BERCAK OCD FINANSIAL AYAH

zanu ariska wakhida ainia
Chapter #2

PERJAMUAN ANGKA GANJIL


Setiap derap langkah Narti dan kedua putrinya, Dina dan Neni, terasa berat saat memasuki ruang makan. Aroma teh melati yang dominan merasuk ke indra penciuman mereka. Menyusuri setiap sudut ruangan ber cat putih tertempel figura yang menangkap potret keluarga, seolah berusaha menetralkan aroma amis salep vitiligo minyak but-but yang baru saja dioleskan Neni di kamar. Di sana, di bawah remang lampu gantung, Deni berdiri kaku. Jaket ojolnya yang lusuh tersampir di sandaran kursi dengan warna pudar akibat sengat matahari, menandakan bahwa jaket itu juga ikut sebagai saksi dan simbol perjuangan deni untuk membiayai kuliah dan membantu ekonomi keluarga—posisinya harus tegak lurus, tidak boleh miring satu derajat pun, atau Ayah akan menegurnya. Dimana segala hal harus presisi.

​Darmo berdiri membelakangi mereka. Di depannya, kompor gas menyala dengan api biru yang tenang. Sebuah panci berisi air mendidih mengeluarkan uap tipis. Darmo sedang melakukan "ritual" harian: menyiapkan gula dan teh untuk lima gelas. Sejajar inci demi inci setiap gelas, berkali-kali darmo melihat setiap baris lima gelas di atas meja. Memastikan jika pandanganya benar-benar presisi setiap gelas.

​"Mas? Lagi buat apa?" tanya Narti lembut, memecah kesunyian malam yang dingin.

​Darmo tidak menoleh. Matanya terpaku pada sendok di tangannya. Satu sendok gula masuk ke gelas pertama. Rata. Benar-benar rata dengan bibir sendok. Tidak boleh munjung, tidak boleh kurang. Karena baginya, satu butir gula yang terbuang adalah pengkhianatan terhadap keringat di Toko No. 13 A. Dimana tempatnya mencari nafkah dengan angka cacat No. 13 A.

​"Ini lagi buat teh buat kalian. Duduk saja, habis ini jadi. Cocok diminum sambil makan martabak," jawab Darmo tanpa mengalihkan pandangan dari gelas ketiga.

​Cekatan. Bersih. Suara denting sendok yang beradu dengan dinding gelas kaca terdengar seperti irama metronom yang mencekam. Ting. Ting. Ting. Suaranya harus sama di setiap gelas seperti tiga kali putaran ke arah utara dan 3 putaran ke selatan. Deni membantu mengangkat panci, menuangkan air mendidih dengan tangan yang sedikit gemetar, takut percikan airnya mengotori meja kayu yang sudah diusap bersih oleh Ayah.

​Tepat saat jam dinding berdentang—menunjukkan pukul sebelas lewat lima belas malam yang presisi—teh itu mendarat di meja. Lima gelas berjejer simetris, membentuk garis lurus di samping kotak martabak yang tadi dibeli Deni.

​"Ayo makan," ajak Darmo. Namun, matanya tidak menatap martabaknya. Matanya menatap kotak martabak itu, lalu melirik ke arah dompet Deni yang mengintip dari saku jaket. Darmo mulai menghitung dalam kepala: harga martabak, harga gula, dan berapa lama ia harus berdiri di pasar untuk mengganti kenikmatan malam ini.

​"Ayo dimakan. Ini sudah pukul sebelas lebih," suara Darmo memecah keheningan saat sadar tak ada yang menyentuh dan mengambil setiap potongan martabak, datar namun ada nada perintah yang melindungi di sana. "Kalian makan, habis itu langsung tidur. Meski besok hari Minggu, dunia tidak akan berhenti berputar hanya untuk menunggu kalian bangun siang."

​Tatapan Darmo beralih pada kedua putrinya. "Neni, Dina... kenapa jam segini belum tidur?"

​Pertanyaan itu sebenarnya adalah selubung. Di dalam kepalanya, Darmo sedang bertarung hebat. Ada angka-angka yang berkejaran dan meneror setiap kewarasannya, menuntut saldo rekeningnya tetap genap, tidak boleh ada angka ganjil yang menganga seperti luka. Namun, dia memejamkan mata sejenak, mencoba menyapu bersih barisan angka itu ke sudut gelap otaknya. Malam ini adalah waktu keluarga. Setidaknya, sebelum fajar kembali menagih tagihan-tagihan yang tak kenal ampun.

Lihat selengkapnya