BERANDA RUMAH KAKEK

Embart nugroho
Chapter #2

KENANGAN BERSAMA KAKEK

Sejak kakek meninggal aku pun meninggalkan desa ini dan merantau ke kota.

Pagi di rumah kakek selalu datang lebih dulu daripada di tempat lain.

Mungkin karena halaman rumahnya luas, atau mungkin karena kakek selalu bangun sebelum matahari sempat benar-benar muncul.

Aku masih ingat suara batuk kecilnya di beranda. Batuk yang pelan, seperti seseorang yang tidak ingin membangunkan siapa pun. Setelah itu terdengar suara sandal jepit yang diseret perlahan menyusuri lantai semen menuju halaman.

Ketika aku membuka mata, biasanya cahaya pagi sudah masuk dari jendela kamar. Udara desa masih dingin, dan dari dapur terdengar ibu menyalakan tungku. Namun suara yang paling khas adalah suara kakek menyapu halaman.

Srek… srek… srek…

Suara sapu lidi yang menggesek tanah.

Aku sering keluar rumah dengan mata masih setengah mengantuk. Kakek selalu sudah berada di bawah pohon mangga. Topi tuanya dipakai seperti biasa. Baju kaus putih yang sudah menguning oleh usia melekat di tubuhnya yang kurus.

“Sudah bangun?” katanya tanpa menoleh.

Aku hanya mengangguk.

Kakek jarang banyak bertanya. Tapi ia selalu tahu kalau aku berdiri di belakangnya. Kadang ia menyodorkan sapu lidi kepadaku.

“Pegang.”

Aku memegangnya dengan kedua tangan. Sapu itu hampir setinggi badanku waktu itu.

“Kamu tahu kenapa halaman harus disapu setiap pagi?” tanya kakek.

Aku menggeleng.

“Supaya kita ingat, daun yang jatuh kemarin tidak boleh dibiarkan sampai besok.”

Aku tidak benar-benar mengerti maksudnya waktu itu. Aku hanya ikut menyapu daun-daun kering yang jatuh dari pohon mangga. Namun sekarang, ketika mengingatnya kembali, aku merasa kakek sebenarnya sedang berbicara tentang sesuatu yang lebih besar daripada sekadar daun.

Sore hari adalah waktu yang paling kusukai bersama kakek.

Kami biasanya duduk di beranda. Matahari turun perlahan di balik sawah. Angin membawa bau rumput dan tanah basah.

Kakek selalu duduk di kursi rotannya. Kursi itu sudah ada bahkan sebelum aku lahir. Kayunya tua, dan setiap kali diduduki akan mengeluarkan bunyi kecil seperti orang tua yang sedang meregangkan tubuh.

Aku duduk di lantai dekat kakinya.

“Dulu,” kata kakek suatu sore, “di tempat itu belum ada rumah.”

Ia menunjuk ke arah jalan yang sekarang dipenuhi rumah-rumah baru.

“Hanya sawah. Sejauh mata memandang.”

Aku menatap ke arah yang ia tunjuk. Sulit membayangkan semuanya pernah kosong.

“Lalu kakek datang?” tanyaku.

Kakek tersenyum.

“Tidak langsung punya rumah seperti ini. Waktu pertama kali datang, kakek hanya punya sebidang tanah dan satu gubuk kecil. Rumah ini diberi seorang kapten untuk kakek.”

Ia diam sejenak, seperti sedang membuka kembali lembaran hidupnya.

“Kakek menanam pohon mangga itu sendiri,” katanya sambil menunjuk pohon besar di halaman.

Aku menatap pohon itu dengan takjub. Batangnya besar, cabangnya menyebar ke segala arah.

“Dulu hanya setinggi lutut.”

“Benarkah?”

Kakek mengangguk pelan.

“Semua yang besar selalu dimulai dari yang kecil.”

Kalimat itu sederhana. Tapi cara kakek mengatakannya membuatnya terasa seperti sesuatu yang penting.

Malam di rumah kakek selalu tenang. Tidak ada suara kendaraan. Hanya suara jangkrik dari kebun dan kadang-kadang anjing yang menggonggong jauh di ujung desa. Lampu di ruang tengah redup. Kakek biasanya duduk di kursinya sambil menyeruput kopi hitam dari cangkir enamel tua.

Aku duduk di dekatnya, menunggu cerita.

“Kamu tahu,” kata kakek suatu malam, “rumah ini dulu direnovasi sedikit demi sedikit.”

Ia mengetuk dinding beton dengan jarinya.

“Papan-papan ini kakek angkut sendiri dari kota.”

“Sendiri?”

“Tidak selalu sendiri. Kadang bersama teman-teman.”

Aku membayangkan kakek yang masih muda, berjalan membawa papan kayu di bahunya.

“Kenapa kakek mau capek-capek membangun rumah sebesar ini?” tanyaku.

Kakek tidak langsung menjawab.

Ia menatap ruangan di sekelilingnya. Matanya berkeliling pelan, seperti sedang menghitung sesuatu yang tak terlihat.

“Supaya anak-anak kakek selalu punya tempat untuk pulang.”

Waktu itu aku hanya mengangguk. Jawaban itu terasa sederhana.

Aku tidak tahu bahwa suatu hari nanti rumah ini akan menjadi sunyi.

Sekarang, setiap kali aku duduk di beranda rumah kakek, bayangan-bayangan masa lalu sering datang tanpa diminta.

Lihat selengkapnya