“Temanmu tadi cantik ya. Udah punya pacar?” Aku bertanya pada Ayu, Sekar Ayu lengkapnya saat ia baru pulang ntah darimana bersama temannya.
“Mmm… Mas Aji jatuh cinta ya?” Ejek Ayu sambil tersenyum. “Tanya saja sendiri. Nggak segampang itu, Mas. Dia bukan tipe cewek yang gampang jatuh cinta.” Kata Ayu membuatku bersemangat untuk ingin tahu lebih dekat lagi dengan Salvinia.
“Katakan mas Aji kirim salam,” kataku lagi.
“Kenapa gak kirim duit? Bosan kirim salam mulu.” Ayu meledekku. Dia merapikan buku-bukunya di atas meja.
“Belum gajian. Lagi tanggal tua.” Aku garuk-garuk kepala.
“Tanggal tua ngapain pulang? Mau minta uang lagi untuk jajan?” Ejeknya lagi. Aku jadi malu dengan Ayu. Sudah bekerja tapi keseringan minta ibu kalau uangku sudah habis. Untuk uang kost dan keperluan lainnya tidak cukup kalau hanya mengandalkan gajiku. Apalagi aku tidak tinggal di desa. Begitu tamat SMU aku langsung merantau dan tidak pernah perduli dengan desa kami.
“Aku kangen ibu,” kataku sambil mencubit hidungnya sampai ia memekik.
“Aww… Sakit, mas Aji. Ihhh…” Ayu sewot. “Udah hidung pesek dicubit pula.” Sungutnya.
“Makanya minta hidung itu yang mancung kayak mas Aji.” Ledekku cengengesan.
“Emangnya bisa request?” Ayu melirik ke ibu.
Ayahku memang bangir hidungnya. Seperti hidung orang-orang bule. Dan ibuku punya hidung yang pesek. Untung saja hidungku tidak seperti ibu. Saat kulirik, ibu melotot menatapku.
“Hhehehe…” Aku cengar-cengir dipelototin seperti itu.
“Aku gak dirinduin?” Ayu sedikit sewot sambil memasukkan bukunya ke dalam tas. Sedikit kesal tampaknnya.
“Gak. Mas Aji cuma rindu ibu.”
“Rindu duitnya? Huh, manja.”
“Biarin. Wek…” Aku mencibirkan bibirku.
“Sudah-sudah ah. Udah malem juga pada ribut. Malu tuh di dengerin tetangga.” Ibu merelai adu mulut kami.
“Mas Aji tuh, Bu. Dia lagi jatuh cinta ama temenku, cuma kirim salam aja. Gak mau kirim duit. Gak punya modal. Hahahaha…” Ayu tertawa lebar.
Ibu hanya menggeleng-gelengkan kepala. Uang pensiunan dan gaji ibu masih cukup untuk memenuhi kebutuhan kami. Sejak kepergian ayah karena kecelakaan, ibu bekerja sendiri. Dan aku juga mencari kerja di kota agar beban ibu tidak terlalu berat. Tapi kerjaku belum menetap. Aku masih bekerja serabutan.
Begitulah kami bertengkar kecil terkadang. Sebenarnya aku merindukan keduanya. Sebagai anak tertua dan laki-laki. Aku bertanggung jawab ke ibu dan adik perempuanku.Aku sangat bahagia memiliki dua bidadari yang sangat baik. Ibu dan adikku. Mereka sangat berarti bagiku.
###
Sore itu langit menggantung rendah di atas rumah. Awan-awan tipis seperti kain kusut yang dilupakan di langit. Angin berjalan pelan di halaman, menggeser daun-daun kering yang berserakan di bawah pohon mangga tua.
Aku sedang duduk di ruang tengah ketika suara pagar berderit.
Suara itu tidak asing bagi rumah ini. Beberapa detik kemudian pintu diketuk. Pelan. Ragu-ragu.
Ibu keluar dari dapur sambil mengelap tangannya dengan ujung kain daster. Wajahnya terlihat lelah seperti biasa, tapi ketika pintu dibuka, aku melihat sesuatu yang lain muncul di wajahnya—sesuatu yang lebih tua dari sekadar kelelahan.
Di depan pintu berdiri bibi. Adik perempuan ayah. Tubuhnya tampak lebih kurus dari yang kuingat. Wajahnya pucat. Rambutnya yang dulu selalu disisir rapi kini hanya diikat asal di belakang kepala. Di tangannya ada tas kecil yang digenggam seperti seseorang sedang memegang sesuatu yang rapuh.
Bibi tersenyum kecil. Senyum yang terasa seperti seseorang yang sedang menahan sesuatu agar tidak runtuh.
“Masih ingat aku?” katanya pelan.
Ibu tidak langsung menjawab. Ia hanya mempersilakan bibi masuk dengan gerakan tangan yang kaku. Setelah sepuluh tahun, bibi baru datang lagi ke rumah ini. Rumah ini seperti menarik napas panjang ketika bibi melangkah ke dalam.
Aku memperhatikan mereka dari kursi kayu di ruang tengah. Mata ibu sesekali jatuh ke wajah bibi, lalu cepat-cepat berpaling seperti orang yang tidak ingin terlalu lama menatap masa lalu.
Beberapa saat mereka duduk tanpa kata. Hanya suara sendok kecil yang beradu dengan gelas ketika ibu membuatkan teh. Akhirnya bibi membuka suara.
“Aku sebenarnya… datang mau minta tolong.”
Kalimat itu keluar pelan, seperti seseorang yang harus mendorongnya keluar dari dada. Ibu tidak menatapnya.
“Apa?”
Bibi menunduk. Jarinya memainkan tali tasnya.
“Uang kuliah anakku belum dibayar.”
Sunyi jatuh di ruang tamu.
Aku bisa mendengar detak jam dinding yang sudah tua itu. Tik… tok… tik… tok… seperti seseorang yang menghitung sesuatu yang tidak terlihat.
“Sudah tiga bulan,” lanjut bibi.
Suaranya mulai pecah sedikit.
“Kalau bulan ini tidak dibayar… dia bisa dikeluarkan dari kampus.”
Ibu masih diam. Tangannya memegang gelas teh yang belum disentuh. Aku tahu ibu sedang berpikir. Bukan tentang uangnya. Tapi tentang sesuatu yang lebih lama dari itu.
Aku juga tahu ibu sedang mengingat satu malam bertahun-tahun lalu. Malam ketika rumah ini dipenuhi teriakan dan kemarahan. Malam ketika bibi berdiri di ruang yang sama dengan wajah keras dan suara yang tidak mau kalah.
“Apa gunanya mempertahankan rumah tua itu?” kata bibi waktu itu.
“Kita jual saja!”
Dialah yang paling keras. Yang paling bersikeras. Yang paling tidak mau mundur. Sampai akhirnya ayah melakukan sesuatu yang tidak pernah ia rencanakan. Ayah membayar rumah itu. Dengan uangnya sendiri. Ia membeli bagian warisan saudara-saudaranya agar rumah ini tidak dijual. Uang itu kemudian dibagi kepada paman dan bibi. Setelah itu mereka jarang datang lagi. Seolah-olah rumah ini hanya penting ketika masih bisa diuangkan. Sekarang bibi duduk di kursi kayu yang sama. Tangannya gemetar kecil.
“Aku tahu dulu kita bertengkar…” katanya pelan.
Ibu masih tidak menatapnya.
“Tapi sekarang aku benar-benar tidak punya tempat minta tolong lagi.”
Kalimat itu jatuh begitu saja di ruang tamu. Bukan sebagai alasan. Tapi sebagai pengakuan. Bibi mengangkat wajahnya sedikit. Di matanya ada sesuatu yang dulu tidak pernah kulihat di sana. Kalah. Manusia memang sering berubah ketika hidup mulai menekan dari segala arah.
“Anakku pintar,” kata bibi lagi. “Dia cuma ingin selesai kuliah.”