Gelap.
Begitu gelap hingga Claire merasa seolah-olah dirinya terputus dari tubuhnya sendiri. Tidak ada suara. Tidak ada cahaya. Hanya sensasi tertahan di antara ruang dan waktu.
Kemudian—seberkas cahaya ungu menyala pelan di hadapan mereka. Sebuah simbol bercahaya, mirip seperti glyph kuno, melayang di udara.
Jude meraih tangannya. "Claire, kau masih di sini?"
"Saya... saya di sini," jawab Claire, suaranya terdengar kecil dalam kekosongan yang menelan segalanya. "Apa yang terjadi?"
"Aku rasa kita... sudah memasuki ruang pengujian."
Simbol bercahaya itu pecah menjadi lima bagian, masing-masing berubah menjadi cermin. Satu per satu, cermin itu memantulkan wajah mereka—namun tak seperti cermin biasa. Setiap pantulan menunjukkan versi berbeda dari diri mereka. Jude melihat dirinya sendiri, berdarah dan sendirian, memegang buku yang kini berubah menjadi abu. Claire melihat dirinya menatap Jude dari kejauhan, air mata menetes di wajahnya, seolah-olah... ia harus meninggalkannya.
"Ini bukan hanya peringatan," Jude bergumam. "Ini pilihan."
Tiba-tiba, suara tadi bergema kembali, lebih dekat, lebih jelas.
"Pengetahuan adalah kekuatan, namun kekuatan menuntut harga. Untuk membaca Codex, kau harus melepaskan satu hal yang paling kau jaga. Satu hal yang tak akan bisa kau ambil kembali."
"Ini... semacam ritual pengorbanan," bisik Claire.
Jude menatap cermin itu, lalu ke podium tempat buku itu berada. "Kalau kita tidak melakukannya, semua ini sia-sia. Tapi kalau kita melakukannya, mungkin kita tak akan sama lagi."
Claire melangkah maju, menatap simbol yang kini mulai berpendar lebih terang. "Apa yang paling kau jaga, Jude?"
Ia terdiam lama sebelum menjawab. "Kebebasanku. Aku selalu takut kehilangan kendali, takut diatur oleh garis keturunan, oleh kutukan ini. Tapi kalau harga yang harus kubayar adalah itu..."
Ia meletakkan tangannya di atas simbol.
Sekejap, cahaya menyilaukan meledak, menyelimuti Jude sepenuhnya. Ia terangkat dari tanah, tubuhnya seperti tertarik oleh kekuatan tak kasatmata. Glyph-glyph purba mengalir di kulitnya, terbakar lalu lenyap satu per satu.
Claire berteriak, "Jude!"
Namun tubuhnya tertolak ke belakang oleh gelombang energi. Ketika cahaya mereda, Jude jatuh berlutut, terengah-engah. Matanya memancarkan warna ungu untuk sesaat sebelum kembali seperti biasa.
"Jude..." Claire menghampiri, meraih bahunya. "Apa yang terjadi?"
Jude mendongak perlahan. "Aku... bisa membacanya."
Ia berdiri, lalu melangkah ke podium. Rantai yang sebelumnya mengikat Codex tiba-tiba terlepas satu per satu, seperti menghormati pemilik barunya.
Dengan gemetar, Jude membuka halaman pertama.
Tulisan di dalamnya bergerak. Hidup. Setiap kata berbisik, setiap kalimat menyatu dalam pikirannya. Dan ia memahami—pecahan pertama dari kebenaran yang disembunyikan dunia.
"Ini... ini bukan hanya tentang kutukan," bisiknya. "Ini tentang sebuah perang yang sudah lama dilupakan. Tentang dua garis darah. Dan... tentang sesuatu yang tertidur."
Claire menatapnya cemas. "Tertidur?"
Jude memandang jauh ke arah bayangan di belakang podium, seolah bisa melihat melewati dinding-dinding gua.
"Makhluk. Yang pernah hampir menghancurkan dunia."
Dan Codex... bukan satu-satunya kuncinya.
Mereka berdua berdiri membisu di hadapan Codex yang kini terbuka. Hening terasa pekat, seolah udara di dalam gua ikut menahan napasnya. Jude terus membaca, matanya menyapu halaman demi halaman seakan diseret oleh kekuatan yang tak bisa ditolak.
Claire bersandar pada tiang batu di dekatnya, mencoba mengendalikan gemetar di jari-jarinya. Cahaya dari glyph di dinding perlahan mulai meredup, berganti kilatan samar ungu yang berasal dari Codex itu sendiri.
"Jude," katanya akhirnya, suaranya pelan tapi mendesak, "apa maksudmu dengan makhluk yang tertidur?"
Jude menutup buku itu perlahan. Sorot matanya tajam, seperti baru saja melihat terlalu banyak dalam waktu yang terlalu singkat. "Codex menyebutnya Virelanth, the First Hunger. Makhluk pertama yang menolak akhir hidupnya dan memilih... untuk bertahan sebagai kekosongan."
Claire menggigit bibir bawahnya. Nama itu terdengar seperti legenda gelap yang seharusnya tetap terkubur.
"Dia dikurung oleh para Pendiri. Garis darah kita—punya hubungan langsung dengan penjaga segelnya. Codex ini... bukan hanya buku mantra atau sejarah. Ini adalah bagian dari segel itu sendiri. Dan sekarang—"
Tiba-tiba lantai di bawah mereka bergetar. Halus pada awalnya. Tapi cukup untuk membuat debu jatuh dari langit-langit.