Beneath The Ivy Mirror

Penulis N
Chapter #8

8

Jude melangkah dengan hati yang lebih mantap, meski langkahnya tetap terasa berat. Dunia di luar ruangan itu tampak begitu asing, namun juga terasa familiar, seperti kenangan yang telah lama terlupakan. Segalanya terlihat berbeda. Tanah di bawah kakinya terasa lebih keras, udara lebih segar, dan bahkan cahaya matahari yang perlahan mulai tenggelam di ufuk barat terasa lebih hangat dari biasanya.

Dia berjalan melalui jalanan kosong yang tampaknya tak pernah berakhir. Setiap langkah terasa mengantarkannya pada sebuah pertanyaan baru—apakah ia sudah siap untuk apa yang akan datang selanjutnya? Namun, satu hal yang jelas, ia tidak bisa mundur. Ia sudah melewati titik yang tidak dapat kembali, dan ia tahu bahwa jawaban-jawaban yang ia cari hanya bisa ditemukan dengan terus melangkah maju.

Sebuah suara memecah kesunyian itu.

"Jude..." Suara itu lirih, tetapi cukup keras untuk menarik perhatian. Ia berhenti sejenak dan menoleh.

Di ujung jalan yang sepi, berdiri seorang pria. Sosoknya tampak kabur di balik cahaya senja, namun Jude bisa merasakan ada sesuatu yang kuat dan penuh tekad dalam dirinya. Pria itu mengenakan mantel hitam, wajahnya tersembunyi sebagian di balik tudung yang menutupi kepalanya, namun matanya bersinar tajam, seperti cahaya bintang di langit yang gelap.

"Siapa kamu?" tanya Jude dengan suara yang sedikit tegang, namun ada keingintahuan dalam nada suaranya.

Pria itu berjalan mendekat, langkahnya tenang, namun penuh dengan sebuah tujuan yang tak terucapkan. "Aku adalah bagian dari masa lalumu, Jude. Seseorang yang kau coba lupakan, tetapi tak pernah benar-benar bisa menghilang."

Jude merasa sesaat seperti kehilangan kata-kata. Rasa cemas mulai merayap di dadanya. "Masa lalu?" Ia berusaha menahan perasaan cemas yang mulai mencengkeram jantungnya. "Apa maksudmu?"

Pria itu berhenti beberapa langkah di depan Jude, menatapnya dengan tatapan yang dalam. "Kamu tidak ingat siapa aku, bukan? Tetapi aku tahu bahwa kamu sudah lama mencari jawabannya. Semua ini—semua yang terjadi—berhubungan denganmu, Jude."

Jude merasakan kegelapan yang mengelilingi dirinya semakin pekat. Apa yang dia maksud? Bagaimana bisa seseorang yang tidak ia kenal berkata begitu tentang dirinya? Dia merasa terjebak dalam kebingungannya, dan setiap kata yang keluar dari mulut pria itu hanya menambah kebingungannya.

"Tunggu," kata Jude, menyadari bahwa mungkin ada lebih banyak hal yang harus ia pahami. "Apa yang sebenarnya terjadi? Apa yang terjadi dengan aku dan semua yang aku coba lupakan?"

Pria itu menghela napas panjang, seolah sedang memikirkan sesuatu yang sangat berat. "Kamu telah terperangkap dalam lingkaran yang tak berujung, Jude. Ingatlah, yang kau cari adalah kebenaran tentang dirimu sendiri, dan untuk itu, kamu harus menghadapinya."

Jude mendekatkan langkahnya, mendesak. "Tapi aku tidak tahu apa yang harus aku hadapi!"

Pria itu menatapnya tajam. "Kamu harus menemukan dirimu yang hilang, Jude. Kamu terperangkap dalam bayangan yang kamu ciptakan sendiri. Dan hanya dengan menghadapi bayangan itu, kamu bisa melangkah maju. Kalau tidak, kamu akan terjebak dalam kegelapan selamanya."

Setiap kata yang diucapkan pria itu seperti menekan beban besar pada pundak Jude. Dia ingin sekali mundur, berlari dari kenyataan yang semakin terasa menakutkan. Tetapi di dalam dirinya, ada sebuah perasaan yang lebih kuat—sebuah dorongan yang mengatakan bahwa ini adalah kesempatan terakhir untuk mengetahui siapa dirinya sebenarnya.

Dia menatap pria itu, berusaha memahami lebih dalam kata-katanya. "Apa yang harus aku lakukan?"

Pria itu tersenyum tipis, lalu menjawab, "Langkahkan kakimu dan ikuti jalan ini. Kebenaran akan terungkap seiring dengan perjalananmu. Tidak ada cara lain selain melalui setiap langkah yang telah ditentukan. Kamu akan menemukan apa yang hilang, tetapi tidak tanpa membayar harganya."

Jude merasakan jantungnya berdebar cepat. Ia tahu bahwa ini bukan hanya ujian fisik atau mental—ini adalah ujian dari seluruh eksistensinya. Jika dia ingin kembali menjadi dirinya yang utuh, dia harus menghadapi masa lalunya, bayangan yang selama ini menghalangi jalan hidupnya.

Tanpa berkata lebih banyak, pria itu berbalik dan mulai berjalan menjauh, meninggalkan Jude dengan pikiran yang penuh kebingungan dan ketakutan. Namun, di dalam hatinya, Jude tahu satu hal—ia harus mengikuti jejak pria itu. Ia harus melangkah lebih jauh ke dalam kegelapan ini, meski itu berarti menghadapi sisi dirinya yang paling gelap sekalipun.

Dan dengan itu, Jude melangkah mengikuti bayangan pria tersebut, bersiap menghadapi kebenaran yang selama ini ia lari darinya.

Langkah Jude terasa berat saat ia mengikuti pria misterius itu. Setiap jejak kakinya di atas jalan yang berdebu semakin mempertegas betapa jauh ia sudah melangkah dari kehidupan yang ia kenal. Udara di sekitarnya terasa semakin dingin, meski senja mulai berubah menjadi malam yang semakin gelap. Di antara keremangan itu, pria tersebut berjalan dengan percaya diri, seolah tahu persis arah yang harus diambil.

Jude berusaha mengejar langkah pria itu, tetapi perasaan aneh menyelip di dalam dirinya. Sebuah perasaan yang tidak bisa ia jelaskan, sesuatu yang menariknya untuk lebih berhati-hati. "Apa yang terjadi denganmu?" ia berkata dalam hati, suara hatinya hampir terdengar seperti sebuah pertanyaan yang tidak bisa dijawab. "Kenapa aku merasa terhubung dengan semuanya ini?"

Malam semakin larut. Angin malam yang dingin mulai berhembus, membuat bulu kuduk Jude meremang. Mereka berjalan melalui sebuah jalanan sempit yang dikelilingi oleh bangunan-bangunan tua yang tampaknya telah lama ditinggalkan. Keheningan malam semakin mencekam, seolah tidak ada kehidupan di sekitar mereka selain dua sosok yang berjalan dalam ketenangan yang aneh.

"Kenapa kita berada di sini?" tanya Jude, memecah keheningan. "Apa yang harus aku hadapi? Apa yang terjadi dengan diriku?"

Pria itu berhenti sejenak, seolah menunggu agar Jude bisa menanyakan lebih banyak hal. "Kamu tidak bisa terus lari, Jude," jawabnya pelan, tapi penuh makna. "Masa lalu adalah bagian dari dirimu, dan kamu tidak bisa melepaskan diri darinya."

Jude menatap pria itu, mencoba mencari tahu siapa sebenarnya dia. "Apa maksudmu dengan itu? Apa yang kau inginkan dariku?"

Pria itu menoleh dan tersenyum tipis, senyum yang penuh rahasia. "Aku tidak menginginkan apa-apa darimu, Jude. Aku hanya membantu membuka matamu. Tetapi yang bisa membuka jalan itu adalah dirimu sendiri. Kamu harus menemukan ingatanmu yang hilang."

Jude terdiam. Ingatan? Apa yang dia maksud dengan ingatan yang hilang? Bukankah itu yang selama ini ia coba hindari? Kenangan yang terlalu menyakitkan untuk dihadapi. Kenangan tentang masa lalu yang tidak ingin ia ingat.

"Mengapa aku harus mengingatnya? Apa gunanya aku mengingat sesuatu yang hanya menyakitkan?" Jude bertanya dengan suara yang penuh kebingungan.

Pria itu berhenti dan menatap Jude dengan tatapan yang dalam. "Karena tanpa itu, kamu tidak akan bisa menemukan dirimu yang sejati. Tanpa kenangan, kamu hanya akan menjadi bayangan diri sendiri. Kamu akan terperangkap dalam kebingungannya."

Jude merasa ada sesuatu yang pecah di dalam dirinya. Kenangan itu... ingatan yang selama ini ia coba hindari... Ada sesuatu yang besar yang terpendam di dalamnya, sesuatu yang menyakitkan. Ia tahu bahwa pria ini, meskipun misterius, memiliki kunci untuk membuka pintu yang terkunci dalam dirinya. Pintu yang sudah lama ia tutup rapat-rapat.

Lihat selengkapnya