Berdiam Dalam Gelap

Davie Al-Fattah
Chapter #3

Sahabat Mimpi Buruk

Mimpi buruk tidak datang untuk ditakuti. Ia datang untuk tinggal. Pada satu titik, aku berhenti terbangun dengan keringat dingin. Aku berhenti terkejut. Tubuhku masih bereaksi, tetapi jiwaku tidak lagi memberi perlawanan. Mimpi buruk itu menjadi sahabat—hadir setia, tidak pernah absen, dan selalu tahu di mana letak kelemahanku. Awalnya aku mengira mimpi buruk adalah gangguan. Sesuatu yang harus disingkirkan agar tidur kembali normal. Namun semakin lama aku menyadari, tidur normal hanyalah mitos yang diciptakan orang-orang yang tidak pernah benar-benar kehilangan. Bagi mereka, tidur adalah istirahat. Bagiku, tidur adalah pertemuan.

Ia tidak lagi menyamar sebagai ketakutan. Ia berubah wujud menjadi ingatan yang berjalan di siang hari. Wajah-wajah yang kukenal muncul tanpa konteks, kata-kata lama kembali tanpa izin. Tidak ada kejar-kejaran, tidak ada monster. Yang ada hanya kenyataan yang diputar ulang dengan sudut pandang paling kejam, tanpa musik latar, tanpa sensor. Aku mulai memahami satu hal: mimpi buruk tidak ingin membunuhku. Ia ingin aku mengingat. Ia ingin memastikan bahwa tidak ada satu pun kegagalan yang benar-benar kulupakan. Ia mengorek bagian yang sudah kukubur rapi, lalu menaruhnya kembali di hadapanku seperti bangkai yang dipaksa dikenali.

Setiap malam, urutannya hampir sama. Kesunyian datang lebih dulu. Lalu suara kecil di kepala yang menanyakan hal-hal sepele. Setelah itu, ingatan mulai menyusun dirinya sendiri, rapi seperti arsip. Aku tidak bisa menghentikannya. Aku hanya bisa menyaksikan diriku sendiri diputar ulang. Kami menjadi akrab. Setiap malam ia datang, bersandar di tepi kesadaranku, dan mengulang pertanyaan yang sama: masih sanggupkah kau berpura-pura? Aku tidak pernah menjawab. Diam adalah bentuk kejujuran terakhir yang kumiliki. Menjawab berarti memberi harapan, dan harapan sudah lama aku singkirkan. Sahabat tidak selalu menghibur. Ada yang justru menelanjangi. Mimpi buruk menelanjangiku sampai ke niat paling dasar—ketakutan untuk gagal, keinginan untuk diterima, dan rasa iri yang tidak pernah mau kuakui. Ia menunjukkan semuanya tanpa belas kasihan, seolah berkata bahwa tidak ada lagi yang perlu disembunyikan.

Lihat selengkapnya