BERANDA RUMAH KAKEK

Embart nugroho
Chapter #1

PULANG KAMPUNG

Hamparan Perak, 1996

Tak terasa sudah sepuluh tahun aku meninggalkan kampung halaman. Kini aku pulang dengan membawa sejuta rasa rindu. Rindu rumah yang dulu pernah meninggalkan sejuta kenangan.

Aku tiba di depan rumah kakek ketika matahari tak lagi terik seperti siang tadi. Cahaya sore turun perlahan di antara pepohonan tua yang mengelilingi halaman, membuat bayangan panjang jatuh di tanah yang penuh daun kering.

Aku menghentikan langkah.

Rumah bercat abu-abu itu tampak tua, namun masih kokoh seperti seseorang yang sudah banyak mengalami kehidupan tetapi belum mau menyerah pada usia. Lumut tipis merambat di beberapa bagian dindingnya, menempel di sela-sela batu bata yang sudah lama bersahabat dengan hujan dan panas.

Jendela-jendelanya besar, tinggi, dengan kusen kayu yang tebal. Kaca-kacanya sedikit buram oleh waktu, namun masih mampu memantulkan cahaya senja yang redup. Halamannya luas. Pohon-pohon berdiri mengelilingi rumah itu seperti penjaga yang tidak pernah tidur. Angin bergerak perlahan di antara daun-daun yang rimbun. Sesekali ranting kecil jatuh ke tanah, menambah tumpukan daun kering yang berserakan di halaman.

Suara daun yang terinjak kakiku terdengar jelas.

Kriuk.

Kriuk.

Suara kecil yang anehnya terasa sangat hidup di tengah kesunyian sore itu.

Rumah itu terlihat angkuh. Bukan angkuh karena kemewahan, melainkan karena cara ia berdiri menghadapi waktu. Arsitekturnya jelas bukan rumah biasa. Pilar-pilar tinggi menopang beranda depan. Atapnya besar dan miring seperti rumah-rumah kolonial yang pernah kulihat di buku sejarah.

Rumah bergaya Belanda. Rumah yang dibangun pada masa ketika negeri ini masih berada di bawah bayang-bayang orang asing.

Kakek pernah bercerita tentang asal-usul rumah ini.

Dulu rumah ini milik seorang kapten Belanda bernama Van de Hook. Nama itu selalu terdengar aneh di telingaku ketika masih kecil. Aku membayangkan seseorang dengan seragam militer, sepatu kulit mengilap, dan kumis tebal seperti yang sering digambar dalam buku pelajaran.

Kapten Van de Hook tinggal di rumah ini bersama keluarganya. Istri dan dua orang anak yang, menurut cerita kakek, sangat jarang keluar rumah.

Pada masa itu halaman ini sering dipenuhi tentara dan tamu-tamu dari pemerintahan kolonial. Mobil-mobil tua berhenti di depan rumah. Suara bahasa Belanda bercampur dengan bahasa Melayu yang patah-patah. Namun semua itu berubah ketika Indonesia merdeka. Seperti banyak orang Belanda lainnya, Van de Hook akhirnya harus kembali ke negerinya. Tetapi tidak semua orang pergi dengan kemarahan.

Menurut cerita kakek, Van de Hook bukan orang yang kejam seperti yang sering digambarkan orang tentang tentara kolonial. Ia bahkan cukup dekat dengan kakek yang saat itu bekerja sebagai penjaga rumah sekaligus orang yang dipercaya mengurus kebun di sekitar rumah itu.

Sebelum pulang ke Belanda, sang kapten memanggil kakek ke beranda rumah ini. Kakek selalu berhenti sejenak setiap kali menceritakan bagian itu. Seolah-olah ia masih bisa melihat bayangan sore puluhan tahun lalu.

“Rumah ini terlalu jauh untuk saya rawat dari negeri sana,” kata kapten itu kepada kakek.

Kakek bilang, waktu itu suaranya tidak seperti suara seorang tentara yang biasa memberi perintah. Lebih seperti suara seseorang yang sedang meninggalkan sebagian hidupnya.

“Rawatlah rumah ini,” katanya lagi. “Anggap saja rumah ini milikmu.”

Sejak hari itulah rumah ini menjadi bagian dari keluarga kami.

Kakek tinggal di sini sampai akhir hidupnya. Di rumah ini ayah tumbuh menjadi dewasa. Di halaman ini ayah belajar berjalan. Di beranda ini ia sering duduk mendengarkan cerita kakek tentang masa lalu yang jauh. Dan sekarang aku berdiri di tempat yang sama. Melihat rumah yang telah melewati begitu banyak zaman.

Angin sore berembus pelan. Daun-daun di pohon tua itu bergerak seperti seseorang yang sedang berbisik tentang cerita lama.

Aku menatap rumah itu lama sekali. Rumah ini tidak hanya menyimpan kehidupan keluarga kami. Ia juga menyimpan bayangan orang-orang yang pernah hidup di dalamnya—orang Belanda yang jauh dari negerinya, seorang kakek yang setia menjaga kepercayaan, dan generasi setelahnya yang mencoba memahami arti dari semua warisan itu.

Aku melangkah perlahan menuju beranda. Pintu kayu besar itu masih berdiri seperti dulu. Dan entah mengapa, di tengah kesunyian sore itu, aku merasa rumah ini sedang menungguku untuk masuk—seolah-olah masih ada cerita lama di dalamnya yang belum selesai diceritakan.

Langkahku melambat ketika sampai di halaman belakang. Senja menggantung rendah, langit berwarna jingga keabu-abuan. Bangsal-bangsal tua itu masih berdiri kokoh—catnya pudar, kayunya menghitam dimakan usia. Dari kejauhan, ia tampak biasa saja. Tapi bagiku, ia seperti menyimpan gema yang tak terdengar.

Ada goresan-goresan kepedihan di sana. Ada teriakan-teriakan yang hanya hidup dalam bayangan.

Angin sore berdesir melewati hamparan tembakau. Daun-daunnya saling bergesekan, menimbulkan suara lirih seperti bisikan panjang. Entah mengapa, setiap kali mendengar suara itu, dadaku terasa berat.

Aku membayangkan orang-orang yang dulu bekerja di sana. Lelaki dengan punggung membungkuk karena beban. Perempuan-perempuan muda dengan tatapan yang menyimpan terlalu banyak rahasia. Anak-anak kecil yang berlari di antara jemuran daun tembakau, tak tahu bahwa dunia orang dewasa begitu kejam.

“Ajidarma…”

Suara Ibu memanggil dari dalam rumah.

Aku menoleh. Ia berdiri di ambang pintu dapur, membawa nampan kecil berisi teh dan pisang goreng. Cahaya lampu dari dalam rumah membuat siluetnya tampak hangat.

“Kamu sudah sampai?” Tanyanya lagi.

“Sudah, Bu.” Aku menjawab singkat.

“Jangan terlalu lama di belakang, nanti masuk angin,” katanya, “Sini masuk.”

Aku tersenyum kecil dan berjalan mendekat. Kami duduk di teras. Lampu kuning menggantung di atas kepala, memantulkan cahaya lembut pada lantai semen yang mulai retak di beberapa bagian.

“Bagaimana kabarmu?”

“Adji baik-baik aja, Bu,”

“Kamu lihat apa di sana?” tanya Ibu pelan.

“Bangsal itu,” jawabku. “Seperti masih menyimpan sesuatu.”

Ibu mengikuti arah pandangku. Beberapa detik ia diam.

“Itu cuma bangunan tua, Ji,” katanya akhirnya. “Yang membuatnya terasa berat adalah pikiranmu sendiri.”

Aku menyesap teh melati itu. Hangatnya menenangkan tenggorokan yang terasa kering.

“Tapi tempat itu pernah jadi saksi, Bu,” ujarku lirih.

Ibu mengangguk pelan. “Ya. Pernah. Tapi sekarang ia juga jadi saksi bahwa kita masih di sini. Bahwa desa ini tidak hilang.”

Aku terdiam. Kalimat itu sederhana, tapi terasa dalam.

Suara motor melintas di jalan depan rumah. Terdengar tawa anak-anak dari kejauhan. Hidup berjalan seperti biasa. Tak ada jejak api. Tak ada suara tembakan. Hanya malam yang turun perlahan dan aroma teh yang menenangkan.

Mungkin benar, pikirku. Bangsal-bangsal itu bukan hanya menyimpan kepedihan. Ia juga menyimpan ketahanan. Ia berdiri, meski telah melewati badai. Dan aku, duduk di teras rumah bersama Ibu, menyadari bahwa di atas tanah yang pernah diguncang sejarah, kehidupan tetap tumbuh—seperti daun tembakau yang terus menghijau setiap musimnya.

Aku melangkah melewati ambang pintu rumah itu dengan perasaan yang sulit kusebutkan namanya. Pintu kayunya mengerang pelan ketika kudorong, seolah keberatan menerima kedatanganku setelah sekian lama ia hanya berbicara dengan angin dan debu. Udara di dalam rumah itu dingin, bukan karena angin, melainkan karena waktu yang telah terlalu lama berdiam diri di sana.

Aku berdiri beberapa saat di ruang tengah. Mataku berkeliling perlahan, mengamati setiap sudut yang dulu pernah kukenal dengan begitu akrab. Dindingnya masih sama—catnya memudar, sebagian mengelupas, memperlihatkan lapisan lama yang lebih tua dari ingatan. Di sana, di permukaan yang retak-retak itu, seolah ada guratan-guratan cerita yang menyedihkan. Seperti seseorang pernah mencoba menuliskan hidupnya di sana, lalu waktu menghapusnya sedikit demi sedikit.

Rumah ini tidak pernah benar-benar diam. Ia menyimpan suara. Suara sendok yang beradu dengan piring pada pagi hari. Suara langkah kaki ibu yang selalu bangun lebih awal dari matahari. Suara ayah yang berdehem sebelum membaca koran.

Dan suara tawa yang dulu begitu ringan, begitu dekat, seolah dunia tidak pernah memiliki kesedihan.

Sekarang semuanya hanya tinggal gema. Di sudut ruang tamu masih ada kursi kayu tua itu. Kursi tempat ayah biasa duduk setiap sore, menghadap halaman depan, sambil menunggu sesuatu yang bahkan mungkin tidak pernah datang. Kain sandarannya telah kusam, namun bentuk lekukannya masih menyimpan bayangan tubuh seseorang yang pernah lama berdiam di sana. Aku menyentuh sandaran kursi itu. Debu tipis menempel di telapak tanganku. Debu waktu.

Lihat selengkapnya