BERANDA RUMAH KAKEK

Embart nugroho
Chapter #8

MASALAH PAMAN DAN BIBI SELESAI

Masalah paman dan bibi baru saja selesai. Aku merasa lega. Rasanya seperti baru saja keluar dari sebuah lorong panjang yang gelap dan pengap. Selama beberapa minggu terakhir rumah ini dipenuhi ketegangan yang tak terlihat, tetapi bisa dirasakan di setiap sudut ruangan—di ruang tamu, di dapur, bahkan di halaman tempat daun-daun kering berserakan.

Kini semuanya kembali sunyi. Sunyi yang berbeda. Bukan sunyi yang menakutkan seperti rumah kosong, tetapi sunyi yang tenang—seperti setelah hujan panjang yang akhirnya reda.

Aku berdiri di beranda rumah. Angin sore bertiup pelan, menggerakkan daun-daun pohon mangga tua di halaman. Dari tempatku berdiri aku bisa melihat jalan kecil di depan rumah yang mulai sepi. Sesekali sepeda motor melintas, lalu kembali hening.

Di dalam rumah, ibu sedang membereskan beberapa cangkir di meja.

Sejak paman dan istrinya pergi tadi siang, ibu tidak banyak bicara. Wajahnya terlihat lelah, tetapi ada kelegaan yang samar di sana.

Aku masuk kembali ke ruang tamu. Ibu masih berdiri di dekat meja, mengelap permukaan kayu yang sudah kusam dimakan usia. Tangannya bergerak perlahan, seolah tidak ingin mengganggu ketenangan yang baru saja kembali ke rumah ini.

“Sudah selesai semuanya,” kataku pelan.

Ibu berhenti mengelap meja. Ia mengangguk kecil.

“Semoga saja,” jawabnya.

Aku duduk di kursi panjang yang menghadap jendela. Dari sana aku bisa melihat halaman yang luas itu—halaman yang sejak kecil menjadi tempat bermainku, tempat ayah pernah menanam beberapa pohon, dan tempat kakek dulu sering berjalan setiap pagi.

Rumah ini seperti baru saja melewati badai kecil. Tidak ada yang rusak secara nyata. Dinding tetap berdiri. Jendela masih kokoh. Pohon mangga tetap tumbuh seperti biasa. Tetapi sesuatu di dalamnya telah berubah. Mungkin hati orang-orang yang tinggal di dalamnya.

Ibu akhirnya duduk di kursi seberangku. Ia memandang ruangan itu lama sekali, seolah sedang menghitung kembali semua peristiwa yang pernah terjadi di sana.

“Kadang ibu berpikir,” katanya perlahan, “rumah ini terlalu banyak menyimpan cerita.”

Aku tersenyum kecil.

“Memang begitu sejak dulu.”

Ibu mengangguk.

“Dari zaman kakekmu …, lalu ayahmu …, sekarang kita.”

Angin sore masuk dari jendela yang sedikit terbuka. Tirai putih bergerak perlahan seperti napas panjang yang akhirnya dilepaskan.

Aku menatap ibu.

“Yang penting sekarang sudah selesai,” kataku.

Ibu tersenyum tipis. Tetapi senyum itu tidak sepenuhnya ringan.

“Masalah keluarga tidak pernah benar-benar selesai,” katanya pelan.

“Kadang hanya berhenti sebentar.”

Aku terdiam. Ibu lalu memandang halaman melalui jendela besar itu.

“Yang penting kita tetap menjaga rumah ini,” lanjutnya.

Aku mengikuti arah pandangnya. Pohon mangga tua berdiri di tengah halaman, seperti penjaga yang sabar. Ranting-rantingnya bergerak pelan ditiup angin senja. Untuk pertama kalinya setelah semua pertengkaran itu, rumah ini terasa kembali seperti rumah. Bukan medan pertempuran. Bukan tempat orang saling menuntut. Melainkan tempat orang kembali pulang. Dan di dalam keheningan sore itu aku merasa satu hal yang sederhana tetapi sangat berarti: Rumah ini akhirnya bisa bernapas lagi.

 

###

 

“Mas Ajidarma ….” Sapa seseorang kepadaku. Refleks aku menoleh melihat siempunya suara. Kulihat seorang gadis tersenyum padaku sambil melambaikan tangannya. Gadis dengan postur tidak terlalu tinggi, wajahnya biasa-biasa saja. Berkulit sawo matang mengenakan hijab yang dililit ke leher.

“Aku Maisaroh, Mas,” ucapnya lagi sambil salah tingkah. Salah tingkah yang berlebihan menurutku. Dia sedikit agresif menurutku. Dia langsung saja mengamit jermari tanganku dan menciumnya. Refleks ku hempaskan tanganku. Aku sedikit lupa dengannya. Siapa gerangan dirinya. Dahiku berkerut berusaha mengingat siapa gadis itu.

“Astaga aku lupa,” kataku. Dia adik kelasku waktu di Aliyah. Dia tampaknya tidak pandai merias wajahnya, jadi terlihat lebih tua dari usianya. Dulu ia pernah mengirim surat padaku yang isinya ia menyukaiku. Tapi aku tidak suka padanya. Waktu aku masih remaja dan belum mengerti arti cinta yang sesungguhnya. Dia adik sahabatku.

“Kapan datang, Mas?” tanyanya, lagi seperti sudah akrab denganku.

Lihat selengkapnya