BERANDA RUMAH KAKEK

Embart nugroho
Chapter #3

RUMAH WARISAN KAKEK

Sejak urusan rumah warisan itu selesai—atau lebih tepatnya selesai—rumah kakek berubah menjadi tempat yang berbeda. Bukan karena dindingnya runtuh atau atapnya bocor. Semuanya masih berdiri seperti dulu. Pohon mangga di halaman tetap berbuah setiap tahun. Sumur tua di belakang rumah masih mengeluarkan air yang dingin dan jernih. Namun kehidupan yang dahulu berputar di dalamnya seolah ikut terkubur bersama pembagian uang dan kata-kata keras yang terlontar waktu itu.

Rumah itu kini seperti orang tua yang terlalu lama menunggu anak-anaknya pulang.

Dulu, setiap Lebaran rumah kakek selalu ramai. Bahkan sebelum azan Subuh berkumandang, ibu sudah sibuk di dapur. Bau santan, serai, dan daun jeruk menyebar ke seluruh rumah. Ketupat digantung di dapur belakang seperti lampion-lampion kecil dari janur muda. Kuali besar berisi opor ayam yang direbus perlahan di atas tungku.

Kami, anak-anak, biasanya sudah bangun sejak pagi. Bukan karena rajin, melainkan karena tidak sabar menunggu mobil paman masuk ke halaman.

Paman selalu datang paling dulu. Mobil orang tua akan berhenti di depan rumah dengan suara mesin yang kasar seperti batuk panjang. Pintu terbuka, lalu sepupu-sepupuku turun satu per satu dengan wajah mabuk namun penuh semangat.

“Mana kamu?” teriakan mereka dari halaman.

Aku berlari keluar. Kami saling mengejar, tertawa, seolah sudah bertahun-tahun tidak bertemu, padahal baru beberapa bulan.

Tak lama kemudian bibi datang bersama keluarganya. Rumah kakek yang besar itu seketika berubah seperti pasar kecil yang hangat. Suara tawa, senda gurau, dan percakapan orang-orang dewasa bercampur dengan bunyi piring dan gelas dari dapur.

Di ruang tengah, para lelaki berbicara soal pekerjaan, harga beras, dan politik yang tak pernah selesai. Di dapur, ibu, bibi, dan sepupu-sepupu perempuan tertawa sambil menyiapkan hidangan. Dan di teras depan, kakek duduk di kursi rotannya.

Ia jarang bicara. Kadang-kadang hanya mengangguk atau tersenyum tipis. Matanya mulai keruh memandang anak-anak dan cucunya yang datang dari berbagai kota, seperti seseorang yang sedang menghitung hidupnya kembali sendiri.

Waktu itu aku belum mengerti apa arti rumah bagi orang tua seperti kakek.

Aku baru mengerti setelah semuanya hilang.

Perpecahan itu datang perlahan, seperti rayap yang diam-diam menggerogoti kayu tua.

Awalnya hanya soal tanah di belakang rumah. Tanah itu dulu dibeli kakek ketika harga tanah masih semurah harga sekarung beras. Ia menanaminya dengan singkong dan pisang. Tidak pernah terpikir bahwa suatu hari tanah itu akan menjadi rebutan. Namun waktu berjalan. Jalan besar dibangun tak jauh dari sana. Orang-orang kota mulai datang membeli tanah di desa.

Harga tanah melonjak seperti sesuatu yang tiba-tiba menemukan nilai dirinya.

Pembicaraan dimulai dengan nada biasa saja.

“Tanah itu sebaiknya dijual saja,” kata paman suatu malam.

“Kita bagi rata. Lumayan untuk masa depan anak-anak.”

Kata-kata itu terdengar masuk akal. Tidak ada yang menolak pada awalnya. Bahkan ayah hanya mengangguk pelan. Namun percakapan tentang tanah selalu membawa hal-hal lain ikut serta. Perhitungan. Kenangan. Dan luka lama yang selama ini disimpan diam-diam.

Beberapa hari kemudian, percakapan mulai berubah nada. Paman merasa dia paling sering membantu kakek. Bibi merasa ia yang paling lama merawat nenek sebelum meninggal.

Ayah merasa rumah itu seharusnya tidak dijual karena di situlah kita semua dilahirkan dan dibesarkan.

Suara-suara mulai meninggi. Rumah yang dulu penuh tawa itu perlahan berubah menjadi ruang sidang kecil.

Aku masih ingat malam terakhir sebelum semuanya pecah.

Hujan turun deras seperti seseorang sedang menumpahkan ember air dari langit. Lampu ruang tengah menyala terang. Paman berdiri dengan wajah merah, tangannya gemetar saat menunjuk ayah.

“Jangan merasa paling benar!” katanya.

Bibi menangis di sudut ruangan. Ibu mencoba menenangkan semua orang, tapi suaranya tenggelam di antara kemarahan yang sudah terlalu lama dipendam.

Beberapa minggu kemudian semuanya selesai.

Tanah dijual. Rumah warisan dibagi dengan angka-angka yang ditulis di atas kertas. Uang berpindah tangan seperti sesuatu yang akhirnya menemukan pemiliknya.

Orang-orang pulang ke kota masing-masing. Tidak ada janji untuk bertemu lagi.

Sejak hari itu, mereka tidak pernah datang lagi.

Lebaran pertama tanpa mereka terasa aneh.

Rumah yang dulu penuh orang kini hanya memasang suara sendok yang beradu dengan piring. Ibu tetap memasak seperti biasa. Ketupat tetap digantung di dapur. Opor ayam tetap matang dalam kuali besar. Namun meja makan terasa terlalu panjang untuk kami bertiga. Tidak ada mobil paman yang berhenti di halaman. Tidak ada bersepeda yang berlari-lari di teras. Tidak ada bibi yang tertawa keras dari dapur.

Rumah kakek terasa terlalu besar bagi kami. Tahun demi tahun berlalu. Lebaran datang dan pergi seperti tamu yang tidak pernah benar-benar disambut.

Kini sudah hampir sepuluh tahun.

Hubungan keluarga kami seperti tali yang putus di tengah jalan. Tidak ada yang mencoba menyambungnya. Mungkin karena setiap orang merasa tali itu bukan lagi miliknya.

Kadang aku duduk sendiri di teras rumah kakek. Kursi rotan itu masih ada. Catnya mulai mengelupas. Kayunya berderit jika diduduki. Dari sana aku bisa melihat halaman yang dulu penuh jejak kaki anak-anak. Sekarang hanya daun-daun kering yang jatuh perlahan.

Aku sering bertanya dalam hati: apakah sebuah keluarga bisa benar-benar berakhir hanya karena uang? Atau sebenarnya keluarga itu sudah lama retak, dan uang hanya menjadi alasan terakhir untuk mengakuinya?

Rumah kakek tidak pernah memberi jawaban. Ia hanya berdiri diam. Seperti Saksi tua yang menyimpan terlalu banyak cerita—tetapi tidak lagi memiliki siapa pun untuk mendengarkannya.

 

###

 

Aku tak ingin larut dari cerita paman dan bibi yang berebut rumah warisan.

Langit di ufuk barat memerah seperti bara yang hampir padam. Aku masih duduk di kursi kayu ketika melihat lelaki tua berjalan tertatih di antara barisan tembakau yang mulai menggelap oleh senja. Langkahnya pelan. Tubuhnya kurus. Punggungnya sedikit membungkuk seperti batang pohon tua yang terlalu lama diterpa angin.

Entah mengapa, selama ini aku tak pernah benar-benar menyadari keberadaannya. Mungkin aku terlalu sibuk dengan pikiranku sendiri. Atau mungkin ia memang seperti bayangan—ada, tapi tak diperhatikan.

Aku mengambil sisa singkong rebus di meja dan berjalan menghampirinya.

Rumahnya berada di dekat gudang tembakau. Dindingnya dari bambu anyam yang sebagian sudah renggang. Atap sengnya berkarat kemerahan, memantulkan cahaya senja dengan warna kusam. Di depannya hanya ada bangku kayu kecil dan ember tua.

Lelaki itu masuk ke dalam, terbatuk berat—batuk yang dalam dan panjang, seperti suara kayu tua yang patah. Beberapa saat kemudian ia keluar lagi dan duduk di depan rumahnya.

Aku berdiri beberapa langkah darinya.

“Assalamualaikum, Kek,” sapaku pelan.

Ia mengangkat wajahnya perlahan. Matanya cekung, tapi tajam. Bekas luka memanjang di pelipisnya, seperti guratan yang sengaja ditinggalkan waktu.

“Waalaikumsalam,” jawabnya serak.

Aku menyerahkan singkong rebus itu. “Ini, Kek. Ada makanan dari rumah.”

Ia menatapku sejenak, lalu menerima dengan tangan yang gemetar tipis.

“Terima kasih.”

Aku duduk di bangku kayu yang agak jauh darinya. Kami sama-sama memandang ladang yang mulai gelap.

Dari dekat, wajahnya penuh kerutan dan bercak kehitaman. Kulitnya seperti tanah kering yang retak-retak. Aku teringat bangunan-bangunan tua di desa ini—retak, hancur, tapi masih berdiri.

“Sudah lama tinggal di sini, Kek?” tanyaku hati-hati.

Ia tersenyum tipis. “Sejak masih muda. Dulu kerja di kebun. Angkat daun, jemur tembakau. Semua pernah.”

Batuknya kembali datang, lebih pelan kali ini.

“Kakek asli sini?”

“Bukan.” Ia menggeleng pelan. “Orang Jawa.”

Aku terdiam. Jantungku berdegup sedikit lebih cepat.

“Banyak yang datang dari Jawa waktu itu,” lanjutnya pelan. “Katanya mau cari hidup. Tapi hidup kadang tidak seperti yang dijanjikan.”

Angin berdesir melewati kami. Suara daun tembakau terdengar seperti bisikan lama.

Aku menatap bekas luka di pelipisnya. “Luka itu, Kek…?”

Ia menyentuhnya perlahan. “Kenangan,” katanya singkat. Lalu ia tersenyum lagi, tapi senyum itu tidak sampai ke matanya.

Kami kembali hening. Aku merasa seperti sedang duduk di hadapan sejarah yang masih bernapas. Tubuhnya renta, tapi matanya menyimpan sesuatu—pengalaman yang tak pernah ditulis di buku mana pun.

“Sekarang sudah tidak banyak yang ingat,” katanya tiba-tiba. “Anak-anak muda sibuk dengan dunia mereka. Bagus sih. Artinya mereka tidak perlu mengalami apa yang dulu kami alami.”

Aku menelan ludah. Ada kehangatan aneh di dadaku—campuran antara sedih dan hormat.

Senja makin redup. Cahaya merah berubah menjadi ungu kehitaman. Siluet lelaki tua itu menyatu dengan latar bangsal tembakau yang kokoh di belakangnya. Dan untuk pertama kalinya, aku merasa bahwa masa lalu bukan hanya puing dan bayangan.

Ia duduk di hadapanku. Bernapas. Dan menunggu untuk didengar.

Lihat selengkapnya