Rasa iba adalah penyakit yang diwariskan secara diam-diam. Ia diajarkan sejak kecil sebagai kebajikan, padahal lebih sering berfungsi sebagai topeng agar manusia terlihat layak dipuji. Aku membantainya perlahan. Bukan dengan kemarahan, melainkan dengan ketekunan. Setiap kali iba mencoba muncul—seperti refleks yang ingin menolong—aku menekannya kembali ke dasar dada, memaksanya mati tanpa upacara.
Aku belajar bahwa iba jarang tulus. Ia muncul ketika jarak aman terjaga. Selama penderitaan orang lain tidak menyentuh kepentingan, iba terasa murah dan ringan. Begitu jarak itu menyempit, iba berubah menjadi beban. Manusia lalu mencari alasan untuk mundur, menyebutnya batas pribadi, menyebutnya kewarasan. Aku muak dengan mekanisme itu. Maka aku berhenti berpartisipasi.
Membantai rasa iba berarti menolak menjadi saksi yang pura-pura peduli. Aku tidak lagi mengangguk saat mendengar kisah jatuh orang lain. Aku tidak lagi merespons dengan kalimat yang dipoles agar terdengar manusiawi. Aku membiarkan keheningan bekerja. Keheningan jauh lebih jujur daripada empati instan yang habis begitu percakapan selesai. Di jalan-jalan yang kulewati, penderitaan berjalan tanpa sepatu. Ia menempel di tembok, mengendap di selokan, dan tidur di halte tanpa mimpi. Aku melihatnya setiap hari. Dahulu, pemandangan itu menggerogoti tidurku. Kini tidak lagi. Bukan karena aku kuat, tetapi karena aku memilih tumpul. Ketumpulan adalah bentuk adaptasi paling efisien di dunia yang menuntut kita terus bereaksi.
Rasa iba membuat manusia ingin menyelamatkan. Padahal tidak semua ingin diselamatkan. Tidak semua luka ingin diobati. Ada luka yang hanya ingin dibiarkan membusuk sampai habis. Aku menghormati pilihan itu. Aku menghormati kebusukan yang jujur. Maka aku berhenti mengulurkan tangan yang sejak awal tidak benar-benar siap.