Hari itu bukan hari yang menyenangkan bagiku. Aku menyusuri perkebunan tembakau dengan sepeda motor, pelan, seolah setiap jengkal tanah di sana menyimpan sesuatu yang harus dihormati. Angin berhembus kering, membawa bau daun tembakau yang menguar samar di udara.
Di kejauhan, berdiri sebuah bangunan tua—besar, sunyi, dan asing. Bentuknya menyerupai kastil yang terlupakan. Itulah rumah peninggalan Mister Buch.
Aku memperlambat laju motor. Ada sesuatu yang terasa ganjil di sana. Dinding-dindingnya retak. Sebagian atapnya runtuh. Namun bukan itu yang membuatku bergidik—melainkan kesan sepi yang terlalu dalam, seolah rumah itu tidak benar-benar kosong. Seolah ada yang tertinggal. Bukan benda. Tapi sesuatu yang tak kasatmata. Aku memalingkan pandangan. Tidak ingin terlalu lama menatapnya.
Di tengah jalan, aku berpapasan dengan Bowo. Ia berhenti sejenak, menatapku dengan sinis. Tatapan yang tidak menyisakan apa pun selain dingin. Seolah aku adalah bagian dari kesalahan yang pernah ia buat. Padahal bukan aku pelakunya. Dialah yang memperkosa Maisaroh. Dan kini …, ia telah menikahinya.
Seolah semuanya bisa diselesaikan hanya dengan satu keputusan.
Aku tidak berkata apa-apa. Hanya membalas tatapannya sekilas, lalu melanjutkan perjalanan.
Dalam hati aku bertanya—apa sebenarnya kesalahanku di matanya? Namun pertanyaan itu cepat kutelan kembali. Tidak semua hal perlu dijawab.
Perjalanan itu membawaku bertemu dengan seorang lelaki tua bernama Hartoyo. Kulitnya gelap, terbakar matahari. Wajahnya keras, seperti tanah yang terlalu lama menahan panas. Namun matanya …, menyimpan sesuatu yang dalam.
Kami duduk di pinggir kebun. Ia mulai bercerita. Tentang masa lalu. Tentang zaman ketika tanah ini bukan milik mereka yang menggarapnya.
Zaman kolonial. Zaman di mana manusia tidak selalu diperlakukan sebagai manusia.
“Dulu …,” katanya pelan, “banyak perempuan dipaksa menjual diri.”
Aku terdiam.
Suara angin tiba-tiba terasa lebih dingin.
“Bukan untuk hidup …, tapi untuk bertahan.”
Ia menatap jauh ke hamparan kebun.
“Anak-anak lahir dari situ.”
Aku menelan ludah. Anak-anak tanpa nama. Tanpa ayah. Tanpa asal yang jelas.
“Mereka disebut anak haram,” lanjutnya. “Diambil orang-orang Tionghoa …, dibesarkan …, lalu dijadikan pekerja.”
Aku memandangnya. Lama. Dan tanpa perlu bertanya, aku tahu—ia bagian dari cerita itu.
Hartoyo tersenyum tipis. Senyum yang tidak benar-benar utuh.
“Saya salah satunya.”
Kalimat itu sederhana. Namun terasa berat. Seolah seluruh hidupnya diringkas dalam satu pengakuan.
Aku tidak tahu harus berkata apa.
Di hadapanku, perkebunan tembakau itu kembali terlihat.
Hijau.
Tenang.
Seolah tidak pernah menyimpan luka. Namun kini aku tahu—di balik hijaunya daun-daun itu, ada sejarah yang tidak pernah benar-benar sembuh. Dan mungkin …, akan terus hidup, dalam diam, seperti orang-orang yang pernah dilahirkannya.
###
Rindu ini tidak seperti rindu biasanya. Hari ini aku sangat merindukan sosok gadis lembut yang menusuk jantung hatiku. Sudah beberapa hari ini aku tidak menemukan Salvinia. Dia juga tidak datang ke rumah seperti biasa bersama Ayu. Kemana gerangan dirinya? Hatiku menjadi raib bersama rindu yang terpendam jauh.
Aku ingin menemui Salvinia sekalian mengantar Ayu ke kampus. Mereka tidak satu ruangan. Salvinia kakak kelas Ayu dan tahun depan Salvinia wisuda.
“Salvinia …!” panggilku saat aku melihatnya berjalan di pinggir kampus. Salvinia terus saja berjalan dan berusaha menghindar dariku. Setelah memarkirkan motorku, aku mengejarnya. Ia berjalan cepat masuk ke sebuah koridor kampus.
“Salvinia …. Tunggu!” panggilku lagi. Aku berlari mengejarnya dan menarik lengannya ketika mendekati persimpangan koridor. Ia berhenti dan menunduk. Aku pun berhenti dengan nafas tersengal.
“Kenapa kamu menghindar dari mas Adji?” tanyakku ingin tahu. Salvinia hanya menundukkan kepala.
“Mas Adji mau ngomong sama kamu, Salvinia,” kataku sambil mengatur nafas yang tidak teratur. Gadis berbalut pakaian gamis modern itu tak banyak bicara. Apa dia ingin menghidar dariku?