Berhenti

Wara Cempaka
Chapter #2

Yogja

Sarma dan Ala sedang mengikuti bimtek mengenai pengadaan barang dan jasa di sebuah hotel, Jogya hari ini cerah, Sarma tak sabar ingin jalan-jalan, berkali-kali dia melihat ke sekeliling, banyak pegawai dari daerah lain yang juga sudah tidak konsentrasi mengikuti acara. Walaupun kegiatan ini penting namun kadang juga menjadi kesempatan bagi para pegawai yang mengikuti untuk jalan-jalan atau liburan singkat ke luar daerah.

"Kak, kita kemana habis ini?" tanya Ala tanpa menoleh

"Aku lagi searching tempat-tempat nongkrong baru di sekitar kota aja, bosen kalau ke daerah Malioboro terus, lagian juga kita selesainya sore," Sarma menjelaskan sambil main hp, sesekali matanya menuju ke widyaiswara yang sedang menjelaskan pemaparannya.

Sarma dan Ala bergegas pergi keluar hotel, masih menggunakan baju batik tadi pagi mereka pergia ke Kim's Bar, sebuah kafe bernuansa Bali, lama mereka ngobrol tentang pekerjaan, cerita kehidupan, dan update informasi dunia selebriti. Ala sepuluh tahun lebih muda dari Sarma, umurnya belum menginjak 30 tapi Ala sudah memiliki seorang putri.

Sarma mempersilahkam saat juniornya ini izin mengangkat telepon dari putrinya Keli. Sarma hanya bermain hp saat Ala beranjak pergi, tak berapa lama seorang pria menghampirinya, Sarma tersenyum saat pria itu mengatakan mengenali Sarma dari nametag bimtek yang ternyata masih ia kenakan.

"Maaf mengganggu, Saya Tony dari Kabupaten Batu Bara, boleh pinjam charger ?,hp saya mati, punya saya ketinggalan di hotel," ucapnya ragu-ragu

"Ohh boleh-boleh. ini bang, kita sama-sama dari Sumatera" Tony menganggguk

"Bang Tony sendiri saja?" Tony tersenyum , dia yang tadinya ingin kembali ke mejanya terhenti, dan mengisi daya handphonenya di meja Sarma.

"Mau ketemu sama teman, kalian berdua saja?" Tony bertanya saat Ala sudah kembali ke meja mereka, Sarma mengangguk mempersilahkan Tony bergabung ke meja mereka.

"Teman ku kerja di Pemprov Yogja, aku ingin lebih banyak tahu tentang kinerja pemerintahan di sini, terutama dalam hal pengadaan barjasnya" Sarma terkesima, seserius ini kah seorang PNS sampai ingin melakukan study tiru sendirian.

"Waw, Abang Tony pasti Kepala sub bagian keuangan atau kerja di bagian barang dan jasa ya?" tanya Ala sambil menyeruput kopi

"Bukan, aku sebenarnya fungsional perencana di sekretariat Dinas Tenaga kerja tapi baru-baru ini kasubag keuangan kami dipindahkan, lalu aku harus menggantikannya menjadi pelaksana tugas" Tony menjelaskan

"Sepertinya menikmati tugas baru jadi kasubag ya?, padahal saat ini banyak PNS yang mau jadi fungsional, termasuk aku" Tony dan Ala memandang Sarma.

"Ohh iya kak? padahal kakak sebentar lagi mungkin jadi Kepala Bidang?" tanya Ala kebingungan.

Sarma tersenyum, "Aku sebenarnya belum tertarik memegang jabatan" jelas Sarma singkat. Ala mengamini.

"Mmm, jabatan itu bagi sebagian PNS adalah kebanggan, aku sebenarnya bangga dengan jabatan fungsional ku tapi keadaan di daerah membuat kami menjadi berlomba-lomba memegang jabatan, PNS berprestasi, masih muda tapi golongan pangkat sudah tinggi lalu jadi pejabat" ungkap Tony sambil terus mengecek handphonenya yang sudah menyala.

Sarma seketika teringat dengan keinginanya untuk berhenti menjadi PNS, dirinya yang sudah muak dengan pekerjaan dan ingin berhenti, saat ini berhadapan dengan seseorang yang berbanding terbalik dengannya.

"Kalau aku ikut arus aja, sekarang masih golongan IIIb. seorang fungsional umum dan bisa kapan saja dipindahkan atau dikasih tanggung jawab tertentu" Ala kembali bicara sambil memotong mie yang ada di piringnya.

"Jangan terlena, apalagi maih muda kalau bisa sekolah lagi sampai S2 sehingga lebih banyak peluang" Tony terus terlihat antusias membuat Sarma menjadi bimbang dengan keinginannya untuk berhenti.


"Kak, semangat betul yang Bang Tony itu, jabatan terus yang dibicarakannya?" tanya Ala yang membuat Sarma tertawa kecil.

"Kadang bagi kita yang kurang ambis, sikaap orang yang seperti itu menggelikan, tapi bagi orang-orang yang mungkin cenderung ke ambisius mengejar karir di pemerintahan, itu adalah kebanggan" Sarma menatap ke luar jendela mobil taksi online yang mereka tumpangi.

Lihat selengkapnya