Aku nekat menemui Salvinia di kampusnya.
Setelah memarkir motor, aku berjalan masuk ke area kampus dengan perasaan yang tak menentu. Mataku menyapu satu per satu wajah mahasiswi yang berlalu-lalang, seolah berharap waktu mempertemukan kami tanpa perlu usaha. Hingga akhirnya aku melihatnya—Salvinia—berjalan bersama seorang temannya.
Langkahku refleks mendekat.
“Salvinia …,” panggilku pelan.
Teman yang bersamanya menoleh sekilas, lalu pergi begitu saja, meninggalkan kami berdua dalam jarak yang tiba-tiba terasa canggung.
“Mas …, Adji ….” Suaranya terdengar terkejut. “Ngapain mas ke sini?”
Aku salah tingkah. Tangan ini tanpa sadar menggaruk kepala—kebiasaan bodoh yang selalu muncul setiap aku tak tahu harus bersikap bagaimana.
“Mas …, kangen,” kataku pelan, hampir seperti bisikan yang takut didengar.
Salvinia tidak langsung menjawab. Ia hanya menatapku, lalu mengajakku ke kantin. Kami duduk berhadapan. Di antara kami, ada meja kecil yang tiba-tiba terasa seperti batas yang sulit dilintasi.
Tatapannya tajam. Terlalu tajam untuk sekadar pertemuan biasa. Ada sesuatu di sana—sesuatu yang belum siap aku terima.
“Sepertinya …, hubungan kita tidak bisa berlanjut, Mas.”
Kalimat itu jatuh begitu saja. Datar. Namun menghantam keras.
Wajahku berubah seketika. Seolah semua kemungkinan buruk yang selama ini kutolak kini datang bersamaan.
“Kenapa?” tanyaku pelan.
Aku mencoba membaca wajahnya. Wajah yang dulu selalu terasa hangat, kini seperti menyimpan jarak yang tak bisa kutembus.
“Ayah melarang Salvinia,” katanya lirih. “Kalau Salvinia masih berhubungan sama Mas Adji …, kuliah Salvinia akan dihentikan.”
Ia menunduk. Bahunya sedikit bergetar.
Aku terdiam sesaat, mencoba menahan sesuatu yang mendesak keluar dari dada.
“Vin …. Mas sangat mencintaimu,” ucapku, suaraku berat oleh perasaan yang tak bisa lagi kusembunyikan. “Sejak pertama kali kita ketemu …. Mas sudah jatuh hati. Itu bukan main-main.”
Aku menatapnya dalam.
“Apa kamu tidak mencintai Mas?”
Salvinia mendongak perlahan. Matanya berkaca-kaca. Lalu ia kembali menunduk, seolah tak sanggup mempertahankan tatapan itu.
“Aku mencintai Mas …, tapi …,”
Kalimatnya menggantung.
Aku menggenggam ujung meja, mencoba menahan gelisah yang semakin kuat.
“Percaya sama Mas. Kita bisa jalani ini. Kita bisa punya hidup kita sendiri …, sederhana tapi bahagia.”
Namun kata-kataku seperti tidak pernah benar-benar sampai padanya.
Salvinia terisak pelan. Ia menghapus air matanya dengan tisu, lalu berdiri.
“Aku harus masuk,” katanya lirih. “Maafkan aku, Mas ….”
Ia pergi begitu saja.
Langkahnya menjauh, perlahan, lalu hilang di balik keramaian kampus.
Aku tetap duduk di sana, memandangi arah kepergiannya.
Ada sesuatu yang terasa runtuh dalam diriku—pelan, tapi pasti.
Aku berdiri, melangkah keluar dari kantin, dari kampus itu, dengan tubuh yang terasa ringan …, terlalu ringan, seperti kehilangan sesuatu yang selama ini menjadi penopang. Dan untuk pertama kalinya, aku mengerti— tidak semua cinta bisa diperjuangkan sampai akhir.
###
Aku dikejutkan oleh suara lantang yang memecah sore itu. Suara yang datang tanpa permisi, seperti badai yang tiba-tiba menghantam rumah yang selama ini mencoba tenang.
Keluarga Maisaroh berdiri di halaman—beramai-ramai, dengan wajah-wajah yang tak pernah benar-benar hilang dari ingatanku. Ada sesuatu dalam cara mereka datang yang membuat dadaku sesak, seolah masa lalu yang sudah susah payah kukubur kembali ditarik ke permukaan.
Ada apa ini? pikirku.
Aku mengucek mata, berusaha memastikan bahwa ini bukan bayangan. Lalu buru-buru keluar dari kamar, langkahku cepat, tapi hatiku tertatih.
Belum lagi luka tentang Salvinia sempat kutata, kini aku harus berhadapan dengan luka yang lebih lama—lebih dalam.
Keluarga itu.
Keluarga yang dulu menuduhku sebagai pencuri.
Tuduhan yang menghancurkan bukan hanya diriku, tetapi juga nama keluargaku. Hari itu, aku masih bisa mengingat jelas bagaimana tatapan orang-orang berubah, bagaimana bisik-bisik merambat seperti api kecil yang sulit dipadamkan.
Aku tidak hanya kehilangan kepercayaan orang lain—aku kehilangan diriku sendiri.
Ibu …, kehilangan harga dirinya.
Ia menyimpan rasa malu itu selama bertahun-tahun, menelannya diam-diam, seperti luka yang tidak pernah benar-benar sembuh.