Berdiam Dalam Gelap

Davie Al-Fattah
Chapter #2

Terpuruk dan Membusuk

Tidak perlu menunggu malam untuk merasa gelap. Kegelapan tidak selalu turun bersama matahari; ia sering datang di siang bolong, di tengah keramaian, di sela tawa orang-orang yang tidak tahu apa-apa tentang isi kepalamu. Rasa kecewa, sakit hati, dan segala bentuk kehilangan tidak mengenal jadwal. Mereka datang tanpa undangan, duduk di dadamu, dan menolak pergi.

Apa pun bentuknya, kehadiran mereka tidak pernah membawa keceriaan. Mereka tidak datang untuk menghibur. Mereka datang untuk menetap. Jika kau masih berharap menemukan senyum di halaman-halaman ini, berhentilah sekarang. Tutup buku ini. Karena yang menunggu di depan bukan cahaya, melainkan pengakuan bahwa tidak semua hidup pantas diselamatkan dari murungnya.

Setiap pagi aku berjalan melewati bangunan-bangunan yang sama. Jendela-jendela yang terbuka itu seperti mata yang mengawasi, menyimpan umpatan yang tak pernah diucapkan. Tidak ada kata, tetapi ada penilaian. Tidak ada suara, tetapi ada vonis. Aku merasakannya menempel di kulitku—pandang jijik yang tidak butuh alasan.

Aku tidak lagi mencoba membuktikan apa pun. Terpuruk dan membusuk adalah caraku berdamai dengan kenyataan. Aku berhenti membersihkan luka agar ia bisa menunjukkan bentuk aslinya. Aku membiarkan diriku membusuk perlahan, karena di sanalah aku menemukan kejujuran yang tidak kutemukan di mana pun. Bangkit, bagi sebagian orang, terdengar seperti kewajiban moral. Seolah-olah berlama-lama di tanah adalah dosa. Mereka menyebut sinar matahari pagi sebagai penyembuh, udara segar sebagai penawar. Bagiku, itu hanya metafora murahan. Duduk di bawah pancuran cahaya dengan tubuh yang dipaksa siap bukanlah kesembuhan, melainkan sandiwara.

Apa yang salah dengan kesendirian? Apa yang salah dengan gelap, dengan putus asa yang tidak disamarkan? Tidak ada. Kesalahan hanya ada pada dunia yang terlalu tergesa-gesa ingin melihat orang lain pulih agar mereka tidak perlu merasa tidak nyaman. Aku memilih diam. Aku memilih membusuk. Dalam kebusukan itu, aku tidak perlu menjelaskan apa pun. Aku tidak perlu tersenyum. Aku tidak perlu berpura-pura baik-baik saja. Tubuhku boleh tetap berjalan, tetapi jiwaku berhenti di satu titik yang tidak ingin ditinggalkan.

Lihat selengkapnya