
Rembulan tampak begitu gagah menantang semesta. Di bawah sinarnya yang pucat, tepat pukul sebelas malam, Darmo duduk di kursi kayu yang sudah lapuk dimakan usia. Suara decitan kayu yang beradu dengan beban tubuhnya terdengar ngilu, seirama dengan kegelisahan yang mengaduk dadanya.
Di atas meja, jemari Darmo yang kasar sibuk menyusun uang koin. Keping demi keping logam itu ia jajarkan hingga membentuk menara kecil. Ia memastikan semuanya berdiri tegak, sejajar secara simetris, inci demi inci tanpa celah sedikit pun.
Satu kali, dua kali, Darmo menghitung ulang. Nafasnya mulai memburu saat hasil yang keluar tetap tidak berubah. Hasilnya tetap sama: selisih dua ratus perak. Bagi dunia, itu hanya recehan tak berharga, tapi bagi Darmo, dua ratus perak adalah lubang besar yang mengancam keutuhan hidupnya.
Lampu gantung yang temaram menyorot meja makan kayu lapuk, tempat tumpukan koin berjejer kaku. Seluruh sudut rumah sudah tenggelam dalam kegelapan, hanya menyisakan satu lingkaran cahaya di ruang tengah—panggung bagi kegilaan Darmo malam itu.
Tangan Darmo mengepal, mencengkeram sisi meja dengan sangat kuat. Buku-buku jarinya memutih, memperlihatkan urat-urat tangan yang menonjol tegang seolah sedang menahan beban berton-ton.
"Uang kurang dua ratus perak... Tidak, tidak, pasti jatuh di suatu tempat. Angka ini tidak sempurna!" gumam Darmo dengan suara yang bergetar hebat.
Matanya menatap tumpukan koin itu seperti menatap teror mistis yang mengancam nyawanya. Bagi Darmo, dua keping logam itu bukan sekadar alat tukar, melainkan kepingan terakhir yang bisa menjaga kewarasannya tetap utuh.
Secara impulsif, ia bangkit dari duduknya. Gerakannya acak dan kalap. Ia mulai membongkar apa saja; mengais di kolong kursi, meraba sela-sela buku yang berdebu, hingga membalikkan semua kantong celana yang tergantung di dinding. Ia tidak akan membiarkan malam ini berakhir sebelum dua ratus perak itu ditemukan dan angka di catatannya kembali menjadi sempurna.
Neni, anak bungsu Darmo dan Narti, berdiri gemetar di depan cermin kamar yang kusam. Ia menyingkirkan helaian rambutnya, memperlihatkan sebuah bercak tak sempurna di leher—noda putih yang ia takutkan akan terus melebar menjajah tubuhnya.
Tangannya bergerak kasar, mencoba menghapus bercak itu seolah-olah itu hanya bekas kapur. Ia terduduk di sudut kamar yang sempit, menatap bayangannya sendiri dengan benci.
"Ayo hilang... hilang! Aku enggak suka bercak tidak sempurna ini!" bisik Neni. Ia mengusap kulitnya dengan paksa hingga memerah dan perih.
Tepat saat air mata Neni nyaris jatuh, sebuah suara gaduh meledak dari ruang tengah. Suara kursi yang terseret kasar dan benda-benda yang dijatuhkan membuat jantungnya meloncat. Dengan tangan yang masih memegangi lehernya yang memerah, Neni memberanikan diri membuka pintu kamar.
Di sana, di bawah remang lampu gantung, ia melihat ayahnya. Darmo bergerak impulsif, merangkak dan mengais di sela-sela furniture dengan wajah pias yang mengerikan. Sang ayah terlihat seperti orang kesurupan yang sedang memburu sesuatu yang tidak kasat mata.
Neni melangkah pelan, mengikis jarak menuju ruang makan tempat ayahnya masih terjebak dalam kegilaan singkat.
"Yah? Cari apa? Neni bisa bantu?" suara kecilnya memecah kesunyian malam.
"Koin... koin itu pasti jatuh di sekitar sini. Ayah cari koin dua ratus perak. Angka uang Ayah tidak sempurna, Neni. Cacat!" Darmo menjawab tanpa sedikit pun mendongak. Ia tidak menanyakan mengapa putri bungsunya masih terjaga di pukul sebelas malam, atau mengapa mata anaknya tampak sembab. Fokusnya hanya satu: lubang dua ratus perak di catatannya.