Deni segera melompat, menyambar kedua pergelangan tangan ayahnya yang masih beringas menghantam kepala sendiri. "Ayah, stop, Yah! Deni tahu Ayah pasti tidak sengaja. Jangan sakiti diri Ayah sendiri. Lihat Neni, Dina, dan Ibu... mereka takut!". Suara Deni bergetar, menahan beban tubuh Darmo yang gemetar hebat karena ledakan emosinya sendiri.
Di tengah kegelapan malam yang biasanya tenang, pertahanan di dalam rumah sederhana itu pecah menjadi kepingan traumatis hanya karena sebuah toping martabak yang tercecer. Narti berdiri mematung di antara dua kutub penderitaan yang menghimpit jantungnya. Di satu sisi, Neni menangis tergugu dalam dekapannya, terluka oleh kata "cacat" yang menghujam tepat ke titik rapuh kepercayaan dirinya yaitu bercak Vitiligo nya. Namun di sisi lain, suaminya Darmo—lelaki dan ayah yang selama ini memeras keringat demi angka-angka keselamatan keluarga—sedang menyiksa diri sendiri di depan matanya.
Dada Narti terasa sesak, seolah dihantam batu besar yang tak kasat mata semuanya terasa tiba tiba. Ia terjebak dalam dilema yang menyiksa: haruskah ia tetap memeluk Neni untuk menyembuhkan luka batin putrinya, atau melepaskan pelukan itu demi mencegah Darmo menghancurkan kepalanya sendiri? Di dalam saku dasternya, ia meraba botol salep Neni yang sudah mengempis dan membayangkan resep obat penenang Darmo yang belum ditebus. Malam itu, Narti dipaksa memilih antara kewarasan suaminya atau ketenangan anaknya, sementara air mata terus membasahi pipinya yang lelah.
Tanpa ada yang menyadari, di sisi lain ruangan, Dina berjalan mundur perlahan hingga punggungnya membentur tembok dingin matanya menyimpan getaran traumatis. Ia memojok ke sudut gelap, seolah ingin menghilang dari sana. Matanya tak berkedip, menangkap setiap detik horor yang terekam jelas atas apa terjadi di depan meja makan. Jemarinya saling memilin dengan gemetar ujung baju nya seakan mengurai benang kehangatan beberapa waktu lalu, air mata menetes tanpa suara karena kaget dan ngeri melihat pilar kekuatan di rumah itu runtuh hanya karena sebutir meses.
Narti mengambil keputusan yang menyayat hati. Ia memilih tetap mendekap Neni, menenggelamkan wajah putrinya ke dadanya agar tidak melihat kegilaan itu lebih jauh. Narti tahu, jika Neni sampai menunjukkan rasa benci atau ketakutan yang dalam pada Ayahnya, maka jiwa Darmo akan benar-benar hancur tak bersisa. Ia menjadi jangkar bagi putrinya, meski hatinya sendiri terombang-ambing melihat suaminya sedang menyiksa diri.
Di sisi lain meja, Deni masih mencengkeram kuat kedua tangan Ayahnya. Napas Darmo memburu, temponya cepat dan pendek, dengan dada yang naik turun secara tidak beraturan.
"Dasar bodoh... bodoh... Darmo, kau bodoh," lirih Darmo. Suaranya pecah, penuh dengan penghinaan pada dirinya sendiri yang gagal menjaga kesempurnaan angka malam itu.
Deni menatap tepat ke manik mata Ayahnya yang tampak kosong dan liar. "Ayah, tenang! Hey... lihat Deni, Yah. Tarik napas... buang. Semua akan baik-baik saja. Lihat mata Deni, Yah. Tarik napas... buang."
Perlahan, seperti mesin yang kehabisan daya, ketegangan di tubuh Darmo mengendur tapi otak Darmo masih terus mengeluarkan percikan tidak seimbang. Deni segera memapah tubuh ringkih Ayahnya menuju kamar, menjauhkannya dari "medan perang" di meja makan. Narti pun membawa Neni masuk ke kamar, meninggalkan kesunyian yang mencekam di ruang tengah.
Di ruang makan yang kini sunyi, tak ada satu pun yang menyadari ada satu jiwa yang masih terjebak di sana. Dina. Tubuhnya perlahan merosot, bersandar pada tembok dingin yang menjadi saksi bisu. Ia menggigit jemarinya dengan kencang, sebuah tanda kecemasan yang tak tertahankan, tangan Dina memerah dan lecet tetes bening diiringi isak pelan Dina mengisi sunyi ruang makan. Matanya yang sembab menatap nanar ke arah meja; di sana masih ada sisa martabak dua potong dalam kotak berminyak. Dua potong martabak yang kini terasa seperti monumen kegagalan keluarga mereka malam itu.
Darmo melangkah terseok, bahunya merosot berat dalam papahan Deni. Setiap jengkal lantai yang ia injak terasa seperti bara api yang menghakimi kegagalannya.
"Ma—maaf. Maaf... dasar bodoh. Darmo, kau gila," gumamnya dengan raut kosong. Bibirnya bergetar, merapalkan kutukan pada dirinya sendiri.
Sesekali, kepala Darmo mencoba menoleh ke belakang, matanya mencari sosok Neni. Ia ingin lari, bersimpuh di kaki putri bungsunya, dan menghapus kata "cacat" yang sempat ia muntahkan. Namun, kewarasannya yang tersisa menahan langkah itu. Ia sadar otaknya sedang rusak. Ia takut jika ia mendekat sekarang, perintah impulsif dari kepalanya yang mendominasi akan kembali menyakiti anak-anaknya. Darmo akhirnya memilih memalingkan wajah sepenuhnya, membiarkan Deni menyeret tubuhnya menjauh, seolah ia adalah monster yang sedang dikarantina agar tidak menularkan luka.
Di sisi berlawanan, koridor menuju kamar Neni terasa memanjang secara gaib. Perjalanan yang seharusnya hanya butuh sepuluh langkah, kini terasa berkilo-kilo meter jauhnya. Langkah Narti terasa berat, menopang tubuh Neni yang lemas tak bertulang.
"Ca—cacat. Ayah tidak suka cacat, Ibu... dan aku merusak standar itu," isak Neni pecah di sela napas yang tersenggal. Kata itu bukan lagi sekadar suara, tapi belati yang sudah menancap dan kini diputar di dalam hatinya.
Narti tidak menjawab dengan kata-kata indah yang kosong. Ia justru semakin erat mendekap Neni, menenggelamkan wajah putrinya ke dalam pelukannya—satu-satunya tempat di rumah ini di mana angka dan standar tidak berlaku.