Aku memarkirkan sepeda motorku di halaman depan. Kulihat ada sepatu baru disana. Pertanda ada tamu. Aku masuk ke ruang tamu dan melihat gadis cantik yang memikat hatiku.
“Assalamualaikum…” sapaku saat melihat Salvinia di ruang tamu.
“Waalaikusallam…” Suara itu membuat getar di jantungku semakin berdetak kencang.
“Ayu di mana?” tanyakku basa-basi. Ia tersenyum manis sekali. Entah kenapa jantungku bedetak semakin kencang. Ada aliran yang tidak dapat aku tuliskan dengan kata-kata.
“Ayu lagi di kamar, Mas,” jawabnya dengan suara yang lembut. Aku semakin jatuh cinta dibuatnya. Ku pandangi wajah itu lekat-lekat. Rona wajahnya memancarkan aura positif bagiku. Senyumanya membuathatiku melelah.
“Mmmm…. Kamu sibuk gak nanti malam?” Aku mencoba memberanikan diri mengajaknya keluar, untuk makan malam atau sekedar ngobrol yang gak jelas.
“Enggak…” jawabnya seraya mengumbar senyum paling manis.
“Kita nongkrong yuk,” ajakku kemudian.
“Dimana?” tanyanya. Aku juga bingung sebenarnya. Aku menggaruk kepalaku yang tak gatal. Adegan mainstream yang selalu dilakukan para aktor kalau lagi merayu.
“Atau kita nonton aja?”
“Dimana?” tanyanya lagi. Pertanyaan itu membuatku kalang-kabut dan semakin salah tingkah. Nonton? Mau nonton di mana ya? Hihihi. Desa ini mana ada biskop. Yang ada kebun tembakau.
“Hhmm… di mana ya? Di bioskop,” jawabku.
Dia terkekeh sambil menutup mulutnya dengan telapak tangan. “Daerah sini kan gak ada bioskop, Mas. Adanya cuma bangsal. Mas Aji mau nonton di bangsal tembakau?” Ia terkekeh lagi.
Aku menelan ludahku dan aku mulai gugup. Aku semakin salah tingkah mau mengajaknya kemana.
“Kita keliling perkebunan tembakau aja, Mas. Kebetulan saya belum pernah keliling perkebunan,” ajaknya memberi solusi.
“Oh iya, ya,” ujarku. Dia mengumbar senyum yang paling aku suka.
Singkat cerita akhirnya kami berkeliling kebun tembakau dengan sepeda motor. Kami ngobrol sekenahnya dan cerita tentang perkebunan ini. Banyak cerita yang ingin kutuliskan menjadi bahan tulisanku.
Perempuan-perempuan di bangsal itu tampak tekun bekerja. Aroma tembakau yang begitu menyengat membuatku sedikit pusing. Kami melihat proses pematangan daun-daun tembakau hingga menjadi bahan baku. Sebentar-sebentar aku melirik ke Salvinia yang mengumbar senyum. Aku sedang kasmaran.
Tentang bagaimana dulu ayah berjuang dan bekerja di perkebunan ini sebagai seorang mandor. Atau cerita cinta ibu ku di zaman dulu. Bagaimana mereka main petak umpet di perkebunan tembakau dan cerita-cerita zaman kolonial yang sangat pedih.
Setelah kami menikmati perkebunan tembakau yang begitu luas dan cerita-cerita yang meleburkan anganku, aku mengantar Salvinia sampai ke desanya. Ia tinggal tidak jauh dari areal perkebunan. Salvinia tidak mau ku antarkan sampai rumah, ia minta diturunkan di persimpangan saja.
###
Sebuah sepeda motor tiba-tiba memotong jalanku di tikungan kecil setelah aku mengantar Salvinia pulang. Jalan itu sepi. Hanya ada deretan pohon tua di pinggirnya dan parit kecil yang mengalirkan air dari sawah.
Mesin motor mereka masih menyala ketika mereka berhenti tepat di depanku.
Aku terpaksa menghentikan motorku. Kakiku turun ke tanah. Suara mesin perlahan mereda, menyisakan keheningan yang aneh di jalan itu.
Dua orang laki-laki duduk di atas motor itu. Usianya tidak jauh berbeda dariku. Wajah mereka keras, seperti orang yang datang bukan untuk berbicara baik-baik.
Mata mereka menatapku. Tatapan itu dingin. Tatapan yang tidak membawa persahabatan.
“Siapa kau, berani sekali mengantar Salvinia?” salah satu dari mereka bertanya.
Suaranya datar, tetapi ada sesuatu yang tajam di dalamnya.
Aku menatap balik tanpa berkedip.
“Memangnya kenapa?” kataku.
Ada sesuatu dalam diriku yang menolak untuk terlihat takut. Dua orang itu saling pandang sebentar, lalu salah satu dari mereka—yang berkulit lebih gelap dan tubuhnya sedikit berisi—turun dari sepeda motor.