Kematian tidak mengetuk pintu. Ia sudah berada di dalam sejak lama, duduk tenang di sudut tubuh yang masih bernapas. Ia tidak datang untuk menghentikan hidup, melainkan mengambil alihnya—pelan, rapi, tanpa bekas perlawanan. Aku tidak mati; aku digerakkan. Aku tidak hidup; aku dioperasikan. Sejak itu, setiap langkah bukan lagi keputusan, melainkan kelanjutan dari sesuatu yang telah mengambil alih namaku. Kematian yang berjalan tidak menakutkan karena bentuknya. Ia menakutkan karena ketenangannya. Ia tidak mengancam. Ia tidak tergesa. Ia tidak membutuhkan darah untuk membuktikan kehadirannya. Ia hanya mengikis, pelan dan pasti, sampai semua yang bernama reaksi berubah menjadi refleks kosong.
Aku menjalani hari layaknya kendaraan. Tubuh ini adalah lorong. Orang-orang berbicara, menuntut respons, menunggu tanda-tanda kehidupan. Aku memberikannya secukupnya. Senyum yang singkat. Anggukan yang aman. Kematian yang berjalan mengajarkanku ekonomi gerak—jangan buang energi pada hal yang tidak mengubah hasil. Di cermin, bayangan tidak lagi menatap balik. Ia berdiri seperti foto lama yang lupa konteks. Mata terbuka, tetapi tidak sedang melihat. Kulit memantulkan cahaya, tetapi tidak menyimpan kehangatan. Aku mempelajarinya tanpa panik. Kepanikan adalah reaksi orang hidup yang masih mengira ada yang bisa diselamatkan. Kematian ini juga bekerja di bahasa. Kata-kata kehilangan bobot. Janji terdengar seperti gema dari ruangan kosong. Doa menjadi prosedur, bukan harapan. Aku mengucapkannya karena terbiasa, bukan karena percaya. Kepercayaan adalah kontrak yang sudah lama berakhir.
Di tengah keramaian, aku adalah bayangan yang taat. Tidak menabrak, tidak menonjol, tidak mengganggu. Kematian yang berjalan menyukai kepatuhan. Ia membenci drama. Drama mengundang perhatian, dan perhatian membuka peluang bagi ilusi baru. Ilusi adalah musuh disiplin.
Malam hari tidak membawa ketakutan. Ia membawa pengulangan. Suara kota mereda, tetapi di dalam kepala, langkah-langkah tetap terdengar. Satu demi satu. Tidak ada arah. Tidak ada tujuan. Hanya kontinuitas. Itulah cara kematian memastikan keberadaannya: dengan konsisten. Aku belajar bahwa orang-orang takut pada kematian karena mereka mengaitkannya dengan akhir. Kematian yang berjalan tidak memberi akhir. Ia memberi durasi. Durasi yang memanjang tanpa janji penutupan. Dalam durasi ini, rasa bersalah, penyesalan, dan nostalgia tidak lagi menggigit. Mereka tumpul. Mereka kehilangan gigi.