Dingin datang lebih dulu daripada pikiran. Ia menempel di kulit, merambat ke tulang, lalu menetap di ruang yang biasanya dihuni oleh harapan. Aku menyadari sesuatu yang sederhana dan menakutkan: tidak ada yang sedang menungguku, dan aku tidak sedang menunggu apa pun. Waktu berjalan tanpa janji. Hari-hari bergerak tanpa alamat. Di titik itu, dunia menjadi datar—bukan karena tenang, melainkan karena semua kemungkinan telah ditarik kembali.
Ketika tidak ada yang ditunggu, ketakutan berubah bentuk. Ia tidak lagi berlari, tidak berteriak, tidak menuntut. Ia duduk. Diam. Menatap. Ketakutan yang menetap adalah jenis yang paling kejam; ia tidak menguras tenaga, ia menguras makna. Aku berjalan melewati jam-jam dengan tubuh yang patuh, sementara di dalam, sesuatu mengunci pintu dari dalam dan membuang kuncinya.
Aku belajar hidup tanpa tanda. Tidak ada kalender yang perlu ditandai, tidak ada peristiwa yang harus disiapkan. Semua tanggal sama, semua pagi setara. Kesetaraan ini bukan keadilan; ini penghapusan. Tanpa puncak dan tanpa jurang, hidup menjadi koridor panjang yang tidak berujung. Setiap langkah terdengar sama. Setiap napas terasa berlebihan.
Orang-orang menyebut penantian sebagai sumber harapan. Mereka keliru. Penantian juga sumber penderitaan. Ketika penantian dihapus, penderitaan tidak hilang—ia justru mengeras. Ia menjadi latar permanen. Aku tidak lagi terluka oleh keterlambatan, karena tidak ada kedatangan yang diharapkan. Aku tidak kecewa oleh pembatalan, karena tidak ada janji yang dibuat.
Di ruang publik, aku menyaksikan manusia menawar masa depan dengan kata-kata. Aku mendengarkan tanpa ikut serta. Kata-kata itu berkilau sebentar, lalu jatuh. Aku tidak memungutnya. Mengumpulkan harapan orang lain adalah pekerjaan berbahaya; ia menular. Aku memilih steril. Aku memilih jarak.
Ketika malam tiba, ketakutan tidak menghilang. Ia menjadi lebih rapi. Tidak ada mimpi yang perlu ditafsirkan, tidak ada simbol yang menuntut makna. Tidur hanyalah pemadaman sementara. Bangun hanyalah penyalaan kembali. Siklus ini tidak menyembuhkan apa pun, tetapi ia stabil. Stabilitas adalah mata uang terakhir bagi mereka yang kehabisan alasan.
Aku mendapati diriku menghitung hal-hal yang tidak penting: langkah menuju pintu, detik lampu menyala, bunyi jam yang tidak berniat mengingatkan apa pun. Detail-detail kecil ini menjadi jangkar. Bukan agar aku tetap hidup, tetapi agar aku tidak terseret oleh kekosongan yang terlalu luas. Ketakutan pada kehampaan bukan ketakutan pada mati; ia ketakutan pada tanpa-bentuk.
Tidak ada yang ditunggu berarti tidak ada yang perlu dipersiapkan. Aku berhenti memperbaiki diri. Perbaikan membutuhkan tujuan. Aku berhenti menjelaskan pilihan. Penjelasan membutuhkan pendengar. Aku berhenti menyesali kegagalan. Penyesalan membutuhkan standar. Tanpa standar, tanpa tujuan, tanpa pendengar—yang tersisa hanyalah keberlangsungan.