Aku terpaku di kamar dan mengenang semua kenangan manis bersama Salvinia. Tidak ada yang bisa menggantikan hati gadis itu di hatiku. Dan aku tidak bisa melupakan Salvinia. Dia gadis lembut yang sangat baik padaku. Kenangan itu bermain-main di mataku. Wajah itu, wajah teduh bidadari surge yang diciptakan Allah padaku. Tapi kami berpisah di dunia fanah ini sebelum sempat membina rumah tangga.
“Mas Adji, kita berangkat sekarang?” Tanya Ayu membuyarkan lamunan-lamunanku. Aku terkesiap dan menoleh ke Ayu.
“Ya.” Jawabku singkat.
Kami mengendarai mobil milik paman. Selama dalam perjalanan, mataku berkabut. Air bening itu menutupi selaput mataku dan aku hanya diam. Sesekali isakku terdengar dan aku menutup mulutku dengan tangan. Aku tak mau terlihat cengeng di depan mereka.
Aku tidak sanggup masuk ke pemakaman Salvinia. Hatiku terlalu pedih saat ditingalkan begitu saja. Aku masih tidak percaya dengan kematian Salvinia. Aku berusaha untuk tegar dan menerima kenyataan pahit itu.
Daun-daun kamboja sudah berguran dan bunganya rebah di pusara Salvinia. Aku akan meluapkan semua airmataku kepadanya. Akan ku ceritakan semua tentang betapa cintanya aku kepadanya. Betapa ia sangat berarti bagiku. Betapa aku sangat menyayanginya.
“Vinn… Maafkan mas Adji. Mas Aji tidak sanggup berpisah denganmu.” Isaku di pusara Salvinia. Ku elus papan yang tertulis namanya dengan lembut. Ku tabur bunga-bunga setaman di tanah merah itu.
Kehidupan memang tidak bisa ditebak. Hidup dan mati adalah rahasia illahi. Jika kita tak pandai-pandai menghadapinya maka syetan akan memanfaatan keputusasaan manusia.
“Salvinia…” Gumamku pelan.“Akan mas Aji ceritakan padamu tentang gadis tembakau yang menjadi gundik kapten Belanda dan lelaki pembunuh seribu nyawa. Agar kau tahu cerita tentang desa tembakau yang penuh dengan dosa. Laki-laki pembunuh seribu nyawa itu ada kek Darto. Kakekmu yang juga membunuh kakek mas Aji.” Ceritaku sambil terisak. Aku membiarkan seorang gadis memperhatikan ku di ujung sana. Aku tak perduli. Ini adalah salam perpisahanku dengan Salvinia.
“Kakek kita ternyata sama-sama penghianat dan bejat! Kita tak harus menanggung semua dosa-dosa mereka. Kita tidak bersalah. Jika nanti saatnya tiba mas Aji ingin bertemu denganmu.”
Keheningan hari itu membuatku semakin sedih. Air mataku mengalir membasahi pipiku. Aku ingin berlama-lama di pusara itu. Aku tidak ingin berpisah dari Salvinia.
“Tapi dunia kita sudah berbeda. Mas Aji hanya bisa berdoa semoga engkau tenang di sana.”
Ku siram pusara itu dengan air tawar dan berdoa demi arwah Salvinia. Kutabur bunga-bunga di atasnya.
“Mas Aji…” Suara lembut membuyarkan kesedihanku. Suara seorang gadis cantik berkulit putih. Walau aku mendapat pengganti Salvinia, tapi aku tidak akan melupakannya. Dia tetap berada di hatiku selamanya.
“Samanda…” Gumamku pelan.
“Udah selesai? Kita pulang yuk.” Ajaknya dengan suara lembut. Suara itu seperti suara Salvinia. Suara lembut dari surga. Aku beranjak dan merengkuh bahu Samanda dengan berat. Akumasih belum sanggup meninggalkan pusara Salvinia. Aku masih ingin berlama-lama di sana. Tapi aku sadar, meratapi pusara itu akan menambah kesedihan Salvinia.
“Izinkan mas Aji bersanding dengan Samanda, Salvinia…” Kataku dalam hati. Kemudian kami meninggalkan makam Salvinia dan meninggalkan kenangan manis bersama gadis itu.
Aku berharap kisah ku tidak dialami Ayu dan keturunanku kelak. Biarlah hanya aku yang menangungnya dan hanya aku yang tahu cerita itu.
###