datang ke sini untuk mencari kebenaran. Untuk keluar dari dunia ini. Apa yang kau inginkan dariku?"

Sosok itu menggeleng pelan. "Aku bukan yang kau kira. Aku adalah cermin dari segala yang kau sembunyikan. Dunia ini—semuanya yang terjadi—adalah refleksi dari dirimu yang sebenarnya."

Jude merasa sesuatu di dalam dirinya terguncang. Refleksi dari dirinya? Apa maksudnya?

"Jadi, kau bukan hanya mimpi atau ilusi?" Jude bertanya, suaranya bergetar. Ia tidak tahu lagi mana yang nyata dan mana yang tidak.

Sosok itu tersenyum samar, sebuah senyum yang penuh dengan pengetahuan yang mendalam, dan seolah tahu apa yang ada di dalam hati Jude. "Aku adalah bayangan dari dirimu yang belum kau terima. Aku adalah bagian dari dunia ini yang terus menguji siapa dirimu sebenarnya."

Jude merasa seperti ada belitan es yang merayap di tubuhnya. Semua kata-kata itu seolah menembus dinding pemikirannya yang rapuh. Ia bukan hanya terperangkap di dunia yang asing ini, tetapi juga terperangkap oleh dirinya sendiri.

"Kenapa?" Jude akhirnya bertanya. "Kenapa aku? Kenapa aku yang harus melalui ini semua? Kenapa aku yang harus menghadapi diriku sendiri?"

Sosok itu berjalan mendekat, setiap langkahnya bergema dalam kegelapan yang melingkupi mereka. "Karena dunia ini hanya dapat dipahami oleh mereka yang berani menghadapinya. Dan kau, Jude, memiliki kunci untuk keluar—tapi hanya jika kau bersedia melihat dirimu yang sebenarnya."

Jude menundukkan kepala, berpikir sejenak. Kata-kata itu mengganggunya lebih dalam daripada yang ia sadari. Apakah dunia ini benar-benar cermin dari dirinya? Apakah ia sebenarnya yang mengikat dirinya dalam tempat ini, dalam dunia ini yang tak pernah ia mengerti?

"Bagaimana aku bisa keluar?" Jude bertanya, matanya menatap tajam ke arah sosok tersebut.

Sosok itu berhenti sejenak dan menatapnya dengan tatapan yang hampir penuh empati. "Kau harus menerima kebenaran, Jude. Jangan lari dari bayanganmu. Dan yang lebih penting—jangan takut pada apa yang akan kau temui."

Jude mengangguk perlahan, meskipun hatinya masih penuh dengan keraguan. Bagaimana bisa ia menerima hal yang bahkan belum ia pahami sepenuhnya?

Tiba-tiba, sosok itu mundur dan menghilang dalam kabut yang muncul secara tiba-tiba, meninggalkan Jude sendirian di tengah kegelapan. Tak ada suara, tak ada gerakan. Hanya ada kedalaman yang menekan dalam kesunyian yang tak terucapkan.

Jude menelan ludah dan melangkah maju. Ia merasa seolah dunia ini sedang mempermainkannya. Semua yang ia tahu, semua yang ia percaya, mulai retak. Apakah benar dunia ini hanya sebuah ilusi dari pikirannya? Apakah ia benar-benar bisa keluar dengan menghadapinya?

Ia melangkah lebih jauh ke dalam kegelapan, semakin mendalam, berusaha untuk mencari petunjuk lebih lanjut. Setiap langkah yang ia ambil terasa semakin berat, dan setiap detik yang berlalu terasa seolah ada beban yang lebih besar mengikatnya.

Namun, saat ia melangkah lebih jauh, sebuah suara kembali terdengar, kali ini lebih keras, lebih jelas.

"Jangan pernah lupakan siapa dirimu, Jude," suara itu mengalun dalam bisikan yang menggema di seluruh ruang.

Jude berhenti, merasa tubuhnya kaku. Ia tidak tahu dari mana suara itu datang, tetapi ia tahu satu hal—ia sedang dikejar oleh sesuatu yang lebih besar dari dirinya. Sesuatu yang akan mengungkapkan sisi lain dari dirinya yang selama ini ia hindari.

Namun, tak ada jalan mundur.

Ia harus melangkah maju.

Jude menarik napas panjang. Ia merasa seperti sedang berjalan di ujung dunia, seakan setiap langkahnya semakin jauh dari kenyataan. Kabut tebal kembali menyelimuti, dan tanah di bawah kakinya terasa seperti bergetar, seolah dunia ini sedang memperhatikannya, menguji ketahanannya. Setiap detik yang berlalu seolah menambah ketidakpastian yang menekan hatinya.

"Apa yang sebenarnya aku cari di sini?" pikirnya, pertanyaan itu terus bergema dalam benaknya. Tetapi jawabannya tetap kabur, tersembunyi dalam kedalaman yang lebih gelap dari yang ia bisa pahami.

Langkahnya semakin berat. Di sekelilingnya, pohon-pohon yang tinggi dan gelap tampak bergerak perlahan, seakan mengikuti gerakannya. Jude tahu ini bukan sekadar ilusi, tetapi bagian dari dunia yang sedang berubah sesuai dengan keinginannya. Dunia ini berperilaku seperti cermin, mencerminkan apa yang ada di dalam dirinya—tak terduga dan kadang menakutkan.

Tak lama, ia menemukan dirinya di hadapan sebuah pintu besar. Pintu itu terbuat dari kayu tua, dengan ukiran yang begitu rumit, hampir seperti cerita-cerita lama yang terlupakan. Di atas pintu itu, ada sebuah tulisan dalam bahasa yang tidak ia kenali. Namun, entah mengapa, ia merasa seperti kata-kata itu dikenal olehnya. Seperti sebuah pesan yang sudah lama tertanam dalam dirinya.

"Dunia ini hanyalah ilusi, Jude. Untuk keluar, kau harus terlebih dahulu melihat dirimu yang sebenarnya."

Jude terkejut. Itu adalah pesan yang datang begitu jelas, meskipun ia tidak tahu siapa yang mengirimkannya. Apakah itu bagian dari cermin dirinya yang hilang? Atau sesuatu yang lebih besar yang sedang mengujinya?

Dengan perlahan, ia meraih gagang pintu dan mendorongnya. Pintu itu terbuka dengan suara berderak, mengungkapkan jalan setapak yang terbuat dari batu yang bersinar redup. Di ujung jalan, ada sebuah cahaya yang memanggilnya, menyilaukan mata, namun terasa menenangkan.

Lihat selengkapnya