BERANDA RUMAH KAKEK

Embart nugroho
Chapter #6

PAMAN MINTA TOLONG

Pagi itu datang tanpa banyak suara. Matahari baru naik sedikit di atas atap-atap rumah tetangga. Udara masih dingin dan halaman rumah masih dipenuhi sisa embun yang menempel di rumput.

Aku sedang menyapu daun-daun mangga yang jatuh ketika seseorang berdiri di depan pagar. Aku mengangkat kepala. Paman. Tubuhnya tampak berbeda dari yang kuingat. Bahunya tidak lagi tegak seperti dulu. Kemejanya kusut, dan matanya seperti seseorang yang sudah terlalu lama berjalan tanpa tahu arah pulang.

Ia berdiri lama di depan pagar, seolah-olah ragu apakah rumah ini masih berhak ia datangi.

Aku membuka pagar itu tanpa berkata apa-apa.

“Masih tinggal di sini?” katanya canggung.

Aku mengangguk.

Kami berjalan masuk ke halaman tanpa banyak bicara. Setiap langkah paman terasa seperti langkah seseorang yang sedang menimbang masa lalu.

Di dalam rumah, ibu sedang duduk di kursi dekat jendela. Tangannya memegang cangkir teh yang masih beruap. Ketika melihat siapa yang masuk, tangan ibu berhenti bergerak.

Paman. Adik laki-laki ayah.

Sudah lama sekali ia tidak datang ke rumah ini. Beberapa detik tidak ada yang berbicara.

Rumah itu kembali menjadi tempat di mana kenangan lama berjalan pelan keluar dari dinding-dindingnya.

“Masuklah,” kata ibu akhirnya.

Suaranya tidak keras. Tapi tidak juga hangat.

Paman duduk di kursi kayu yang dulu sering ia duduki ketika ayah masih hidup. Kursi itu sekarang mengeluarkan bunyi kecil ketika menahan berat tubuhnya.

Paman mengusap wajahnya dengan kedua tangan. Ia tampak lebih tua dari umurnya.

“Aku sebenarnya tidak tahu harus mulai dari mana,” katanya.

Ibu tidak menjawab. Ia hanya menunggu. Kadang-kadang manusia memang harus dibiarkan berbicara sampai habis sebelum kita mengerti ke mana arah luka mereka.

“Aku sedang punya banyak masalah,” lanjut paman.

Ia menunduk ketika mengatakan itu.

Rumah tangganya, kata paman, sudah lama tidak tenang. Istrinya pergi beberapa bulan lalu setelah pertengkaran yang tidak selesai. Anak-anaknya ikut bersama ibunya.

Rumah kontrakan yang ia tempati pun kini sudah tidak bisa ia bayar.

“Aku sudah mencoba mencari pekerjaan tambahan,” katanya. “Tapi semuanya seperti tertutup.”

Ibu masih diam.

Aku tahu ibu sedang mengingat sesuatu yang lain. Bertahun-tahun lalu, ketika ayah membayar bagian warisan rumah ini, paman menerima uang yang tidak sedikit. Uang yang sebenarnya cukup untuk membeli rumah kecil atau membuka usaha. Namun uang itu habis seperti air yang bocor dari wadah retak.

Paman mencoba usaha yang gagal. Meminjam kepada orang yang salah. Dan akhirnya hidup berpindah-pindah dari satu kontrakan ke kontrakan lain.

Sekarang ia duduk di rumah yang dulu ingin ia jual. Tangannya saling menggenggam gelisah.

“Aku datang bukan untuk minta uang,” katanya cepat, seolah takut disalahpahami. Ia menatap ibu.

“Aku hanya… ingin menumpang di sini sementara.”

Kalimat itu keluar pelan. Seperti sesuatu yang sangat berat untuk diucapkan.

Ruangan itu kembali sunyi. Jam dinding berdetak seperti biasa, tetapi kali ini setiap detaknya terasa lebih keras.

Ibu memandang paman lama sekali. Di wajahnya aku melihat sesuatu yang bercampur: kemarahan lama, kelelahan, dan juga sesuatu yang tidak pernah benar-benar mati dalam dirinya. Belas kasihan.

“Dulu kau yang paling ingin rumah ini dijual,” kata ibu akhirnya.

Paman tidak membantah. Ia hanya menunduk lebih dalam.

“Aku tahu,” katanya pelan.

“Sekarang kau ingin tinggal di rumah yang dulu kau anggap tidak berharga.”

Paman mengangguk.

“Aku memang bodoh waktu itu.”

Kalimat itu keluar tanpa pembelaan. Tanpa alasan. Hanya pengakuan. Ibu menghela napas panjang. Matanya sebentar melihat ke arah kamar ayah yang pintunya masih tertutup.

Rumah ini seperti menunggu keputusan lagi. Sama seperti malam bertahun-tahun lalu ketika pertengkaran besar terjadi.

Akhirnya ibu berkata pelan.

“Rumah ini dulu dipertahankan ayahmu bukan supaya orang bertengkar memperebutkannya.”

Paman menatap ibu. Matanya merah.

“Tapi supaya keluarga masih punya tempat pulang.”

Sunyi turun lagi setelah kalimat itu. Angin pagi bergerak perlahan di halaman. Daun mangga jatuh satu per satu seperti sesuatu yang selesai dari pohonnya. Ibu berdiri dari kursinya. Ia berjalan menuju dapur sebentar, lalu kembali dengan segelas air. Gelas itu diletakkan di depan paman.

“Kalau kau ingin tinggal di sini,” kata ibu tenang, “tinggallah.”

Paman hampir tidak percaya dengan apa yang ia dengar.

“Tapi satu hal harus kau ingat.”

Paman mengangkat wajahnya. Ibu menatapnya lurus.

“Rumah ini bukan tempat untuk menghabiskan hidup dalam penyesalan.”

Lihat selengkapnya