Berdiam Dalam Gelap

Davie Al-Fattah
Chapter #6

Merayakan Penderitaan

Penderitaan tidak selalu datang sebagai musibah. Kadang ia hadir sebagai kebiasaan yang dipelihara, dirawat, dan akhirnya dirayakan. Aku belajar itu setelah berhenti berharap pada apa pun. Ketika harapan mati, penderitaan kehilangan lawannya. Ia tidak lagi berfungsi sebagai cobaan, melainkan sebagai keadaan dasar. Seperti udara yang dihirup tanpa dipertanyakan.

Merayakan penderitaan bukan berarti tertawa di atas luka. Ia lebih menyerupai pengakuan dingin bahwa rasa sakit adalah satu-satunya hal yang konsisten. Kegembiraan datang dan pergi, sementara penderitaan menetap. Ia setia. Ia tidak menuntut optimisme. Ia tidak memintaku percaya. Ia hanya hadir, menekan, dan memastikan aku tidak lupa tempatku.

Di pagi hari, tubuh ini bangun dengan beban yang sama. Tidak lebih ringan, tidak lebih berat. Stabilitas yang kejam. Aku menyiapkan hari tanpa rencana, karena rencana hanya memperpanjang daftar kegagalan. Aku bergerak seperlunya, berbicara secukupnya, dan menghindari kata-kata yang bisa memicu simpati. Simpati mengganggu. Ia merusak keteraturan penderitaan.

Aku menemukan ritus kecil untuk merayakannya. Diam yang dipanjangkan. Tatapan yang tidak dibalas. Keputusan untuk tidak menjelaskan diri. Setiap penolakan kecil adalah persembahan. Setiap jarak yang dijaga adalah perayaan. Dunia menyebutnya isolasi. Aku menyebutnya tata cara.

Penderitaan mengajarkanku nilai efisiensi. Ia memotong yang tidak perlu. Persahabatan yang rapuh, percakapan yang berputar, janji yang mudah patah—semuanya gugur. Yang tersisa hanyalah inti: bangun, bekerja, kembali, tidur. Siklus ini tidak memberi makna, dan justru itu yang membuatnya bisa diandalkan.

Lihat selengkapnya