BERANDA RUMAH KAKEK

Embart nugroho
Chapter #12

MASALAH MAKIN RIWEH

Aku terjaga dan terbangun. Aku terkesiap dan membuka mataku. Badanku sakit semua karena pukulan semalam. Seperti baru mendapat pukulan berkali-kali tulang-tulangku terasa patah.

“Ada yang menjengukmu,” kata seorang penjaga berbadan tegap. Ia membuka pintu dan menarikku dengan paksa. Kemudian aku berjalan keluar dan menemui seseorang yang menjengukku. Gadis itu, gadis yang menuduhku memperkosanya.

“Untuk apa kau kemari?” tanyaku. Suaraku sangat berat karena malam tadi berteriak-teriak menutut keadilan. Aku jengah melihatnya.

“Saroh bawakan sarapan, Mas,” katanya lembut. Aku bosan dengan kepura-puraanya. Untuk apa dia membawakanku makanan? Aku tidak butuh simpati dari dia. Dia hanya kuanggap sebagai seorang adik, tak lebih dari itu.

“Nggak usah repot-repot kau membawakan aku makanan. Ibuku akan datang membawakan makanan. Sekarang katakan apa maumu?” tanyaku tidak bersahabat. Mungkin sebagi tanda aku tidak suka dengan kehadirannya.

“Maafkan Saroh, Mas …. Saroh melakukan ini karena Saroh mencintai mas Adjidarma,” ujarnya lembut.

Aku semakin jengah dengan kata-katanya. Perkataan itu kudengar tujuh tahun yang lalu saat aku juga masih begitu polos dengan cinta.

“Tapi aku tidak mencintaimu, Saroh! Aku tidak menyentuhmu dan aku tidak memperkosamu! Dari mana kau bisa menuduhku memperkosamu! Ini hanya akal-akalanmu saja kan?!” Nada suaraku tidak bisa ku kontrol.

Biar saja mereka mendengar pengakuanku.

“Pikirkan atas perbuatanmu. Kau telah mencoreng nama baik ibuku dan keluargaku. Dan ingat, aku tidak akan memaafkanmu! Apa lagi untuk menikah denganmu!” kataku sangat bengis. Ku luapkan semua emosiku padanya. Agar dia tahu betapa aku tidak menyukainya.

“Mas …,” gumamnya “Saroh sangat mencintai mas Adji,” ucapnya kemudian.

“Tapi tidak begini caranya, Saroh! Aku nggak ikhlas sampai mati! Lebih baik kau mengaku saja siapa yang memperkosamu!” kataku dengan penuh emosi. “Aku akan menuntut balik atas tuduhanmu.”

“Mas, jangan …,” katanya memohon.

“Katakan siapa yang memperkosamu atau kau akan dipenjara karena munuduh orang tanpa bukti!” kataku tegas, untuk menakutinya.

Lama ia terdiam dan menuduk, kemudian mendongak menatapku. Matanya terlihat berkaca-kaca ketika ingin mengatakan pengakuan itu.

“Saroh akan mengatakannya di pengadilan besok, Mas.” Ia menunduk dan menggigit bibirnya sambil menangis.

Aku diam, namun menaruh kebencian pada Saroh. Kemudian aku beranjak dan meninggalkan Maisaroh di sana. Aku tidak menyentuh sedikit pun makanan yang ia bawa. Aku kembali dalam sel dan duduk sambil menopang kedua kakiku. Pikiranku sangat kacau.

 

###

 

“Akui saja perbuatanmu itu, Ji,” kata ibu saat menjengukku. Ia menatapku sangat dalam mencoba memasuki relung hatiku dan berusaha untuk menemukan kejujuranku.

“Adji tidak melakukannya, Bu. Adji berani bersumpah dan ini hanya akal-akalan Maisaroh saja. Dia ngebet mau nikah sama Adji,” kataku dengan sungguh-sungguh. Aku tidak mungkin berbohong pada ibu. Aku takut kualat.

“Lantas mengapa ia bersikeras mengatakan kalau kamu yang memperkosanya?” kata ibu seraya menarik nafas dalam-dalam lalu menghembuskannya perlahan. Aku tahu hati ibu sangat tercabik-cabik karena masalah ini.

“Adji tidak tahu apa yang ada di benak Maisaroh, Bu. Percaya Adji, Bu. Adji tidak melakukannya.”

“Ibu percaya. Mereka orang-orang yang irih dengan kita.”

“Keluarkan Adji dari sini, Bu," kataku memohon pada ibu.

“Ibu tidak bisa mengeluarkanmu begitu saja. Tunggu persidangan besok,” kata ibu kemudian.

Obrolan kami tak lama, setelah itu ibu pamit dan membawakanku beberapa makanan. Aku memperhatikan ibu yang keluar dengan seluruh rasa kecewanya. Pikiranku kembali ke Salvinia. Apakah dia baik-baik saja. Aku sangat rindu padanya.

 

###

 

Ayu datang menjengukku dengan wajah yang tak sanggup menyembunyikan kesedihan. Matanya sembab, mungkin karena menangis, atau karena terlalu lama menahan sesuatu yang tidak bisa ia ucapkan. Tatapannya berhenti di wajahku—pada lebam di pipi, pada luka di bibir yang belum kering.

“Mas Adji… baik-baik aja kan?” tanyanya pelan, suaranya parau seperti baru saja pecah.

Aku mencoba tersenyum, meski rasanya perih.

“Mas baik-baik aja, Yu. Percaya sama Mas …. Mas nggak melakukan itu.”

Ayu mengangguk cepat, seolah tak ingin ada jeda sedikit pun untuk ragu.

Lihat selengkapnya