Sarma bangun, menyibakkan selimut lalu pergi ke kamar mandi yang berada di dalam kamar, Janu suaminya masih tertidur di ranjang. Pagi itu seperti biasa Sarma pergi bekerja, sudah lima belas tahun terakhir dia bekerja sebagai Pegawai Negeri Sipil di salah satu instansi d sebuah daerah di pulau Sumatra.
Sarma menjalankan aktivitasnya seperi biasa, mengoreksi beberapa berkas keuangan dan pengadaan, dia memiliki jabatan yang lumayan dengan pangkat Penata dan golongan ruang III.d. Tak lama Reka temannya mengajak makan siang, Sarma beranjak dari mejanya dan meninggalkan ruang kerjanya.
"Aku harus dinas ke luar kota besok" Sarma membuka pembicaraan
"Ooh, kemana?" Reka bertanya setelah menyeruput teh tawar hangat
"Jogya, sama Ala" Reka menyuap ayam bakar lalu bertanya
"Emang, Suami kamu ngasih?" Sarma mengangguk "Barusan aku WA"
Sarma dan Reka melahap habis makan siangnya, sambil curhat tipis-tipis masalah rumah tangga masing-masing, Sarma dan masalah rumah tangga yang tiada habisnya.
"Suami ku ingin aku segera naik pangkat, padahal kan kalo udah golongan empat potongan pajak penghasilannya juga besar, katanya biar aku cepat jadi pejabat, padahal aku gak tertarik punya jabatan" Reka tersenyum mendengar curhat Sarma.
"Kalau memang sudah saatnya punya jabatan ya kenapa enggak Ma ?" Sarma mendelikan matanya.
"Aku punya rencana lain"
"Apa ??" Reka penasaran
Sarma cuma tersenyum, dia punya prinsip untuk tidak dulu menceritakan sebuah rencana sebelum hal tersebut terlaksana
Sarma memarkirkan motornya di belakang rumah, dilihatnya Janu sedang membetulkan handphonenya yang rusak di teras belakang,
"Anjing, hp ini rusak terus"
Sarma hanya menarik nafas mencoba tenang, dia terus membiasakan diri mendengar ocehan suaminya, walaupun sudah sepuluh tahun berumah tangga Sarma belum mampu menerima keadaan suaminya yang sering marah-marah. Sarma hanya diam dan masuk rumah lewat dapur. Rumah mereka kecil, rumah yang dibangun dari hasil "menyekolahkan" SK PNS Sarma ke Bank daerah.
Janu mengikuti Sarma masuk ke rumah dengan terus mengomel sambil membanting handphonenya ke sofa, Sarma berbalik, menatap Janu, Janu menatapnya penuh amarah.
"Kamu yang kemarin nyuruh aku membeli merk hp itu" Sarma hanya diam, mencoba menahan amarah lalu masuk kamar
"Aku kan sudah bilang beli yang merek satunya, ngeyel !!" Janu makin meninggikan suaranya sambil duduk di ruang tamu.
Sarma duduk di meja rias sambil terus mendengar ocehan suaminya dari luar, Sarma harusnya sudah terbiasa dengan kondisi ini, menghadapi Janu dengan emosi yang meledak-ledak, walaupun sudah sepuluh tahun bersama tapi Sarma belum bisa memprediksi kapan saat Janu akan marah atau malah biasa saja.
Dari luar terdengar Janu membentur-benturkan handphonenya ke dinding, Sarma keluar kamar melewati Janu lalu pergi ke dapur mengambil handuk, Janu masih memukul-mukul handphonenya yang rusak, entah apa yang rusak, Sarma sudah malas bertanya. Sarma kembali ke ruang tamu menemui Janu, Janu menatapnya benci.