Beneath The Ivy Mirror

Penulis N
Chapter #14

14

Udara di sisi lain terasa berbeda. Tidak hanya dingin, tapi penuh... kesadaran. Seolah-olah hutan itu hidup—bukan sekadar hidup seperti tumbuhan biasa, tetapi seperti makhluk yang menyimpan ingatan dan dendam.

Langkah Jude dan Claire nyaris tak terdengar di tanah lembap yang dipenuhi lumut hitam kebiruan. Daun-daun di atas mereka berdesir pelan, tapi tidak ada angin. Mereka saling pandang, menyadari hal yang sama: tempat ini memperhatikan mereka.

"Ini seperti berjalan di dalam mimpi buruk," bisik Claire, menggenggam pelan gagang senjatanya.

Jude mengangguk. "Tapi mimpi buruk ini terasa... nyata."

Mereka belum melangkah jauh ketika suara pelan muncul dari balik pepohonan—seperti bisikan, tapi dalam bahasa yang tak mereka mengerti. Jude menoleh cepat, matanya menyapu gelapnya batang pohon, tapi tak ada yang terlihat.

Namun Claire membeku.

"Jude," ucapnya lirih. "Lihat itu."

Di sela batang pohon yang melengkung seperti tangan membatu, mereka melihatnya: ukiran-ukiran aneh di permukaan kulit pohon. Seperti tulisan, tapi bukan huruf yang dikenali. Jude melangkah lebih dekat, menyentuhnya.

Begitu tangannya menyentuh ukiran itu, sebuah kilasan membanjiri pikirannya—sebuah tempat... ruang bawah tanah yang penuh darah, suara jeritan, dan seorang pria tua dengan mata kosong menatap langit-langit.

Jude tersentak, terhuyung ke belakang.

"Pohon ini..." Ia menarik napas dalam. "Pohon ini menyimpan ingatan. Bukan hanya miliknya. Tapi milik orang-orang yang pernah lewat di sini."

Claire berjalan ke pohon lain, mengamati ukiran lain yang serupa. "Tempat ini menyimpan semuanya. Mungkin ini alasan mengapa tak ada yang bisa kembali. Karena hutan ini... menahan mereka."

Suara langkah berat tiba-tiba terdengar. Bukan mereka. Sesuatu mendekat.

Claire menarik Jude ke belakang batang pohon lebar tepat saat sosok itu muncul—tinggi, berbalut bayangan seperti kabut yang menetes dari tubuhnya. Matanya bersinar biru terang, dan di tangan kirinya tergenggam sesuatu yang menyerupai lentera, tapi bercahaya seperti arwah yang terperangkap.

Makhluk itu berhenti beberapa langkah dari tempat mereka bersembunyi. Ia mendongak, mengendus udara seperti binatang.

"Dia mencium kita," gumam Claire.

Jude meraih belati kecil di dalam mantelnya. "Kita harus pergi. Pelan."

Namun langkah mereka dihentikan oleh suara dentingan kecil dari ranting patah. Makhluk itu langsung menoleh.

"Lari!" seru Claire.

Mereka berlari, melesat di antara pohon-pohon aneh, bayangan makhluk itu mengejar di belakang mereka. Hutan berubah bentuk—jalan yang tadinya terbuka kini buntu. Dahan merunduk seperti mencoba meraih mereka.

Sampai akhirnya Claire menarik Jude ke celah batu besar, menyuruhnya diam dan menahan napas. Makhluk itu lewat, mendengus, dan terus berlari ke arah lain.

Setelah cukup lama, Claire berkata, "Kita tak bisa berjalan sembarangan. Hutan ini... bisa mengubah arah. Kita butuh penanda."

Jude menarik benda kecil dari saku—pecahan kaca yang dulunya milik liontin ayahnya. Ia menatapnya, lalu melihat cahaya dari pantulan itu mengarah ke satu sisi.

"Aku rasa kita bisa pakai ini."

Claire menatapnya dengan heran. "Kompas ingatan?"

"Lebih seperti... pantulan yang tahu arah."

Mereka saling mengangguk, lalu mulai melangkah lagi. Setiap langkah semakin dalam membawa mereka pada rahasia yang tak bisa dihapus... dan masa lalu yang ternyata belum benar-benar terkubur.

Jude dan Claire terus mengikuti kilau pantulan dari pecahan liontin, yang anehnya selalu memantulkan cahaya ke satu arah meski cahaya matahari hampir tidak menembus celah pepohonan. Setiap kali mereka mencoba berbelok ke arah lain, refleksi itu memudar.

"Hutan ini seperti menyuruh kita ke satu tempat," gumam Claire. "Tapi siapa yang bilang tempat itu aman?"

Jude menatap kilau kaca itu lagi, lalu memasukkannya ke saku. "Tidak ada pilihan lain. Kita harus percaya sesuatu."

Beberapa meter ke depan, mereka menemukan sebuah celah menurun yang tertutup akar-akar besar. Seolah-olah pohon-pohon sengaja melindungi sesuatu di bawah tanah. Di tengah tumpukan akar itu, ada retakan kecil, dan dari dalamnya keluar udara hangat yang mengembun di kulit mereka.

Claire mengangguk. "Itu dia. Kita masuk."

Mereka mulai menarik dan memotong akar dengan hati-hati, hingga akhirnya lubang cukup besar terbentuk untuk dimasuki satu orang. Jude masuk lebih dulu, diikuti Claire.

Begitu mereka sampai di bawah, aroma tanah basah dan logam tua menyeruak. Ruang itu seperti gua, tapi dengan dinding yang diperkuat kayu tua dan tulang. Di tengahnya berdiri altar batu, dan di atas altar itu terbaring sesosok tubuh... atau yang tersisa darinya.

"Tulang..." Claire berbisik. "Tapi ini bukan kuburan biasa."

Jude mendekat. Di sisi tubuh itu terdapat ukiran melingkar, seperti simbol sihir kuno. Beberapa di antaranya mirip dengan yang ia lihat di buku milik ayahnya dulu—tulisan dari Perjanjian Pertama. Ia menyentuh altar, dan gemuruh pelan terdengar dari dalam tanah.

Lihat selengkapnya