Berdiam Dalam Gelap

Davie Al-Fattah
Chapter #9

Kehidupan Setelah Makna

Makna runtuh tanpa suara. Tidak ada ledakan, tidak ada pengumuman. Ia pergi seperti lampu yang dimatikan dari ruangan lain—aku baru menyadarinya setelah gelap menetap. Sejak itu, hidup tidak lagi membutuhkan alasan. Ia berjalan sendiri, seperti mesin yang lupa siapa penciptanya. Aku ikut bergerak, bukan karena ingin, melainkan karena gerak adalah sisa kebiasaan yang paling keras kepala.

Kemarahan datang terlambat. Ia menyusul kehampaan yang sudah lebih dulu menguasai ruang. Marahku tidak mencari sasaran; ia berputar, memantul, lalu kembali ke dada seperti gema yang menolak keluar. Tidak ada yang bisa disalahkan secara tuntas. Dunia tidak bersalah. Manusia tidak cukup jahat untuk layak dituduh sepenuhnya. Maka marah menjadi hampa, dan hampa menjadi pekat.

Kehidupan setelah makna tidak meminta keyakinan. Ia hanya menuntut kepatuhan pada jam.

Pagi datang, malam pergi, dan di antaranya tubuh menjalankan prosedur. Aku mengerjakannya dengan presisi yang dingin. Tanpa makna, kesalahan tidak terasa tragis. Tanpa makna, keberhasilan tidak terasa pantas dirayakan. Keduanya setara—tidak penting. Aku merasakan amarah seperti panas yang terkurung di ruang tanpa ventilasi. Ia tidak membakar; ia mengeringkan. Ia menguapkan sisa-sisa empati yang belum sempat mati. Setiap percakapan terasa seperti gesekan yang tidak perlu. Setiap tuntutan terdengar seperti gangguan. Aku tidak ingin mengerti. Mengerti adalah pintu masuk bagi pembenaran, dan pembenaran menghidupkan kembali makna.

Hampa bukan kekosongan. Hampa adalah kepadatan yang tidak bisa disentuh. Ia menekan dari segala arah tanpa memberi arah. Dalam tekanan ini, pilihan kehilangan adalah bobotnya. Aku memilih atau tidak memilih dengan konsekuensi yang sama. Dunia tetap berlanjut, dan itu adalah penghinaan paling konsisten. Ada saat-saat ketika ingatan mencoba menawarkan cerita lama. Aku memotongnya. Cerita membutuhkan awal dan akhir. Aku tidak memiliki keduanya. Yang ada hanyalah tengah yang memanjang. Tengah yang tidak menuju apa pun. Tengah yang memakan semua upaya untuk keluar.

Lihat selengkapnya