Setelah kebebasanku, kami duduk di teras depan rumah, menikmati teh jahe hangat dan gorengan yang masih mengepul. Hangatnya menjalar perlahan di tenggorokan, seperti mencoba menenangkan sisa-sisa ketegangan yang belum sepenuhnya hilang dari tubuhku.
Semilir angin sore menyentuh wajahku. Lembut. Membawa aroma tanah dan daun-daun yang mulai menguning. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, aku bisa merasakan sesuatu yang sederhana—tenang.
Aku mengedarkan pandanganku ke depan.
Hamparan perkebunan tembakau terbentang luas, hijau dan sunyi. Daun-daunnya bergerak perlahan diterpa angin, seperti berbisik tentang sesuatu yang tidak pernah benar-benar selesai diceritakan.
Di sanalah semuanya bermula. Di tanah itu, aku pernah kehilangan diriku. Di tanah itu pula, aku hampir kehilangan segalanya—nama baik, keluarga, bahkan harapan. Namun tanah itu juga menyimpan cerita yang lebih tua dari semua itu.
Cerita tentang masa ketika orang-orang asing datang membawa kuasa. Tentang tangan-tangan yang dipaksa bekerja di bawah terik matahari. Tentang keringat yang jatuh bukan hanya untuk hidup, tetapi untuk kepentingan yang bukan milik mereka.
Perkebunan itu bukan sekadar ladang. Ia adalah saksi. Saksi dari sejarah yang tidak pernah sepenuhnya hilang. Saksi dari luka yang diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.
Aku menyesap teh jaheku perlahan. Di sebelahku, ibu duduk tenang. Ayu sesekali melirik ke arahku, seolah masih memastikan aku benar-benar sudah kembali. Dan aku …, aku hanya memandang ke depan. Mencoba memahami bahwa hidup, seperti tanah di hadapanku itu, selalu menyimpan dua hal sekaligus—keindahan dan luka. Dan keduanya, entah bagaimana, selalu tumbuh berdampingan.
“Apa rencanamu selanjutnya?” tanya ibu diselah-selah aku menikmati angin sore.
Aku meletakkan mug di atas meja. “Adji akan menemui Salvinia, Bu,” jawabku membuat ibu terdiam sesaat. Ia menatapku dalam, lalu berujar.
“Apa kamu mau bikin masalah lagi di dalam keluarga kita?” tanya ibu membuatku terdiam. Ku pandangi wajah ibu yang semakin menua. Kerutan di wajahnya terlihat jelas.
“Adji nggak bikin masalah, Bu. Ini masalah cinta. Adji sangat mencintai Salvinia,” ujarku.
“Buang rasa cintamu itu ke Salvinia, Ji,” kata ibu tegas. “Masih banyak gadis lain di kota sana yang bisa kau jadikan calon menantu untuk ibu. Ibu nggak mau menyulut api pertikaian yang sudah lama padam. Kamu tahu hubungan keluarga kita dengan keluarga Salvinia?”
Aku menggeleng. Sepertinya ada suatu rahasia yang tidak diceritakan ibu. Dulu, tentang ayah Salvinia dan ibu.
“Ibu merahasiakan sesuatu?” tanyaku ingin tahu.
“Ibu tidak bermaksud merahasiakan cerita itu. Waktu itu kamu masih terlalu kecil untuk mengerti cerita itu. Kini kalian sudah lebih dewasa dan ibu akan menceritakannya.”
Sesaat situasi hening. Kulihat ibu menerawang sambil memperhatikan pelataran kebun tembakau. Ibu menarik nafas dengan berat. Cerita itu seperti sangat berat untuk diceritakan.
“Dulu …, Ayah Salvinia ingin memperkosa ibu karena ibu menolak cintanya. Dan keluarga Baskoro menuduh keluarga kakekmu sebagai PKI. Ibu nggak terima semua itu.”
“PKI?” Aku mengerutkan dahiku.
“Kakekmu bukan seorang PKI dan hanya rakyat biasa. Kakekmu akhirnya ditangkap dan tidak tahu kabarnya sampai sekarang. Ibu sangat kehilangan dan membenci keluarga Baskoro.”
Aku menelan ludahku yang terasa pahit. Semakin banyak saja cerita zaman dulu di desaku. Apakah cerita masa lalu berkaitan semua denganku dan apakah kisah cintaku seperti yang dialami kakekku?
Aku hanya terdiam dan membayangkan semua cerita ibu. Desaku punya banyak cerita masa lalu yang tidak diceritakan mereka. Cerita itu seperti terkubur begitu saja.
“Apakah kamu ingin mencintai anak dari seorang tukang fitnah? Yang memfitnah ayahmu?" tanya ibu tegas. Aku tak bisa menjawab pertanyaan ibu, tapi hatiku masih mencintai Salvinia.
Siapa yang salah dalam hal ini? Apakah aku harus menyalahkan cinta? Cinta tidak salah. Cinta itu sesuatu yang murni. Dia tidak bisa diraba, namun dirasa. Cinta itu abstrak.
###
Aroma teh melati menyeruak di kamarku saat aku terbangun. Kepalaku sangat sakit memikirkan mimpiku tadi malam. Ibu meletakkan teh hangat di atas meja. Aku beringsut dari tempat tidur dan menuju jendela kamar. Ku buka gorden dan kusampirkan ke kiri. Cahaya matahari masuk hingga aku memicingkan mataku. Ku lihat hamparan perkebunan di sudut sana. Banyak cerita memilukan di sana.