BERANDA RUMAH KAKEK

Embart nugroho
Chapter #16

AKU HILANG INGATAN SEMENTARA

Hujan membasahi pelataran dan daun-daun tembakau. Aku terpaku memperhatikan tetes air hujan yang menggenang di beberapa tempat. Aku memperhatikan halaman itu lewat jendela kacakamarku. Hawa dingin itu mengingatkan aku pada seseorang, tapi entah siapa. Aku lupa dan sama sekali tak bisa mengingatnya.

Seperti potongan-potongan film aku melihat seorang gadis yang tersenyum padaku. Siapa gadis itu? Pikirku. Kemudian ia menangis tersedu. Tampaknya dia sangat menderita. Kemudian aku melihat potonga-potongan gadis itu berteriak memanggil namaku. Aku penasaran. Aku beranjak menemui perempuan baya yang menyebut dirinya ibuku.

Aku melihat perempuan itu duduk terbaku di kursi ruang tamu. Aku menghampirinya dan bertanya.

“Siapa gadis yang bersamaku akhir-akhir ini, Bu?” Tanyaku dan duduk di kursi tamu. Perempuan itu menoleh memandangku dengan tajam. Dia tampaknya bingung harus berkata apa.

“Eee….”

“Itu Samanda kali, Mas.” Tiba-tiba gadis pecicilan itu menimpali. Gadis itu memang pecicilan menurutku. Ntah siapa dia.

“Samanda?” Aku mengerutkan keningku. “Di mana dia?” Tanyaku lagi.

“Dia masih di kampus, sebentar lagi juga datang.” Katanya kemudian. Sepertinya aku tidak mengenal Samanda. Tapi ada satu nama yang pernah singgah di benakku. Aku lupa siapa namanya.

“Apa yang terjadi padaku akhir-akhir ini?”

“Nggak ada.”

“Nggak ada?” Aku membuat kerutan di dahiku.

Aku beranjak dan kembali ke kamarku. Aku duduk dengan lamunan bisu sambil mengingat apa yang sudah terjadi. Sepertinya ada yang terlewatkan saat aku tidak sadarkan diri.

Aku beranjak menuju jendela kamar dan memperhatikan areal tembakau yang luas di sana.tembakau-tembakau itu siap dipetik dan basah terkena air hujan. Saat ku ingat tembakau, aku mengingat kejadi seorang gadis yang di perkosa di areal itu. Aku geram dan mengepalkan tanganku. Apa yang bisa ku lakukan?

Kepalaku terasa sakit sekali ketika ingin mengingat apa yang sudah terjadi. Aku sempoyongan karena sakit yang sangat luar biasa di kepalaku sampai aku menubruk lemari baju. Barang-barang yang ada di atas lemari pun berjatuhan dan menimpah kepalaku.

“AKHH…” Pekikku merasa sakit.Aku menjerit saking sakitnya. Perempuan dan anak gadis itu tergopoh-gopoh menghmpiriku. Dalam rasa sakit itu aku mengingat semuanya. Mengingat siapa diriku, siapa gadis bernama Ayu dan apa yang sudah terjadi padaku. Aku pun pingsan tidak sadarkan diri.

“Mas, Adji… bangun, Mas…” Aku masih sempat mendengar teriakan itu. Kemudian semuanya gelap.

Mereka sibuk mengguncang tubuhku dan menepuk-nepuk pipiku.Mereka juga memberiku minyak kayu putih. Aku pingsan. Dan dalam ketidak sadaranku, aku melihat seorang gadis cantik tersenyum padaku.

“Mas Adji….” Panggilnya.

 

###

Beberapa jam kemudian aku siuman, tapi kepalaku masih sakit. Aku sepeti baru bangun dari tidurku dan mengingat semuanya. Aku menghampiri meja belajar dan menyalakan laptopku.

Ku buka laptop di atas meja. Ku baca semua tulisan yang ada di sana. Seperti mendapat memori baru dan mengingat semuanya. Tentang perkenalanku dengan Salvinia dan kencan pertamaku di perkebunan tembakau.

Dia gadis yang cantik. Kulitnya putih dan bersahaja. Salvinia namanya. Senyumannya membuat aku tergoda.

Sebait kalimat yang ku baca pada lembar di laptopku membuatku membayangkan hal itu. Aku tersenyum tipis. Aku lupa wajah Salvinia dan berusaha mengingatnya. Pasti dia gadis yang cantik seperti dalam tulisanku.

Seperti penggalan-penggalan film aku melihat kejadian itu. Perkenalanku dengan Salvina dan pacaran pertama dengannya. Kejadian aku membawa kabur Salvinia dan orang-orang yang menyerangku. Orang yang memukulku hingga aku koma selama seminggu. Kejadian-kejadian masa lalu juga bersemayam di benakku. Tentang kakek, nek Melur dan Darto.Tentang gadis tembakau dan lelaki pembunuh seribu nyawa. Aku sudah ingat siapa diriku.

Aku Adjidarma. Ya, aku yang mencintai Salvinia dan membawa kabur ke kota. Lantas di mana gadis itu.

Aku menuju ruang tamu, dimana Ayu dan ibu ada disana. Ruang tamu hening. Malam tak memberikan apa-apa pada diriku. Aku duduk sambil mengamati dua perempuan di depanku. Mereka sengaja menyembunyikan ingatanku dari kejadian yang ku alami.

“Di mana Salvinia?” Tanyaku tegas. Aku memperhatikan mereka berdua satu per satu.

Lihat selengkapnya