Beneath The Ivy Mirror

Penulis N
Chapter #22

22

Wanita itu berdiri di hadapan mereka, tatapannya penuh misteri. Claire merasa seolah waktu berhenti saat mereka bertiga saling memandang. Di satu sisi, wanita tua ini tampak seperti makhluk yang sangat berkuasa, tetapi di sisi lain, ada kesan ketulusan dalam sikapnya yang sulit dijelaskan.

"Aku tahu kalian banyak bertanya," ujar wanita itu, suaranya terdengar bijaksana, hampir seperti mengerti setiap kegelisahan yang menguasai pikiran mereka. "Dan mungkin apa yang aku katakan tidak akan mudah kalian terima. Tapi ini adalah jalan yang harus kalian pilih."

Jude menatap wanita itu dengan penuh keraguan, meskipun ada rasa penasaran yang semakin tumbuh dalam dirinya. "Apa maksudmu dengan 'kesempatan kedua'?" tanyanya. "Dan kenapa kita? Mengapa nama kita ada di buku itu?"

Wanita itu menghela napas, kemudian mendekat. Ada semacam aura yang mengelilinginya, sesuatu yang memancar dari dirinya yang membuat Claire merasa seperti berada di hadapan seseorang yang bukan manusia biasa.

"Nama kalian ada di buku itu karena kalian adalah bagian dari takdir yang lebih besar," wanita itu menjelaskan. "Kalian adalah penjaga waktu yang akan mengubah jalannya sejarah. Tapi sebelum kalian melangkah lebih jauh, kalian harus memahami apa yang benar-benar sedang terjadi."

Claire terdiam, mencerna kata-kata wanita itu. "Penjaga waktu? Maksudnya, kita bisa mengubah masa lalu?" Suaranya penuh kebingungan, tapi ada rasa ingin tahu yang semakin menguat.

"Benar," jawab wanita itu, "Kalian memiliki kemampuan untuk mengubah arah waktu, tetapi itu bukan sesuatu yang bisa kalian lakukan sembarangan. Setiap keputusan kalian akan mempengaruhi banyak hal. Ada kekuatan yang lebih besar yang mengawasi kalian. Tidak semua orang diberi kesempatan ini. Hanya mereka yang benar-benar siap yang bisa menjalani takdir ini."

Jude dan Claire saling memandang. Apa yang baru saja mereka dengar terasa seperti suatu kebohongan atau mungkin hanya bagian dari dunia yang tidak mereka kenali sebelumnya. Namun, ada sesuatu dalam kata-kata wanita itu yang membuat mereka tidak bisa berpaling begitu saja.

"Jadi, kami harus memilih?" Jude bertanya, masih mencoba memahami gambaran besar yang ditawarkan oleh wanita itu.

Wanita itu mengangguk. "Ya, kalian harus memilih dengan hati-hati. Takdir kalian sudah tertulis, tetapi kalian memiliki kebebasan untuk mengubahnya. Pilihan kalian akan menentukan apakah dunia ini akan selamat atau hancur. Seperti yang kalian lihat, banyak yang tidak tahu tentang peran kalian. Dan sekarang, saatnya kalian mengetahui apa yang ada di balik semua ini."

Sebelum Claire bisa menanggapi, wanita itu melanjutkan, "Aku akan memberimu petunjuk. Di hadapan kalian ada tiga pilihan, tetapi hanya satu yang akan membawa kalian menuju tujuan yang benar. Setiap pilihan akan membuka jalan yang berbeda, dan kalian harus memutuskan mana yang harus diambil."

Tiba-tiba, tiga pintu besar muncul di hadapan mereka, masing-masing dengan simbol yang berbeda tergantung pada gagangnya. Setiap pintu tampak terbuat dari material yang sangat kuno, seolah-olah berasal dari zaman yang sangat berbeda.

"Setiap pintu ini mewakili sesuatu yang sangat penting. Pilih dengan bijak, karena apa yang kalian pilih akan menentukan arah hidup kalian selanjutnya," wanita itu berkata, kemudian mundur sedikit untuk memberi ruang.

Claire melangkah maju, memandangi ketiga pintu itu. Setiap simbol yang ada di sana terasa familiar, tetapi ia tidak tahu apa artinya. Ada satu pintu yang dihiasi dengan gambar mata, satu lagi dengan simbol roda yang berputar, dan yang terakhir dengan sebuah pedang.

"Bagaimana kami tahu pintu mana yang harus kami pilih?" Claire bertanya, suara penuh keraguan.

Wanita itu menatap mereka dengan serius, "Dengarkan hati kalian, dan ingat bahwa pilihan pertama akan membawa kalian lebih dekat pada kebenaran, tetapi yang kedua akan menguji kekuatan kalian. Pilihan terakhir... akan membawa kalian pada pertarungan yang akan mengubah semuanya."

Jude menggenggam tangan Claire, merasakan ketegangan yang semakin memuncak di dalam dirinya. Dia tahu, apa pun yang ada di hadapan mereka sekarang, hidup mereka tidak akan pernah sama lagi.

"Ayo, Claire," kata Jude dengan suara rendah. "Kita harus melangkah maju."

Claire mengangguk. Mereka berdua saling bertukar pandang satu kali lagi, lalu mendekat ke pintu yang dihiasi simbol roda yang berputar.

Dengan satu tarikan napas, mereka membuka pintu itu.

Pintu itu berderit pelan saat Claire dan Jude membukanya, menyibakkan cahaya lembut yang menari di dalam ruang yang baru. Sesaat, mereka merasa seolah-olah terhisap ke dalam dunia yang tidak mereka kenal—tempat yang terasa asing namun penuh misteri. Langit di atas mereka tampak lebih gelap, tetapi bintang-bintang bersinar lebih terang, memberi petunjuk bagi mereka untuk melangkah.

Mereka melangkah ke dalam dunia yang tidak terlihat sebelumnya. Tanahnya lembut, dengan rerumputan yang berkilau di bawah kaki mereka. Di kejauhan, mereka bisa melihat siluet dari beberapa bangunan besar yang tampak sudah sangat tua. Ada udara yang berbeda di sini, seolah memeluk mereka dengan perasaan tidak bisa dijelaskan, seperti sesuatu yang telah lama menunggu untuk ditemukan.

"Apakah ini... dunia yang berbeda?" Claire bertanya, masih berusaha mencerna apa yang baru saja mereka alami.

Jude tidak segera menjawab, matanya menelusuri setiap sudut dunia yang tak dikenalnya ini. "Entahlah. Rasanya seperti kita telah melangkah ke dimensi lain," jawabnya pelan, masih kebingungan dengan apa yang mereka lihat. "Tapi jika ini yang dimaksud dengan pilihan, kita harus terus maju."

Di hadapan mereka, ada sebuah jalan panjang yang tampaknya membentang tak terhingga, dengan pohon-pohon tinggi yang melambai lembut di kedua sisinya. Jalan itu tampak berliku, seperti menuntun mereka menuju sesuatu yang sangat besar—sesuatu yang mereka tak tahu pasti apa. Tapi insting mereka mengatakan bahwa mereka tak bisa mundur.

Mereka berjalan, langkah demi langkah, dan semakin jauh mereka melangkah, semakin banyak makhluk-makhluk aneh yang muncul. Beberapa berwujud manusia, namun dengan penampilan yang sangat berbeda—seperti memiliki kekuatan yang lebih besar dari manusia biasa. Ada yang bertanduk, ada yang terbang, dan beberapa di antaranya memiliki tatapan yang begitu tajam hingga seolah bisa menembus jiwa.

"Tunggu," kata Claire tiba-tiba, berhenti di tengah jalan. "Apa itu?"

Jude menoleh, melihat ke arah yang ditunjuk Claire. Di ujung jalan, ada sosok besar yang berdiri menunggu. Siluetnya seperti seorang pria raksasa dengan tubuh terbungkus pelindung perak. Matanya menyala dengan api yang menyala, namun ada keheningan yang menyelimutinya, seolah sosok itu hanya berdiri sebagai penjaga, menunggu sesuatu yang pasti.

"Seseorang atau sesuatu... menunggu kita," ujar Jude, matanya tajam memperhatikan.

Sosok itu tidak bergerak, hanya menatap mereka dengan tatapan penuh teka-teki. Keheningan sejenak membungkam udara di sekitar mereka, namun setelah beberapa detik, sosok itu mulai bergerak perlahan ke arah mereka.

"Apa yang kita lakukan?" tanya Claire, jantungnya berdegup kencang. "Kita harus lari atau bertanya?"

Jude mengeratkan pegangan tangannya pada pedang di pinggangnya. "Bertanya lebih baik. Tidak ada gunanya melarikan diri sebelum kita tahu apa yang sebenarnya terjadi."

Ketika sosok itu semakin dekat, Claire bisa melihat dengan jelas bahwa ia bukan sekadar penjaga biasa. Riasan wajahnya tampak seperti pahlawan kuno, namun ada sebuah aura yang sangat kuat terpancar dari tubuhnya. Dia tidak bersenjata, namun tampaknya memiliki kekuatan lebih dari cukup untuk menghalangi siapa pun yang mencoba menghalanginya.

Lihat selengkapnya