Tidak semua kelahiran membawa cahaya. Ada manusia yang lahir dengan langit cerah di atas kepalanya, dan ada yang sejak tangisan pertama telah disambut atap bocor, lantai dingin, dan doa-doa yang hanya berani diucapkan setengah suara. Jika ada satu pertanyaan yang tak pernah menemukan jawabannya, maka itulah ini: dapatkah aku memilih kepada siapa aku harus dilahirkan? Tidak. Kita dilemparkan begitu saja ke dunia—tanpa peta, tanpa janji—lalu diminta bertahan seolah-olah itu pilihan kita.
Banyak orang gemar menasihati: jangan berharap. Namun siapa yang benar-benar sanggup hidup tanpa harap? Kita berharap bukan karena bodoh, melainkan karena berharap adalah sisa-sisa naluri untuk hidup. Kita berharap bukan pada kemewahan, sering kali hanya pada hal paling sederhana: makan cukup hari ini, tidur tanpa cemas, bangun esok tanpa rasa takut. Tetapi dunia tidak berutang apa pun pada harapan itu. Dunia berjalan dengan caranya sendiri, dan kita yang tertinggal belajar mengumpulkan serpih-serpih diri.
Aku lahir bukan dalam dongeng. Aku lahir dalam kekurangan yang berulang, dalam kesulitan yang terasa turun-temurun. Kekurangan bukan sekadar ketiadaan uang, melainkan ketiadaan pilihan. Ketika orang lain berbicara tentang mimpi, aku belajar berbicara tentang bertahan. Ketika mereka merencanakan masa depan, aku menghitung hari. Dan di sanalah aku paham: doa untuk menjadi lebih baik adalah hak siapa pun, tetapi realitas tidak pernah menjanjikan jawaban yang lembut.
Di lingkungan yang ku kenal, perhatian datang dalam bentuk kata-kata baik. Senyum, tepukan bahu, nasihat penuh empati—semuanya ada. Namun ketika malam turun dan pintu ditutup, yang tinggal hanyalah kita sendiri. Rasa pahit tidak pernah bisa diwakilkan. Luka tidak bisa dipindahkan. Perjuangan adalah pekerjaan paling sunyi yang pernah diciptakan manusia.
Maka sebelum kekecewaanmu menjelma jurang, izinkan aku menyarankan sesuatu yang terdengar kejam: belajarlah mencicipi pahitnya hidup. Jangan menghindar. Jangan memuntahkannya terlalu cepat.
Rasa pahit adalah pelajaran pertama sebelum jatuh. Ia tidak datang untuk membunuhmu, melainkan untuk menguji apakah kau masih sanggup bernapas ketika manis direnggut darimu.
Hidup berdampingan dengan rasa sakit bukan kutukan; ia adalah anugerah yang menyamar. Orang-orang bertanya dengan sinis, untuk apa berusaha jika akhirnya gagal? Pertanyaan itu tidak pesimis—ia jujur. Jawabannya pun sederhana dan menyakitkan: memang tidak ada jaminan. Tidak ada kontrak antara usaha dan hasil. Yang ada hanyalah pengalaman. Dan pengalaman termahal manusia adalah kegagalan yang benar-benar dirasakan, bukan yang sekadar diceritakan.
Banyak orang menghindar dari rasa sakit seolah-olah ia penyakit menular. Mereka menutup mata, menutup telinga, dan menutup hati. Aku menyarankan kebalikannya: hadapi, pelajari, dan rasakan. Dalam sudut paling gelap dari kesadaranku, aku meyakini satu hal—tidak semua yang manis adalah obat, dan tidak semua yang pahit adalah racun. Ada pahit yang menyelamatkanmu dari ilusi, dari harapan palsu, dari janji-janji kosong yang tak pernah berniat ditepati.
Jalani kekecewaanmu sampai tuntas. Ratapi kegagalanmu tanpa malu. Dunia terlalu sering memaksa kita kuat sebelum kita sempat jujur pada rasa. Tak perlu mendengarkan semua saran; kebanyakan saran lahir dari jarak aman, bukan dari luka yang sama. Jika perlu, teriakkan tangismu sampai Tuhan tahu bahwa ada seorang manusia yang sedang jatuh dan tak lagi berpura-pura.
Nikmati kesendirian yang dibalut putus asa. Duduklah di antara dua pilihan paling sunyi: melanjutkan hidup atau menyerah pada kelelahan. Di titik itu, waktu melambat. Napas terasa berat. Pikiran berisik. Dan kau akan sadar bahwa kejatuhan bukanlah satu peristiwa, melainkan proses—turun perlahan, hari demi hari, tanpa saksi.
Aku datang kepadamu yang terjatuh, tetapi aku tidak akan menarik tanganmu. Bukan karena kejam, melainkan karena ada pelajaran yang hanya bisa dipelajari saat kau benar-benar sendirian. Aku menciptakan wahana gelap tanpa dasar dan tanpa batas agar kau larut sepenuhnya dalam kejatuhanmu. Biarkan gelap mengajarkan apa yang cahaya tak sanggup.